Agroekologi dan Masa Depan Pertanian | Villagerspost.com

Agroekologi dan Masa Depan Pertanian

Ibu-ibu petani Dusun Puragi, Papua Barat memberikan pupuk dasar organik di lahannya (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Oleh: Azwar Hadi Nasution, Pegiat Agroekologi Indonesia dan Peserta Diskusi Pangan di KRKP

Sistem pertanian konvensional semakin disoroti oleh ahli pertanian kritis. Pertanian yang ditandai dengan sistem monokultur, padat pupuk kimia dan intensif pestisida justru menyebabkan soal baru di pertanian. Hasil penelitian Miguel Altieri (2014), seorang Profesor Pertanian di Berckley University menyebutkan bahwa monokultur menjadi penyebab utama putusnya sistem rantai makanan di suatu lahan.

Alhasil, ada beberapa mikro, meso dan makroorganisme yang hilang sehingga proses metabolisme alam terganggu, bahkan yang lebih ekstrem adalah berhentinya sistem ekologi sehingga semakin membutuhkan asupan dari luar seperti pupuk dan pestisida.

Penggunaan pestisida yang awalnya adalah obat bagi pertanian berubah menjadi racun berkelanjutan. Clara Nicholls dalam buku Agroecology and the Search for a Truly Sustainable Agriculture (2005) menyatakan bahwa penggunaan pestisida merupakan penyebab utama terjadinya ledakan hama dan hilangnya benefecial organism (organisme yang menguntungkan, musuh alami dan penangkan unsur yang dibutuhkan tanaman).

Semakin instensif penggunaan pestisida maka hama akan semakin kebal terhadap pestisida, sehingga dosis yang diuji cobakan semakin tinggi. Berdasarkan kajian Dwi (2014) peningkatan penggunaan pupuk urea sebesar 80,8%, TSP/SP36 sebesar 302%, ZA/AS sebesar 371%, NPK sebesar 8.220 % hanya meningkatkan produksi padi dari 17,4% bahkan di beberapa tempat terjadi levelling off.

Begitu juga dengan ledakan hama bisa menyerang sampai 35 % lahan pertanian. Sistem pertanian konvensional hanya menjadi penyebab alam semakin teracuni, tanaman semakin sakit dan pangan semakin jauh dari sehat.

Nasib Petani Gurem

Lahan yang luas menjadi prasyarat utama bagi petani malah semakin menyempit. Lahan pertanian pangan yang menghidupi 91,91 juta jiwa hanya bertambah 2,96 % sedangkan lahan perkebunan yang dimiliki sedikit orang bertambah 144 %. Penurunan RT Pertanian dari 31,170 juta (2003) menjadi 26,126 juta (2013) sudah mencerminkan kekhawatiran dengan hilangnya 5 juta Rumah tangga pertanian.

Kondisi luas lahan yang dimiliki petani juga belum beranjak dari luas 0,2 hektare per Rumah Tangga Petani. Luas lahan petani berkisar di angka 1.000-2.009 m2 (ST 2013) bahkan masih sering ditemui petani dengan luas lahan 500 m2. Apabila diproyeksikan dengan hasil penelitian Mendez Ferdias (2012) yang menyatakan untuk hidup layak setiap orang petani harus mempunyai lahan minimal 0,5 ha, maka dapat dipastikan 50% petani berada dalam kondisi tidak hidup layak.

Hal ini senada dengan pernyataan Prof. Dr. Naik Sinukaban (Ahli Ilmu Tanah IPB), ia berpendapat dengan luasan 500 m2 setiap rumah tangga petani hanya berada pada fase kebutuhan fisik minimum. Kebutuhan fisik minimum untuk mencukupi kebutuhan pangan, pakaian dan tempat tinggal. Sementara jaminan kesehatan, biaya pendidikan sudah tidak sanggup ditanggung apalagi untuk membuat tabungan keluarga dan asuransi.

Prasyarat menuju krisis pangan dan lahan pertanian sudah didepan mata yakni luas lahan yang sempit, dan lahan cenderung kritis dan levelling off. Tinggal menunggu prasyarat lain berupa dampak harga tidak menentu dan tidak sinkronnya kebijakan pemerintah dengan kebutuhan petani.

Agroekologi dan Sistem Pertanian Masa Depan

Pertanian masa depan adalah pertanian yang mampu membalik keadaan sekarang. Pertanian harus ditopang dengan proses ekologis yang baik, sistem sosial dan budaya setempat, berbasis pengetahuan petani dan menjungkirbalikkan struktur penguasaan tanah. Sistem ini disebut sistem agroekologi.

Agroekologi adalah sebuah pendekatan pertanian yang dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip ekologi; metabolisme alam, sistem sosial, dan budaya; serta pengetahuan lokal. Praktik agroekolgi dapat berbeda satu wilayah dengan wilayah lain, termasuk perbedaan praktek karena perbedaan sosial dan budaya, namun prinsip-prinsip agroekologi tetap harus diterapkan.

Prinsip-prinsip agroekologi adalah menggunakan benih lokal (adapted seed), meningkatkan bahan organik dalam tanah untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, sistem polikultur untuk meningkatkan daya tahan tanaman dan kesehatan tanaman serta menghindari serangan hama dan ledakan hama, perlakuan konservasi tanah untuk menyehatkan tanah dan menghindari terjadinya krisis lahan dan mengelola keragaman hayati di lahan. Prinsip-prinsip agroekologi inilah yang mampu menguatkan kelembagaan petani.

Pengerjaan pertanian harus dikembalikan sebagai pekerjaan gotong royong (komunal). Pengadaan benih, pupuk organik (pupuk utama), lembaga pendidikan petani dan lembaga pemasaran hasil pertanian harus diatur sendiri di tingkat desa. Kaum tani harus bergerak dan bergeser posisi dari objek menjadi subjek pertanian.

Lalu prasyarat tanah yang harus dibagikan kepada petani tidak seharusnya menjadi agenda berdarah dan penuh kepiluan. Pemerintah sudah mulai dengan membagi-bagi sertifikat lahan. Pengakuan lahan memang prasyarat yang utama namun jauh diatas harus terjadi perubahan struktur penguasaan lahan.

Tanah harus didistribusikan kepada petani. Luas lahan petani harus ditambah untuk menyangga pangan nasional, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, menambah Nilai Tukar Petani (NTP) dan menghentikan urbanisasi.

Kaum tani tidak harus berbondong-bondong lagi ke kota mencari penghidupan. Desa harus menjadi basis kekuatan nasional. Konflik lahan harus berhenti dan desa kembali berdaulat, aman, nyaman dan sentosa.

Romantisme struktur penguasaan lahan dapat dipelajari dari kisah sukses “Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra” atau MST di Brasil.  Okupasi lahan oleh masyarakat tak bertanah mampu kembali menghidupkan desa-desa baru yang komunal.

Desa yang terorganisir yang mampu memberikan pangan yang sehat dan jaminan masa depan yang baik bagi anggota komunalnya. Reforma agraria merupakan perwujudan dari terlaksananya pengakuan hak atas pangan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *