Mengolah Sawah Jadi “Sekolah” | Villagerspost.com

Mengolah Sawah Jadi “Sekolah”

Lahan sawah bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga bersekolah alias belajar, menambah wawasan dan ilmu (dok. unpad.ac.id)

Lahan sawah bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga bersekolah alias belajar, menambah wawasan dan ilmu (dok. unpad.ac.id)

Oleh: Jamaluddin Daeng Abu, Petani Muda dari Kanreapia, Gowa, Sulsel

Peran para pemuda tani yang berhasil menjadi sarjana untuk kembali ke kampung halamannya dan mengembangkan pertanian sangat penting. Jika para pemuda tani yang menjadi sarjana mau kembali ke kampung menggarap tanah, diharapkan pertanian akan maju dan masyarakat petani akan sejahtera.

Namun selain mengembangkan potensi desa, para sarjana juga bisa menggerakkan masyarakat untuk gemar membaca dan menggali ilmu. Di kampung saya, di Desa Kanreapia, Gowa Sulawesi Selatan, saya kerap mengajak pemuda-pemuda desa untuk tetap tekun belajar, lewat gerakan “Cerdas Anak Petani”. Agar gerakan ini menarik, maka saya membuatkan sebuah konsep baru agar belajar menjadi sesuatu yang menarik, keren dan inspiratif.

Caranya adalah mengolah lahan perkebunan atau persawahan menjadi “sekolah”, tempat membaca buku, belajar dan berdiskusi. Saya berpikir, membaca buku atau belajar di sawah akan membuka cakrawala berfikir dan akan melahirkan banyak inspirasi–inspirasi yang menarik dan seru untuk mengembangkan pertanian.

Lewat gerakan “Cerdas Anak Petani” ini, pemuda tani diharapkan akan menjadikan area persawahan bukan sekadar lahan untuk bekerja mencari nafkah, tetapi juga sebagai tempat membaca buku atau belajar. Lewat cara itu, petani khususnya petani muda diharapkan senantiasa mempunyai ide dan cara–cara yang unik untuk kembangkan kemajuan pertanian.

Stigma bahwa pertanian hanya didominasi oleh petani tua harus mampu dijawab oleh petani muda. Stigma tersebut harus segera diperbaiki karena anak muda saat ini sebenarnya telah mau untuk terjun dan berbondong–bondong memajukan pertanian.

Pertanian juga telah mempunyai ajang kompetisi menarik bagi petani muda seperti ajang pemilihan Duta Petani Muda. Oleh karena itu, semangat pemuda untuk bertani saat telah bangkit karena pada dasarnya kita telah sadar bahwa negara kita adalah negara agraris sehingga kita tidak boleh mengalami krisis pangan hanya lantaran diakibatkan oleh krisis petani.

Saya sendiri yakin pertanian di Indonesia suatu saat nanti akan jaya. Olehnya itu gerakan Cerdas Anak Petani menjadi jalan memajukan Sumber Daya Manusia, yakni SDM petani harus maju. Rumah Baca, taman Baca, sekolah alam menjadi wadahnya, sehingga senantiasa  memberikan contoh bahwa menjadi petani itu hebat, keren dan wow.

Lewat gerakan ini, diharapkan anak-anak muda petani paham bahwa belajar atau membaca buku, bisa dilakukan dimana saja. Bisa di persawahan maupun di kebun, karena intinya belajar bisa dilakukan dimana saja. Tujuannya agar petani cerdas dan mampu bersaing secara Global.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *