Siklus Ledakan Serangan Belalang Kembara: Memahami, Memitigasi, Membasmi | Villagerspost.com

Siklus Ledakan Serangan Belalang Kembara: Memahami, Memitigasi, Membasmi

Siklus hidup belalang kembara (dok. hermanu triwidodo)

Oleh: Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara & Pelayan Utama Klinik Tanaman IPB

Berdasarkan pengalaman menangani ledakan belalang kembara di Kalimatan Barat dan Lampung, serta sebagai ahli Ekologi Serangga, pada akhir tahun 2015, saya dapat meramalkan bahwa ledakan serangan belalang kembara Locusta migratoria (Orthoptera: Acridiidae) bisa terjadi pada tahun 2017. Oleh karenanya pada Bulan Juni 2016, sebagai Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara (GPN), saya memberikan warning kepada Koordinator GPN NTT yang berkedudukan di Sumba (Sdr Rahmat Adinata) tentang kemungkinan terjadinya ledakan belalang kembara dan meminta jajaran GPN Sumba berbenah diri menyiapkan agens hayati berupa patogen serangga untuk pengendaliannya pada saat populasinya masih rendah.

Pada saat kunjungan ke Sumba Timur bersama Tim Dewan Pertimbangan Presiden pada Agustus 2016, kembali saya mengingatkan ke jajaran pemerintah daerah, akademisi dan mahasiswa Universitas Wira Wacana, Waingapu. Saya juga memperingatkan teman-teman NGO, bahkan sempat siaran interaktif life di Radio Max Waingapu. Sebenarnya Jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur sudah mengantisipasi ledakan tersebut dan sudah memulai upaya mencegah dengan melakukan pemantauan dan pengendalian setempat (spot treatment) dengan insektisida. Tetapi kemampuannya sangat terbatas. Dinas Pertanian juga sudah meminta bantuan Kementerian Pertanian pusat untuk membantu menglokasikan mobil brigade proteksi dan sarana penunjangnya. Tetapi belum bisa terpenuhi.

Belalang kembara ini sangat luar biasa strategi hidupnya. Bermetamorfosis bertingkat (paurometabola) dari telur menjadi nimfa (seperti serangga dewasa tapi tidak bersayap) beberapa tingkat sebelum jadi dewasa. Telur diletakkan dalam tanah yang terbuka dan relatif gembur. Telur berumur paling cepat sekitar dua minggu sebelum menetas menjadi nimfa. Tetapi telur hanya akan menetas jika kelembaban tanah mencapai tingkat tertentu.

Hal ini untuk menjamin agar ketika menetas nimfanya terjamin makanannya. Pada tanah yang kering dimana tanaman tidak bisa tumbuh, telur tidak akan menetas, karena jika menetas akan mati karena tidak ada makanan yang tersedia. Nimfa berganti kulit sebanyak lima kali kemudian menjadi serangga dewasa. Perkembangan menjadi serangga dewasa kurang lebih memakan waktu lima minggu.

Jika terjadi kemarau panjang, akan terjadi penumpukan jumlah telur dan akan menetas bersama-sama ketika hujan telah turun dan kelembaban tanah cukup. Jika populasinya rendah, belalang ini hidup dalam fase soliter alias sendiri sendiri, tetapi jika populasi tinggi akan measuk dalam fase gregarious dimana belalang ini akan bergerak mencari makan secara bersama seperti ada komandonya. Pada fase gregarious inilah yang paling merusak.

Fase gregarious, fase hidup belalang yang paling membahayakan (dok. hermanu triwidodo)

Pada kunjungan bulan Oktober 2016, peringatan kembali diberikan dalam kuliah umum di Universitas Wira Wacana, dengan ramalan yang lebih akurat, yaitu jika bulan Desember 2016 hujan belum juga turun, maka peluang akan terjadinya ledakan di tahun 2017 semakin tinggi. Keyakinan akan terjadinya ledakan populasi dilatar-belakangi oleh kondisi riil lapang, sebagai berikut:

a. Populasi belalang pada tahun 2016 cukup banyak dan merata.
b. Adanya pembukaan lahan baru yang sangat luas dan terbuka, seperti pengembangan perkebunan tebu dll.
c. Keterbatasan kemampuan Dinas untuk melakukan upaya pengendalian (personel, sarana prasarana dan dana) dan banyak wilayah di luar kewenangan (seperti perkebunan swasta dll)
d. Partisipasi masyarakat yang belum terbangun dengan sempurna.

Oleh karenanya, jika bulan Desember hujan belum datang, pasti akan terjadi penumpukan jumlah telur yang akan menetas secara bersamaan di bulan akhir bulan Januari dan secara cepat berkembang biak. Fase gregarious akan terbentuk. Dan kalau sudah memasuki fase ini akan sangat sulit dikendalikan. Jumlah belalang yang jutaan akan bergerak bersama (jika masih dalam fase nimfa) seperti pasukan yang berbaris dan menghabiskan semua tanaman yang dilaluinya dalam hitungan jam (khususnya tanaman monokotil, seperti rumput, jagung, padi dll).

Jika fase gregariousnya sudah bersayap, belalang kembara akan terbang seperti awan hitam searah dengan arah angin, mendarat menghabiskan tanaman sambil meletakkan telur, kemudian terbang lagi ke pertanaman selanjutnya. Untuk menyikapi ledakan serangan belalang kembara ini, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan

a. Menjadikan musibah ledakan belalang sebagai alat introspeksi bagi semua pihak untuk menguatkan semangat gotong royong antar masyarakat, antar instansi pemerintah, antar pengusaha perkebunan, pertanian dan peternakan dan antar semua lembaga.
b. Melakukan mitigasi tentang proses terjadinya ledakan termasuk investigasi untuk menemukan breeding site awal dari mana munculnya populasi awal. Mitigasi tersebut dijadi dasar penyusunan strategi pengelolaan bencana kedepan.
c. Bagi petani jaringan GPN, diharapkan menyikapinya seperti menerima abu dari ledakan gunung berapi yang bisa diartikan menerima kiriman pupuk penyubur tanah. Anggota GPN diharapkan memerangkap atau mengumpulkan belalang yang datang dan dijadikannya untuk memperkaya pupuk kompos yang dibuat. Selain itu, anggota GPN juga diimbau untuk mengumpulkan belalang yang terserang jamur atau penyakit lain dan memprosesnya menjadi biang pestisida alami sebagai sarana pengendalian di musim yang akan datang.
d. Perlu upaya untuk melihat kerugian yang ditimbulkan oleh serangan belalang dan mengidentifikasi kelompok masyarakat rentan yang memerlukan bantuan agar terhindar dari musibah kelaparan. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *