Mengusir Hantu Klowor | Villagerspost.com

Mengusir Hantu Klowor

Tanaman Padi yang terserang virus klowor diawal pertanaman. Tanaman hijau tapi mejan atau tidak mau tinggi. (dok. villagespost.com/deni nurhadiansyah)

Oleh: Deni Nurhadiansyah, Petani Muda, Alumni Institut Pertanian Bogor, Jurnalis Warga untuk Villlagerspost.com

Klowor merupakan kata yang akrab, namun sangat menakutkan bagi para petani. Setidaknya dalam dua tahun ini klowor menjadi buah bibir yang hampir selalu dibicarakan para petani padi di warung kopi atau ibu-ibu tukang rumpi.

Seramnya klowor melebihi “setan Valak” ataupun sosok “Ibu” di film Pengabdi Setan. Karena jika Valak dan Ibu hanya menyeramkam dimalam hari, klowor ini bisa bikin merinding siang malam berhari-hari.

Klowor merupakan sebutan bagi padi yang terkena virus kerdil hampa. Tanaman yang terkena virus ini memiliki ciri yaitu tanaman tumbuh subur diawal tapi tidak bermalai. Klowor ditularkan oleh wereng batang coklat. Hantu klowor ini ngetren juga dengan nama lain seperti Mejen dan Zonk.

Keberadaan klowor ini membuat stres para petani karena tidak ada satupun obat atau metode pengendalian yang ampuh menekan penyebaran virus ini. Konon katanya klowor ini sudah menyebabkan ratusan ribu hektare lahan petani padi dipulau Jawa dan Lampung gagal panen.

Tanaman padi sembuh dari virus klowor dengan menerapkan pertanian selaras alam. (dok. villagerspost.com/deni nurhadiansyah)

Datang tak Diundang dan tak Mau Pergi

Berbeda dengan “Jelangkung” yang datang tak diundang pulang tak diantar, klowor ini datang tak diundang diusir tak mau pergi. Sekali klowor datang maka selamanya dia akan ada. Jika petani stop menanam padi sekalipun, dia akan bersembunyi ditanaman lainnya sampai tiba saatnya menebar ketakutan lagi kepada para petani.

Klowor akan tersenyum cekikikan sambil memperlihatkan taringnya yang panjang jika melihat petani menanam melawan alam dan memunggungi ekologi. Penasaran dengan “Hantu Klowor” saya coba tanyakan ke “Mbah Gugel” yang secara pengetahuan sundul langit. Menurut Mbah Gugel serangan hantu klowor ini yang pertama didunia menyebabkan outbreak sampai puluhan bahkan ratusan ribu hektare.

Di tempat semedi “Mbah Gugel” di negara lain, ada beberapa muridnya yang melaporkan serangan yang memusnahkan padi hingga ratusan hektare, tapi itupun cepat reda. “Mbah Gugel” juga melanjutkan, hanya di negara ini yang terjadi outbreak wereng, sedangkan di negara tetangga tidak.

Berdasarkan ilmu falaqiah milik “Mbah Gugel”, hantu klowor ini berhubungan erat dengan outbreak wereng di musim sebelumnya.

Petani mendengarkan
penjelasan dari pakar penyakit tanaman IPB Dr. Suryo Wiyono bagaimana pertanian selaras alam bisa menyembuhkan tanaman padi yang terserang virus klowor (dok. villagerspost.com/deni nurhadiansyah)

Bagaimana cara “Meruqyah” Hantu Klowor?

Setelah mendapatkan penjelasan dari “Mbah Gugel”, saya bertanya kepada sesepuh dan pinesepuh di dunia “perhantuan” tanaman padi. Konon, “Hantu Klowor” ini mempunyai kelamahan. Kelemahan utamanya adalah silaturahmi dan guyub antar petani, karena klowor akan merintih kesakitan jika petani bersama-sama menerapkan pertanian selaras alam alias agroekologi.

Menurut sesepuh, pengembalian jerami akan menjadi penangkal utama dari hama wereng yang menjadi kendaraan atau logistik klowor untuk menyerang hamparan padi. Selain itu, menyetop penggunaan insektisida berbahan aktif pyretroid pada tanaman padi bisa mempreteli pertahanan atau “ilmu kebal bacok” milik wereng.

Para sesepuh mendapat wangsit untuk melakukan jeda tanam setiap dua musim agar siklus hama penyakit terpotong. Karena secara alamiah, jeda tanam merupakan pertahanan yang diberikan alam bagi daerah-daerah yang endemis.

Tapi sayangnya sepulau Jawa sudah masuk kategori endemis klowor. Jeda tanam ini sebaiknya digunakan untuk menanam jagung atau palawija.

Terakhir adalah banyak berdoa dan meminta kepada yang maha kuasa, agar selalu diberikan keselamatan dan keberkahan dalam hidup. Sejatinya Hantu Klowor ini adalah ujian yang akan menguatkan keimanan dan memberikan kebaikan dalam kehidupan.(*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *