Bagaimana Mencapai Pertanian Berkelanjutan? | Villagerspost.com

Bagaimana Mencapai Pertanian Berkelanjutan?

Kepik, serangga yang merupakan musuh alami hama (dok. ica wulansari)

Oleh: Ica Wulansari, Mahasiswa S3 Sosiologi Universitas Padjadjaran yang tengah mengkaji isu Pertanian dan Perubahan Iklim

“There would be no peace for me, if I kept silent.” (Rachel Carson, 1958).

Pernyataan tersebut tertuang dalam buku “Silent Spring” yang ditulis oleh peneliti dan tokoh konservasi, Rachel Carson pada tahun 1958. Dalam buku tersebut tertuang mengenai bahayanya zat DDT (Dichlorodiphenyltrichloroethane) yang merupakan senyawa kimia yang terkandung dalam pestisida.

Isu ini masih relevan dengan kondisi saat ini. Saat ini kita hidup pada era anthropocene atau sederhananya yaitu era dimana kegiatan manusia mendominasi keadaan alam. Artinya penurunan kualitas maupun kerusakan alam disebabkan oleh kegiatan manusia.

Teknologi merupakan hal yang mengagumkan yang dihasilkan manusia untuk dapat mengendalikan alam. Sederhananya, teknologi dapat berbentuk peralatan modern maupun inovasi yang menggunakan senyawa kimia.

Salah satunya pestisida maupun pupuk yang digunakan dalam kegiatan pertanian. Penggunaan teknologi inilah yang kemudian berdampak terhadap kondisi lingkungan hidup dan dapat mempengaruhi kesehatan manusia maupun spesies makhluk hidup lainnya.

Permasalahan Yang Kompleks

Revolusi hijau telah mengubah pertanian tradisional menjadi pertanian berorientasi industri secara struktural. Kesuksesan pembangunan sebuah negara salah satunya dilihat dari persediaan pangan yang cukup. Namun, globalisasi telah menempatkan wacana bagaimana kedaulatan pangan negara-negara menjadi rentan.

Kedaulatan pangan menjadi tergerus akibat adanya organisasi internasional yaitu WTO (World Trade Organization) yang menerapkan perdagangan bebas secara global. Perdagangan bebas inilah yang menimbulkan kesenjangan antara negara-negara maju dan berkembang.

Revolusi Hijau secara sporadis telah diimplementasikan di negara-negara di berbagai belahan dunia. Bagi negara-negara berkembang, petani berlahan kecil ‘dipaksa’ untuk menjadi petani secara modern. Salah satu karakteristik pertanian modern adalah menggunakan aplikasi teknologi baik mesin pertanian atau pun aplikasi pupuk kimia maupun pestisida.

Negara-negara berkembang seperti Indonesia didominasi oleh petani dengan lahan kecil. Maka, kelompok petani dengan lahan kecil di negara-negara berkembang inilah yang kemudian menghadapi dampak akibat struktur global.

Salah satunya dampaknya adalah minimnya akses petani terhadap sarana pendukung dan ketidakberdayaan petani dalam menentukan harga. Karena penentuan harga mengikuti mekanisme pasar yang tidak memberikan keuntungan yang sepada bagi petani.

Berdasarkan data BPS tahun 2017, tenaga kerja di bidang pertanian merupakan tenaga kerja tertinggi di Indonesia mencapai 39.678.453 jiwa. Sedangkan hasil Sensus Pertanian tahun 2013 mengenai sosial ekonomi pertanian didominasi oleh kelompok petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,50 hektare) yang berjumlah 14.248.864 rumah tangga.

Pertanian Berkelanjutan

Keadaan yang telah disebutkan di atas memperlihatkan bahwa sektor pertanian menghadapi komplikasi hambatan untuk mencapai pertanian berkelanjutan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO-Food and Agriculture Organization) pada tahun 2016 dalam laporan berjudul “The State of Food and Agriculture” menyebutkan pentingnya pertanian berkelanjutan untuk memperbaiki keamanan pangan maupun menghadapi perubahan iklim.

Praktik baik yang menunjang petani dengan kepemilikan lahan kecil menurut FAO adalah penggunaan nitrogen dalam pupuk urea secara efisien dan menggunakan varietas yang toleran terhadap kekeringan, dan upaya mendukung kesuburan lahan. Sedangkan pertanian berkelanjutan menurut FAO membutuhkan dukungan untuk petani terhadap mekanisme penentuan harga, akses terhadap pasar, akses informasi cuaca, dan jaminan perlindungan sosial bagi petani.

Kendala sektor pertanian untuk mencapai pertanian berkelanjutan. Pertama, kepentingan ekonomi dalam agenda pembangunan dimana sektor pertanian mendukung kesejahteraan manusia dalam hal pangan. Namun, seringkali perspektif pembangunan memandang pertanian sebagai industri. Padahal sesungguhnya pertanian sangat bergantung pada jasa ekosistem seperti air, iklim, curah hujan, angin dan temperatur.

Apalagi terjadinya perubahan iklim menimbulkan ketidakpastian akan iklim ekstrem yang mengakibatkan kekeringan maupun banjir yang kemudian berdampak terhadap menurunnya hasil pertanian baik puso maupun gagal panen. Maka, perlakuan sektor pertanian tidak dapat disamakan menjadi perlakuan industri. Namun, untuk mencapai target pembangunan, maka sektor pertanian digenjot untuk memenuhi target stok pangan atau stok beras.

Maka, permasalahan kompleks adalah tekanan ekonomi petani secara individu untuk menstabilkan pendapatannya maupun tekanan struktur yang mendorong petani melakukan segala cara untuk melindungi tanaman padinya. Termasuk menggunakan pestisida apabila muncul hama dan penyakit untuk mencegah puso maupun gagal panen, sehingga, pertanian berkelanjutan menghadapi dilema isu lingkungan seperti konservasi terhadap lingkungan hidup. Penggunaan pestisida berdampak terhadap menurunnya populasi spesies makhluk hidup maupun organisma yang memberikan manfaat untuk lingkungan.

Pada titik inilah, kolaborasi dibutuhkan antara ilmuwan dan pemerintah untuk menghasilkan inovasi maupun terobosan yang mampu mendukung kebutuhan petani untuk mencapai pertanian berkelanjutan yang mendukung kelestarian lingkungan hidup dan mendukung kesejahteraan ekonomi petani. Memahami kendala di ladang sawah, tentu petani yang unggul dibandingkan pihak-pihak lainnya, maka perlu bagi ilmuwan dan pemerintah untuk ‘turun gunung’ untuk memahami kendala yang ada.

Namun, pemangku kebijakan dalam hal ini adalah pemerintah yang memiliki peran besar dalam mendukung arah sektor pertanian ke depan. Semoga pertanian Indonesia mencapai pertanian berkelanjutan, eksosistem sawah terpelihara, petani sejahtera, dan pangan sehat untuk Indonesia. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *