Menanam Dengan Hati | Villagerspost.com

Menanam Dengan Hati

Siswa-siswi SMKN 4 Lewa, Sumba Timur NTT, belajar pertanian organik (dok. rahmat adinata)

Siswa-siswi SMKN 4 Lewa, Sumba Timur NTT, belajar pertanian organik (dok. rahmat adinata)

Oleh: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, NTT

Jakarta, Villagerspost.com – Ada keseriusan dan kegembiraan pada sore itu di lahan belajar Sekolah Lapang Pertanian Organik, SLPO Kondamara, Desa Kondamara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Sebanyak 19 siswa-siswi SMKN 4 Lewa, ikut terlibat dalam praktik Sekolah Lapang. Mereka membaur dengan para petani lokal yang sudah terlebih dahulu ikut Sekolah Lapang. Lahan yang mereka pakai seluas 6 hektare dengan memanfaatkan air untuk penyiraman tanaman dari energi sinar matahari.

Anak-anak sekolah ini masuk kelas 3, mereka sudah seharusnya praktik lapangan sebab suatu saat akan terjun langsung ke masyarakat, baik sebagai pelaku maupun sebagai pembimbing bidang pertanian di masyarakat nantinya. Kita patut bersyukur ternyata masih ada sekolah bagian pertanian untuk pilihan mereka yang menekuninya, bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain jurusan pertanian bukan yang favorit, mungkin disebabkan oleh beberapa hal.

(Baca Juga: Sosialisasi Pengelolaan Akses Perikanan Berkelanjutan Melalui Kampanye Pride)

Yang menyedihkan negara kita kenyataannya hanyalah sebutan saja sebagai “Negara Agraris”. Padahal di negara yang katanya agraris ini, nasib petani dan pertaniannya “ironis”, sebab sebagian pangan masih dikirim dari luar negeri. Padahal iklim kita cocok, tanah kita subur, tapi negara masih memiliki ketergantungan yang besar dengan impor pangan dari negara luar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Januari-November 2013, mengungkapkan, ada 29 jenis bahan pangan yang diimpor dari luar negeri dengan total nilai setara Rp100,4 triliun. Data ini kemudian menimbulkan pertanyaan, benarkah kita sebagai negara agraris? Benarkag kita negara penghasil pangan yang mampu menghidupi rakyatnya? Jika iya, kenapa panganya masih tidak mandiri?

Sejatinya bahan pangan tersebut tidak perlu didatangkan dari negara luar, seandainya tata kelola pertanian kita berjalan benar, tidak amburadul. Jika selamanya para petani hanya dijadikan objek dalam program-program pemerintah, jangan harap negara kita bisa mandiri dalam pangan.

Untuk itu seharusnya para petani dibekali Sumber Daya Manusia-nya (SDM). Dengan memposisikan petani sebagai subjek atau sebagai pemimpin dan penentu di lahannya masing-masing, agar para petani kita tidak mengalami ketergantungan pada pihak manapun. Berkenaan dengan hal di atas, ada beberapa orang siswa belajar di lahan pertanian organik  SLPO Kondamara, inilah mungkin yang akan menjadi embrio bagi kemajuan petani atau kemandirian pangan bagi suatu daerah, khusus untuk kabupaten Sumba Timur dan umumnya negara kita yang “Agraris”.

Mereka di lapangan belajar tata cara pengolahan lahan yang baik dan benar, belajar melakukan pembibitan hortikultura, serta bagaimana penanganan hama dan penyakit dengan bahan pestisida nabati yang ramah lingkungan. Tentu saja hanya dengan mengenalkan pola pertanian organik pada mereka, pertanian kita bisa berjalan maju agar ramah lingkungan serta berkelanjutan. Tujuannya, supaya ke depan nanti kita tidak lagi dibuat bergantung pada pangan impor, sebab bahan-bahan organik sudah tersedia di sekitar alam kita.

Jika kita sadar, anak-anak tak seharusnya dijejali dengan setumpuk teori yang membuat mereka tidak kenal jati dirinya. Hanya praktik lapanganlah yang akan membentuk karakteristik mereka kelak. Marilah menanamkan dengan hati pada anak-anak kita, agar bisa dipanen dengan memuaskan…….

Bangunlah Jiwanya……
Bangunlah Badannya…..
Untuk Indonesia Raya…..

Ikuti kolom opini villagerspost.com >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *