Mendorong Sarjana Kembali ke Desa Menjadi Petani | Villagerspost.com

Mendorong Sarjana Kembali ke Desa Menjadi Petani

ilustrasi: alat pertanian modern (blog.umy.ac.id)

ilustrasi: alat pertanian modern (blog.umy.ac.id)

Oleh: Jamaluddin Daeng Abu, Ketua BUMDes, Kalpataru, Gowa Sulawesi Selatan

Sebagai seorang pemuda, saya punya prinsip sarjana tidak harus menjadi seorang pegawai negeri sipil. Seorang sarjana, bisa juga kembali ke kampung, menjadi petani dan menggerakkan perekonomian masyarakat di desa. Karena itu, saya selepas meraih helar pasca sarjana bidang manajemen dari Universitas Muslim Indonesia tahun 2014 lalu memutuskan untuk pulang ke kampung di Desa Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan menjadi petani.

Keputusan itu saya ambil setelah sempat menjalani profesi sebagai guru dan dosen di MTs Wahyu Mandiri dan STIKIP Mega Rezki Makassar. Alasan saya pulang ke kampung setelah meraih gelar pendidikan tinggi dan kembali menjadi petani sederhana saja: “Petani juga membutuhkan pendidikan sehingga petani wajib menjadi master dan meraih pendidikan yang tinggi agar pertanian bisa lebih maju”.

Menjadi petani yang memiliki jenjang pendidikan S1 dan S2 dapat saya lalui, juga berkat pertanian, yaitu berkat hasil dari penjualan sayuran/pertanian. Orang tua adalah seorang petani yang setiap hari bermain dengan tanah dan kotoran. Tetapi dari hasil tersebut akhirnya saya bisa melanjutkan pendidikan, sehingga bukan hal aneh dan hal yang keliru jika saya kembali bertani setelah meraih pendidikan tinggi.

Menjadi Master Manajemen adalah satu hal yang pantas saya syukuri, dan kembali bertani adalah hal yang wajib saya jalani, sebab jika saya kembali menjadi petani, gelar yang melekat dan ilmu–ilmu yang pernah saya dapatkan di perguruan tinggi dapat saya gunakan untuk me-manage bisnis pertanian dengan lebih baik. Hal apapun di dunia ini membutuhkan manajemen yang bagus, sama halnya dengan dunia pertanian.

Selama ini yang menjadi evaluasi pada sektor pertanian adalah rendahnya rata–rata pendidikan petani sehingga banyak hal yang seharusnya menjadi hak petani, penyalurannya menjadi tidak tepat sasaran. Seperti halnya pendistribusian pupuk organik kadang di atas harga eceran tertinggi (HET). Padahal andaikan petani cerdas hak–hak mereka bisa dituntut dan dipertanyakan kepada pengambil kebijakan baik di pusat maupun daerah.

Kelompok–kelompok tani hari ini masih menjadi catatan sejarah, masih banyak kelompok tani yang hanya ada di daftar dan dibentuk oleh pemerintah, tetapi sayang keaktifannya masih di pertanyakan. Hal–hal apa yang membuat pertanian tidak bergairah dan ditinggalkan semua ada alasannya, melalui perjalanan saya menelusuri dan senantiasa berbincang dengan petani, akhirnya diketahu, alasannya adalah karena pertanian tidak menjanjikan. Tidak ada regulasi yang mengatur sehingga petani bisa untung dan konsumen bisa puas dengan hasil panen petani.

Biaya produksi yang tinggi dan pemasaran yang rendah membuat petani muda mencari pekerjaan lain, pekerjaan yang lebih jelas dan menjanjikan. Dari latar belakang tersebut membuat saya tergugah dan terpanggil untuk kembali menjadi seorang petani. Walau belum banyak yang bisa saya lakukan khususnya peningkatan mutu pertanian, tetapi saya melihat potensi pada sektor pertanian begitu besar, sehingga kesempatan emas tersebut tidak boleh disia–siakan.

Selain peningkatan pendapatan petani, hal yang tidak kalah pentingnya yang harus segera disentuh adalah sumber daya manusia (SDM) dan pendidikan petani. Karena itu, saya di desa menggagas Gerakan Cerdas Anak Petani. Dari gerakan itu, maka lahirlah Rumah Baca Anak Petani, Iqra Diniyah Anak Petani, Taman Baca Anak Petani dan Sekolah Alam.

Kesemuanya diperuntukkan bagi petani dan generasi muda petani agar menjadi petani yang cerdas, hebat, modern dan mampu bersaing secara global. Target–target itulah yang membuat saya optimis bahwa suatu saat nanti pertanian akan berjaya dan diminati oleh pemuda–pemuda dan para sarjana.

Gerakan–gerakan untuk mengatur dan mengubah sistem pertanian juga mulai saya jalankan seperti, memanfaatkan lahan tidur dan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman buah seperti markisa, agar bisa menjadi pendapatan tambahan buat petani. Markisa dipilih karena selain bisa dikonsumsi langsung juga dapat dijadikan olahan seperti sirup markisa dan dodol markisa yang bisa diolah menjadi menjadi oleh–oleh khas Sulawesi selatan.

Kemudian, juga gerakan mengubah sistem pertanian dari non organik ke pertanian organik. Untuk hal ini, saya tak henti dan tak bosan melakukan sosialisasi kepada petani, kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan). Tujuannya, agar pertanian bisa lebih sehat, lingkungan terjaga, pertanian dapat diwariskan dan pemasaran bisa lebih modern dan global.

Melalui SDM dan pendidikan, pertanian Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan bisa diharapkan lebih berjaya dan hebat. Cita–cita swasembada pangan dan pertanian diminati oleh kaum muda pun diharapkan bisa terwujud. Dengan kembali menjadi petani saya akan menjawab, pertanian dan menjadi petani harus bisa dibanggakan. Prinsipnya, pejabat sekalipun tidak bisa hidup tanpa hasil pertanian, sebab tidak ada petani tidak ada makanan, karena sumber makanan berasal dari pertanian.

Pertanian sangatlah urgen, sehingga pertanian tidak boleh mengalami krisis petani. Menjadi petani jangan selalu diidentikkan dengan kotor dan tidak modern, karena kehidupan kuncinya adalah dari hasil pertanian. Sekali lagi, “Sarjana tidak mesti menjadi PNS. Menjadi petani juga menjanjikan”. Seruan itu lahir dari ajakan kepada para sarjana untuk kembali mencintai pertanian, karena sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja yang besar, juga bisa mengurangi perpindahan penduduk dari desa ke kota karena di pedesaan sektor pertanian juga menjanjikan.

Facebook Comments
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *