Saat Pestisida tak Lagi Ampuh Kendalikan Wereng | Villagerspost.com

Saat Pestisida tak Lagi Ampuh Kendalikan Wereng

Iklan pestisida bertebaran tanpa kendali membuat petani terpancing menggunakan pestisida secara tidak terkendali yang justru memicu ledakan wereng (dok. klinik tanaman ipb)

Oleh: Bonjok Istiaji, Staf Pengajar di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Fenomena ledakan populasi wereng coklat tahun 2017 membawa cerita menarik tentang sebuah merek pestisida cukup ternama. Merek pestisida ini, sebut saja “Sidia” acap kali disebut namanya oleh petani saat ditanya: “Werengnya dikendalikan dengan apa?”

Menariknya, pestisida yang sebelumnya jadi andalan para petani itu, kini mulai dikeluhkan tidak lagi mempan. Mengapa? Ternyata ada hal yang luput dimengerti oleh petani dalam memahami fenomena ledakan wereng ini. Individu-individu wereng pada saat ledakan populasi hama memang berbeda dengan individu-individu pada kondisi normal.

Wereng saat terjadi ledakan populasi lebih kebal racun pestisida, termasuk dari merek “Sidia”, dan jumlah keturunan wereng pun lebih banyak. Setidaknya dua sifat itulah yang berkontribusi terhadap bersimaharajalelanya wereng coklat.

Begini kisahnya. Seampuh-ampuhnya “Sidia” atau apapun merek pestisida, aplikasinya di lahan tidak mungkin mampu membunuh 100% populasi wereng coklat. Akan senantiasa ada proporsi populasi yang selamat, dengan aneka cara. Apakah alasan genetik, alasan metabolisme/netralisasi efek “Sidia”, alasan perilaku serangga, dan sebagainya.

Pada kondisi normal, proporsi populasi kebal tersebut kecil saja. Kalah bersaing dengan mayoritas populasi rentan dalam perebutan sumber daya. Kalah ukuran, kalah kopulasi (kawin), kalah jumlah ketururunan, dan lain-lain. Namun ketika “Sidia” menghilangkan mayoritas populasi rentan, ada relung hidup (niche) yang kosong dengan sumber daya tak termanfaatkan.

Segera saja relung tersebut diisi wereng kebal yang sebelumnya tersisih. Semakin disemprot “Sidia”, semakin dominan wereng kebalnya. Akhirnya “Sidia” tak ampuh lagi.

Kisah berakhir di sini? Belum sama sekali. Sekalipun tak lagi mematikan, “Sidia” adalah ancaman bagi proporsi populasi wereng kebal. Maka naluri makhluk Tuhan bekerja: penyelamatan keturunan saat kondisi lingkungan membuat hidup sulit bertahan.

Wereng coklat kebal pun memperbanyak keturunannya. Ini sama dengan enceng gondok yang serempak berbunga ketika kolam mulai mengering, atau batang pohon mangga yang dibacok-bacok golok untuk merangsangnya berbuah. Kabar baiknya, tak semua bahan aktif pestisida punya efek stimulasi ini. Namun ketika disfungsi unsur-unsur pengendalian alami dikaitkan dalam cerita ini, hasilnya sebenarnya sama saja. Hanya mekanismenya yang berbeda.

Yang harus digarisbawahi, ledakan populasi hama adalah “KEJADIAN LUAR BIASA”. Bisakah ditangani dengan cara-cara biasa seperti penyemprotan massal insektisida atau penanaman kembali dengan varietas tahan wereng? Yang sering terdengar di media adalah aksi pengendaliannya, bagaimana hasilnya tampaknya selalu lupa disebutkan.

Setahan-tahannya varietas padi, tidak ada yang bisa 100% menekan perkembangbiakan hama penyakit. Maka hukum alam kembali bekerja: naluri bertahan hidup makhluk Tuhan, bahkan pada hama sekalipun. Dan kenyataannya di lapangan, waktu yang diperlukan hama, penyakit, atau gulma untuk beradaptasi lebih singkat dari waktu yang diperlukan manusia untuk menghasilkan sarana seleksi (varietas tahan, pestisida, dll).

Lalu bagaimana sebaiknya? Kembalikan ke kondisi biasa yang mapan. Cara terbaik adalah belajar dari alam. Cara ini terbukti membuat ekosistem pertanian lebih resisten dan resilien terhadap gangguan. Prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang terjadi pada ekosistem alami diadopsi untuk diterapkan pada ekosistem pertanian. Prinsip dan hukum ekologi. Agroekologi!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *