Agroekologi dan Implementasi Sains Petani Kecil | Villagerspost.com

Agroekologi dan Implementasi Sains Petani Kecil

Iklan pestisida bertebaran tanpa kendali membuat petani terpancing menggunakan pestisida secara tidak terkendali pula yang justru memicu ledakan wereng (dok. klinik tanaman ipb)

Oleh: Azwar Hadi Nasution, Pegiat Institut Agroekologi Indonesia dan Peserta Diskusi Pangan di KRKP

Perbincangan agroekologi sebagai pilihan sistem pertanian masa depan sudah final. Simposium, seminar, kongres dan workshop agroekologi sudah diselenggarakan di berbagai negara di Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Simposium internasional terbaru nan bonafid adalah simposium agroekologi yang diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) tanggal 18-19 September 2014 di Roma, Italia.

Simposium tersebut merupakan saintifik simposium yang dihadiri oleh 400 orang dari 61 negara. Deputi Direktur Jendral FAO sendiri sudah mengakui agroekologi sebagai basis untuk menjamin kesehatan ekosistem dan basis bagi produksi pangan. Pendekatan agroekologi berkontribusi dan mendukung sistem pangan yang berkelanjutan.

Simposium agroekologi menunjukan bukti bahwa agroekologi jauh lebih unggul dibandingkan dengan pertanian konvensional. Pertama, agroekologi memperoleh kualitas dan kuantitas produksi yang lebih tinggi. Hal ini senada dengan hasil temuan Lily (2015) bahwa sistem agroekologi memiliki produksi lebih tinggi 35% dibandingkan dengan sistem konvensional.

Kedua, agroekologi mengimplementasikan dan meng-introdusir kompleksitas biologis yang hilang akibat penggunaan kimia. Praktik monokultur yang syarat dengan pengabaian proses metabolisme alam kembali dipulihkan di dalam sistem agroekologi.

Ketiga, sistem agroekologi dapat langsung diukur secara saintifik oleh petani dan keluarga tani melalui pendekatan pengetahuan lokal dan pengamatan keseharian di lahan. Praktik-praktik budidaya petani dapat diukur langsung oleh petani. Ukuran saintifik dielaborasi sehingga dapat diukur sendiri oleh petani.

Keempat, agroekologi lebih efesien dalam neraca hara sebab sistem yang dibangun dalam agroekologi adalah sistem tertutup, menyelenggarakan proses ekologis dan ekosistem sehat, mengurangi limbah dan polusi mulai dari lahan sampai kawasan. Sistem pertanian konvensional yang terbuka dan penuh dengan input dari luar ditutup dan sisa tanaman bukan menjadi limbah tapi dikembalikan ke lahan menjadi kompos, sehingga lebih efisien secara ekonomi juga.

Kelima, sistem agroekologi sesuai untuk petani muda karena tidak menolak pengetahuan dan teknologi. Bertani secara agrokologi bukan pertanian mistis yang tidak mampu telusur, tapi saintifiknya dapat dikerjakan oleh siapapun. Lahan-lahan ekologis di Eropa dan Amerika banyak dikerjakan oleh anak muda dari sistem budidaya sampai sistem pemasaran.

Keenam, menjawab tantangan perubahan iklim. Agroekologi lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan agroekologi menghendaki sistem tertutup yang justru antitesa dari pemicu perubahan iklim.

Ketujuh, menghendaki kesehatan tanah dan mendorong aktivitas dan proses biologi di dalam tanah. Kedelapan, pengendalian hama melalui optimalisasi interaksi biologi dan pengendalian hama terpadu.

Sains Petani Kecil

Ilmu pengetahuan selama ini seolah terasing dan terpisah dari petani. Petani selalu menjadi objek penderita dalam ilmu pengetahuan (hanya tukang beli produk ilmu pengetahuan bukan pelaku). Ilmu pertanian yang dibahas di bangku perguruan tinggi jauh dari keterlibatan petani. Sehingga ketika suatu temuan pengetahuan dihasilkan dibutuhkan berkali-kali diseminasi untuk dapat disebar dan diterima oleh petani.

Sebut saja perkembangan bioteknologi pertanian. Betapa susahnya pupuk hayati dapat diterima petani, selain sebagai sumber pengeluaran baru bagi petani karena harus membelinya, petani juga masih bingung dengan khasiatnya. Betapa jauhnya meja kuliah dari realitas dan kebutuhan petani.

Tapi tidak dengan agroekologi. Ukuran sains dalam agroekologi adalah keragaman, kesehatan tanah dan tanaman serta produktivitas lahan itu sendiri. Keragaman diukur dari keragaman benih, keragaman ilmu pengetahuan dan keragaman tanaman yang ada dalam area lahan.

Semakin tinggi keragaman maka nilainya semakin besar dan dapat diindikasikan proses eksositem berjalan dengan baik sehingga tanaman lebih sehat. Ukuran kesehatan tanah adalah kompos dan tutupan lahan. Semakin tinggi kompos yang diberikan dan lahan tidak dibiarkan terbuka maka semakin sehat tanah dan semakin mudah mengolahnya kompos dan tutupan lahan.

Semakin tinggi kompos yang diberikan dan lahan tidak dibiarkan terbuka maka semakin sehat tanah dan semakin mudah mengolahnya. Kompos juga pemacu tingginya keanekaragaman hayati tanah. Hal lain adalah intensitas pengolahan tanah dan tenaga kerja, semakin sering diolah maka nilainya bagi petani semakin kecil dan semakin tidak efisien karena kebutuhan tenaga kerjanya semakin banyak.

Kesehatan tanaman diukur dari intensitas serangan hama dan penyakit serta cara pengendaliannya. Semakin tinggi musuh alami dan semakin intensif pengendalian hama terpadu maka semakin tinggi nilai kesehatan tanaman dan semakin rendah intensitas serangan hama dan penyakit. Lalu, petani dibekali apa untuk menjawab tiga hal diatas?

Petani dalam kesehariannya seharusnya ditemu-kenali kembali dengan pembuatan kompos yang diperkaya mikroorganisme lokal untuk perbaikan kualitas tanah, dibekali ilmu pemuliaan tanaman untuk menjamin sumber benih dan keragaman varietas serta adaptasi benih terhadap ekosistem setempat, dibekali ilmu pengendalian hama terpadu untuk menjamin kekuatan tanaman dan sistem penanggalan pertanian dan iklim untuk menghadapi perubahan iklim.

Bekal ilmu tersebut bukanlah hal yang rumit dan membutuhkan sumberdaya manusia yang banyak. Tapi memang membutuhkan kesadaran dan energi yang banyak untuk telaten dan sabar membangun basis sains pertanian bersama petani.

Peran perguruan tinggi sangatlah dibutuhkan. Betapa indahnya masa depan ilmu pertanian di Indonesia ini bila para ilmuwan duduk bersama membentuk peer group untuk agroekologi. Bukankah Bung Karno pernah berkata persoalan pangan adalah persoalan hidup atau mati. Tentu kita tidaklah terlalu naif jika menafsirkan pernyataan tersebut menjadi persoalan petani sebagai penghasil pangan adalah persoalan hidup atau mati.

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *