Mengapa Terjadi Ledakan Wereng? | Villagerspost.com

Mengapa Terjadi Ledakan Wereng?

Hamparan sawah yang rusak total di Kabupaten Subang akibat serangan wereng dan virus hampa (dok. villagerspost.com/deni nurhadiansyah)

Oleh: Bonjok Istiaji, Staf Pengajar di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Dalam memahami fenomena ledakan populasi hama (pest outbreak), dikenal istilah faktor pemicu (triggering factors) dan faktor penguat (amplifying factors). Meskipun secara intrinsik populasi hama berpotensi untuk tumbuh berlipat secara eksponensial, kenyataannya di lapangan hal tersebut jarang terjadi. Hal ini karena peran unsur-unsur pengendali alami, seperti predator, kompetitor, kondisi lingkungan, dan keterbatasan sumber daya.

Hanya ketika ada faktor pemicu potensi intrinsik sajalah, populasi hama dapat melampaui kapasitas kontrol unsur-unsur pengendali alaminya. Lalu ketika faktor penguat juga bekerja, populasi hama semakin besar seiring waktu. Maka terjadilah ledakan populasi hama.

IPB mengidentifikasi ledakan populasi wereng coklat tahun 2017 disebabkan oleh interaksi dari faktor-faktor berikut:

1. Kemarau basah pada tahun 2017.
2. Penanaman padi yang terus menerus tanpa jeda.
3. Penggunaan insektisida yang intensif (8-12 kali aplikasi per musim), serta beberapa insektisida yang digunakan termasuk yang dilarang untuk padi.

Mana yang menjadi faktor pemicu dan mana yang menjadi faktor penguat bisa berbeda-beda tergantung lokasi, bahkan bisa saja di tempat tertentu ada faktor tambahan selain tiga hal di atas. Kemarau basah cocok untuk wereng coklat, artinya secara statistik maupun primbon, tahun 2017 adalah tahun wereng. Andaikata kondisinya lebih kering, maka yang berkembang biak adalah hama lain, misalnya saja penggerek batang padi. Atau kalau lebih kering lagi, tikuslah biasanya yang akan merajalela.

Informasi demikian seharusnya menjadi dasar tindakan jaga-jaga (preemptif), dan jeda tanam selama bertahun-tahun terbukti efektif meredam populasi hama-hama padi. Demikianlah ilmunya. Maka ketika pengetahuan yang sangat prinsipil dilanggar dan ilmu yang fundamental dilecehkan, menjadi tidak heran mengapa wereng coklat hanya meledak di negeri ini, tidak di negara-negara tetangga. Kalau tak juga percaya, silakan lanjutkan percepatan tanamnya. Kelak ketika musim tak lagi basah, hama penggerek batang atau penyakit blas yang akan centang perenang di sawah-sawah nan luas.

Ada yang berkata, tempat kami sejak dulu terus menerus tanam padi, tapi wereng tidak menyerang sama sekali. Jangan jumawa, karena seharusnya disyukuri lantaran musibah masih ditangguhkan Illahi. Kasus spesifik demikian hanya berarti di tempat tersebut tanam terus menerus bukan faktor pemicu ledakan hama wereng. Namun tetap sebagai faktor penguat, tinggal menunggu waktu faktor pemicunya bekerja. Dan tidak ada yang lebih jelas daripada dampak insektisida.

Seringkali terjadi: petani menyemprot hama dengan insektisida, tetapi tidak mengendalikan. Malah akibatnya yang semakin dirasakan, yaitu resistensi hama (hama menjadi kebal racun) dan resurjensi hama (kemampuan reproduksi hama meningkat). Sudah sangat terkenal kalau wereng coklat semakin disemprot semakin bikin repot.

Tapi apakah akan selalu menyalahkan petani? Yang tidak tepat sasaran, lah. Tidak tepat dosis, lah. Tidak tepat waktu, lah. Tidak tepat cara, lah. Sedang para penjual pestisida mengesampingkan ilmu pengendalian hama, demi semata target pemasaran dan bonus keuntungan. Tak perlulah berkilah petani sendiri yang meminta, kecuali kalau memang potensi ledakan hama mau dipelihara supaya tetap terjamin aliran bisnisnya.

Dan masihkah akan berakrobat dengan data-data? Sudahlah, semua yang sering di lapangan sama-sama tahu yang sebenarnya. Tentang harmonisasi data, tentang larangan melaporkan serangan hama, tentang luas tambah tanam yang terpaksa dilaporkan padahal belum dilaksanakan. Juga tentang nasib Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang selalu disalahkan bila ada serangan hama, atau tentang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang tidak berani datang lagi setelah membagi-bagi pestisida kemudian werengnya justru semakin membuat sawah poranda.

Tetapi silakan saja kalau mau dibantah semua itu tak benar. Hanya tolong pertimbangkan tanggungan dosa, akibat sekian banyak pihak yang terkena dampak. Para ahli yang terpaksa tidak berkata sejujurnya, para petugas yang harus mengingkari kata-kata yang pernah disuluhkannya, serta yang utama para petani yang dibuat sengsara ibarat jatuh tertimpa tangga akibat dipaksa tanam dan gagal panen berkali-kali. Berani?

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *