Deklarasi Petani Muda Organik Bantaran Sungai | Villagerspost.com

Deklarasi Petani Muda Organik Bantaran Sungai

PETANI MUDA LONG colour YouTube play
Bojong Gede, Villagerspost.com – Puluhan pemuda yang tinggal di kawasan sekitar bantaran sungai Ciliwung dari kawasan Bojong Gede-Depok berkumpul di Kampung Glonggong, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Minggu dua pekan lalu. Sejak pagi, para pemuda tersebut sudah mulai beraktivitas yang dimulai dengan berolahraga bersama di pinggiran sungai Ciliwung yang melintasi kampung Glonggong.

Para pemuda tersebut adalah anggota Yayasan Lintas Sungai Abadi (Yalisa) yang berkumpul untuk melaksanakan pelatihan pertanian organik. Pelatihan tersebut dilaksanakan di sebuah demplot seluas 250 meter persegi yang terletak tak jauh dari bantaran sungai Ciliwung.

Pelatihan pertanian organik tersebut dibuka dengan paparan tentang pentingnya pengembangan pertanian secara organik oleh Dian Askhabul Yamin, fasilitator pelatihan pertanian organik dari Yayasan Bina Sarana Bakti, yang sudah sejak 30 tahun lalu bergerak dalam bidang pengembangan pertanian organik. Dalam paparannya, Yamin–demikian dia biasa disapa–mengatakan, pertanian organik pada dasarnya adalah pertanian yang dijalankan dengan cara menjaga keseimbangan alam.

“Pada dasarnya, apa yang disebut sebagai hama misalnya, adalah organisme yang sebenarnya sudah ada dalam bagian ekosistem sebuah lahan. Dia menjadi penganggu ketika keseimbangan ekosistem terganggu, misalnya musuh alaminya dibasmi,” katanya.

Usai pemberian teori secara singkat, Yamin kemudian mengajak para peserta pelatihan untuk melakukan praktik langsung di lahan. Anak-anak muda tersebut mula-mula belajar cara membuat bedengan untuk menanam sayuran secara organik. “Tanah di bagian atas ini atau top soil adalah tanah yang banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, kita akan menanam di lapisan tanah ini,” kata Yamin.

Untuk membuat bedengan, mula-mula lapisan tanah bagian atas yang subur digali hingga kedalaman tertentu ketika lapisan tanah subur yang berwarna agak kehitaman itu, tak lagi ditemukan. “Kalau di sini lahannya subur, lapisan top soil bisa sampai kedalaman 20 sentimeter,” kata Yamin.

Setelah tanah digali, kemudian, lubang awal berukuran 50×50 centimeter tersebut diisi dengan pupuk kompos, atau jika tidak ada bisa diisi dengan hijauan yang bisa ditemukan di sekitar lahan. Proses penggalian berlangsung hingga terbentuk bedengan berukuran antara 1×5 meter atau idealnya adalah 1×10 meter. “Hijauan yang kita timbun ini nantinya akan membusuk menjadi kompos dan bisa menjadi pupuk alami bagi tanaman,” terang Yamin.

Selain belajar membuat bedengan, para pemuda tersebut juga diajarkan untuk membuat persemaian secara alami dengan menggunakan daun pisang. Mereka juga diajarkan untuk membuat pupuk cair dan mencampur pupuk organik pada lahan sebagai pupuk dasar sebelum memulai menanam.

Acara ditutup dengan deklarasi petani muda organik bantaran sungai. Para peserta pun mengaku senang dengan pengalaman yang didapat. Iyong, pemuda yang menjadi pimpinan anak-anak muda yang tergabung dalam Sekolah Kolong Jembatan Jalan Juanda Depok mengatakan, ilmu yang didapat dari pelatihan ini akan segera diterapkan pada lahan tidur di sepanjang bantaran Ciliwung yang mengalir di kawasan Jalan Juanda.

“Kami akan segera membuat bedengan dan mulai melakukan penanaman supaya tak kalah dari anak-anak Bojong Gede,” ujarnya dengan semangat.

Eka Suriansyah, Ketua Umum Yalisa berharap, dengan pelatihan ini selain memberi bekal kepada anak-anak muda untuk bisa bertani sekaligus merawat lingkungan, juga bisa menginspirasi masyarakat sekitar sungai Ciliwung untuk juga mengembangkan pertanian organik. “Banyak warga yang sudah bertani, namun belum mengembangkan pertanian organik, ke depan kita ajak mereka agar pertanian di kawasan sungai bisa sekaligus menjaga kelestarian sungai,” ujarnya.

Laporan/Video: Tim Jurnalis Warga Bojong Gede untuk Villagerspost.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *