Saatnya Petani Sumba Kembali ke Pupuk Organik | Villagerspost.com

Saatnya Petani Sumba Kembali ke Pupuk Organik

Oleh: Michael Kabatana, Staf Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders

Salah satu program utama Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders adalah pertanian konservasi selaras alam. Sebagai staf lapangan yayasan yang mendampingi kelompok tani, suka atau pun tidak suka masalah atau keluhan mengenai pertanian merupakan hidangan yang kerap disuguhkan oleh para petani dampingan. Dari sekian persoalan yang sering disuguhkan petani dampingan, kebanyakan berkutat pada persoalan tanah dan upaya memperbaiki keadaan tanah yang kian kurang subur. Saat ini, lahan tanah pertanian di Sumba menghadapi masalah kehilangan unsur hara dan banyak jasad renik yang mati akibat pengunaan pupuk kimia anorganik secara terus menerus.

Tanah semakin tandus dan kesuburannya kian menurun tiap tahunnya. Jasad renik adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Jasad renik tidak hanya berbentuk bakteri, tetapi juga berbentuk kapang atau jamur, khamir, protozoa dan virus. Tanah yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroorganisme per gram tanah.

Sebagian besar jasad renik ini berperan menghancurkan limbah organik, menciptakan siklus hara tanaman, fiksasi nitrogen, pelarut posfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol pathogen (penyakit tanaman) dan membantu penyerapan unsur hara. Dalam proses dekomposisi sisa tumbuhan dihancurkan atau dirombak menjadi unsur yang dapat digunakan tanaman untuk tumbuh.

Setelah pemahaman kita tentang kaitan antara tanah, unsur hara dan jasad renik itu sendiri sudah segar kembali. Kini ada satu persoalan lain yang cukup serius kita mesti beri perhatian lebih dan kita cari bersama solusinya, yaitu petani Sumba seperti terjebak dalam konsep lama yang sering dipakai pada masa lampau yaitu ladang berpindah-pindah tempat.

Di sisi lain, kurangnya kesadaran untuk tidak menggunakan pupuk kimia anoganik dan kesadaran untuk mengubah pola lama ini. Sewaktu berdiskusi langsung dengan para petani tentang tanah yang kian tidak subur dari tahun ke tahun, saya diperhadapkan dengan sebuah analogi perbandingan antara tanah dan hidup manusia. Mereka mengatakan, tanah itu seperti manusia yaitu semakin lama semakin tua dan hal itu menyebabkan tingkat kesuburannya makin kecil.

Di sini konsep fatalisme mencuat kepermukaan kesadaran mereka bahwa tanah yang sudah lama digunakan untuk bertani tidak subur lagi karena sesudah semestinya demikian. Di sini, ada semacam konsep yang menafikan bahwa lahan yang telah dipergunakan berulang kali harus ditinggalkan untuk membuka lahan baru. Daya usaha untuk mencari solusi bagaimana memperbaiki keadaan tanah yang mulai rusak tidak ada.

Hal ini penting untuk diatasi karena tanpa pemahaman yang baik mereka hanya akan selalu terjebak dalam konsep lama ladang berpindah-pindah tempat. Konsep lama yang pada sebagian petani masih berakar kuat ditambah perunyam dengan konsep bertani dengan menggunakan pupuk kimia anorganik. Pemahaman petani di Sumba yang kurang tentang tanah digiring masuk ke dalam konsep penggunaan pupuk kimia oleh pemerintah.

Masalah ini menjadi masalah bersama di Indonesia bahwasanya pemerintah telah membangun beberapa pabrik pupuk kimia yang mana hasil produksinya perlu penyerapan dari konsumen petani. Di Sumba, para petani yang terjebak dan korban penggunaan pupuk kimia hanya mau menggunakan pupuk kimia serta didukung oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) yang juga menjadi pendorong budaya penggunaan pupuk kimia anorganik.

Dari data resmi Pupuk Indonesia, pabrikan pelat merah saat ini memiliki total kapasitas produksi per tahun mencapai 13,1 juta ton dan ada program peningkatan jumlah produksi selanjutnya. Sebagai analogi pada program khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, Kedelai (Upsus Pajale) Pemerintah meghabiskan total anggaran Rp103 triliun. Diantaranya, sebanyak Rp31,2 triliun digunakan untuk subsidi pupuk kimia anorganik.

Setelah ingatan kita tentang kaitan antara tanah, jasad renik dan unsur hara serta mengapa penggunaan pupuk kimia anorganik menjadi prioritas pemerintah. Sekarang mari kita sama-sama mengenal bagaimana cara kerja pupuk kimia anorganik sehingga dikatakan tidak baik digunakan untuk lahan tanah. Biasanya dalam jangka pendek, pupuk kimia memang sangat mampu untuk bisa mempercepat masa tanam karena kandungan haranya bisa diserap langsung oleh tanah dan tanaman, namun di sisi lain bila penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang, justru akan menimbulkan dampak yang sangat negatif kepada tanah dan tanaman.

Menurut beberapa penelitian dari beberapa pakar tanaman, pada umumnya tanaman tidak bisa sepenuhnya menyerap 100% pupuk kimia anorganik. Selalu ada residu atau sisanya yang tidak terserap, apalagi banyak petani merasa dan berpendapat dengan pemberian pupuk melebihi takaran, malah bisa lebih produktif tanamannya. Hal ini adalah salah.

Bagian sisa-sisa pupuk kimia yang tertinggal di dalam tanah ini, apabila telah terkena air dalam periode lama, akan terjadi proses mengikat tanah seperti layaknya lem/semen. Terjadinya kekeringan, pada tanah tersebut, akan terjadi pelengketan yang memadat satu dengan lain, dan tanah pun menjadi mengeras. Bisa dibayangkan jika pemupukan kimia dilakukan selama berpuluh-puluh tahun tanpa ada pertukaran dari budaya menggunakan pupuk kimia ke pupuk organik.

Masih ada banyak alasan lain mengapa para petani, khususnya di Sumba, mesti beralih ke pupuk organik. Dari sisi ekonomi, penggunaan pupuk organik menekan pengeluaran dana untuk pembelian pupuk kimia anorganik. Hal ini dikarenakan pembuatan pupuk organik baik pupuk organik padat (POP) maupun organik cair (POC) bahan-bahannya dapat diperoleh dari lingkungan sekitar petani.

Dari segi kesehatan, penggunaan pupuk organik pada sayur mayur dan tanaman pangan lainnya tentu jauh lebih menguntungkan kesehatan dibandingkan menggunakan pupuk kimia anorganik. Tentu masih banyak keuntungan lain yang masih bisa kita gali dan analisa sendiri jika dikaji lebih dalam.

Sekarang pilihan ada para diri kita masing-masing. Apakah kita mau beralih menggunakan pupuk organik dan mengkampanyekan budaya menggunakan pupuk organik atau tetap bertahan menggunakan pupuk kimia anorganik. Untuk mengetahui bagaimana cara membuat pupuk organik padat dan cair, saya yakin semua rekan kerja saya yang bergerak di bidang pertanian di YPK-Donders dengan senang hati akan membantu. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *