Gempa Nepal: Pengalaman Paling Menakutkan dalam Hidup Saya | Villagerspost.com

Gempa Nepal: Pengalaman Paling Menakutkan dalam Hidup Saya

Korban gempa Nepal diangkat dari reruntuhan (dok. oxfam)

Korban gempa Nepal diangkat dari reruntuhan (dok. oxfam)

 

Oleh: Lisa Rutherford, Press Officer Oxfam Great Britain

Gempa dengan kekuatan 7,8 magnitude pada Sabtu 25 April lalu, telah mengguncang Nepal. Gempa itu menimbulkan korban jiwa sebanya 8000 orang, mencederai lebih dari 18.000 lainnya dan membuat 2,8 juta penduduk kehilangan tempat tinggal. Banyak perbincangan mengatakan, bahwa gempa tersebut memang sudah diramalkan bakal terjadi, tetapi tampaknya tak ada persiapan yang memadai untuk menghadapi risiko bencana yang meningkat.

Kemudian, dalam 17 hari setelahnya, gempa kuat lainnya mengguncang kembali dan menimbulkan kepanikan, kehancuran dan kehilangan. Rasa tidak percaya akan semua ini menjadi sangat jelas, tetapi juga sikap keberanian yang tak ada habisnya dan kemampuan bertahan menghadapi bencana yang dimiliki masyarakat Nepal.

Dalam banyak kesempatan di sini, saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Di sebuah kamp pengungsi di sebuah lahan hijau di pusat kota Kathmandu, saya bertemu keluarga-keluarga yang tempat tinggalnya kini hanyalah tenda-tenda sederhana dan mereka berbagi tempat itu dengan teman dan tetangga. Rumah-rumah mereka mengalami kerusakan atau sangat tidak aman untuk kembali ditinggali.

Mereka berdiam menikmati panas matahari sore dan berbincang soal kehidupan mereka dan mimpi mereka, tak yakin kapan mereka bisa kembali memiliki rumah seperti sedia kala. Ketika kami melakukan perjalanan beberapa jam ke arah selatan, ke arah desa Sankhu, wilayah itu tampak seperti habis dihujani bom. Rumah-rumah hancur berantakan dan tak lagi nampak seperti bentuk rumah selaiknya.

Banyak keluarga dan tetangga sekitar berjejalan di reruntuhan rumah, di dalam sebuah bus kecil atau di tempat terbuka dengan berlindung di bawah lembaran tenda plastik buatan mereka sendiri. Kami mendengar cerita para penyintas dan cerita tentang kehilangan. Tentang seorang ayah yang berkelana selama tiga hari untuk menemukan istri dan anak perempuannya, yang untungnya selamat.

Juga cerita tentang petani perempuan bekerja di kebunnya yang hanya bisa memandang tak berdaya ketika asap dan debu beterbangan ketika rumah mereka runtuh. Setiap orang memiliki cerita, namun akhir ceritanya selalu sama, soal hidup yang terpecah menjadi jutaan keping.

Kami juga berjalan ke Chautara di wilayah Sindhupalchok, wilayah yang paling terdampak buruk di Nepal. Rumah sakit rusak sangat parah, sehingga lapangan olahraga desa diubah menjadi rumah sakit lapangan dengan tenda besar sebagai teater dan bangsal anak. Tim kami di distrik tersebut telah membangun tanki penampung air berkapasitas 10.000 liter untuk menyuplai rumah sakit lapangan dengan air bersih dan untuk toilet darurat.

Anak-anak dan orang tua berkeliaran dengan luka-luka yang tampak jelas dan sangat sulit untuk dapat menerima semuanya. Pun demikan, semangat para penduduk yang kami temui tak henti-hentinya menunjukkan keceriaan. Anak-anak kecil bertanya dalam bahasa Inggris yang baik yang kami jawab dalam bahasa Nepal. Sekelompok orang muda memindahkan stasiun radio mereka ke atas bukit agar bisa mengawasi suasana sekitar dan terus menyiarkan berita seperti biasa.

Para relawan datang saat jam makan suang dengan membawa beras di sebuag tempat makan yang besar untuk memberi makan siapa saja yang memerlukan dan berbaris dalam antrean. Kawan-kawan saya dan saya sendiri smepat terjebak dalam gempa yang terjadi di hari Selasa (gempa susulan kedua-red). Gempa selama 30-40 detik yang paling menakutkan sepanjang perjalanan hidup saya.

Beruntung wilayah Kathmandu dimana kami berada tidak mengalami banyak kerusakan. Ketika kepanikan mereda, saya melihat ke sekeliling ke arah sekelompok besar orang berpencaran di jalan raya utama dan menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Orang-orang saling menunjukkan sikap menenangkan satu sama lainnya. Mereka menelepon orang-orang yang mereka cintai.

Kemudian dalam beberapa menit berikut mereka kembali ke tempat tinggal mereka, ke toko mereka ke kendaraan mereka dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Saya meninggalkan Nepal sehari kemudian dan membawa gambaran yang terjadi selama hidup saya. Gambaran tentang populasi yang menunjukkan keberanian luar biasa di hadapan mara bahaya. Gambaran tentang orang-orang yang baik, ceria dan hanya ingin hidup dengan aman bersama keluarga mereka.

Dan saya sungguh-sungguh berharap masa depan akan membawa mereka ke sebuah harapan baru dan keamanan yang mereka pantas untuk dapatkan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *