Diskusi Rujak: Kampung Kota Solusi Hak Hunian Layak | Villagerspost.com

Diskusi Rujak: Kampung Kota Solusi Hak Hunian Layak

Kampung Kota YouTube play
Jakarta, Villagerspost.com – Rujak Center for Urban Studies kembali menggelar diskusi terkait kebijakan penataan kota. Dalam diskusi yang digelar di Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/10), Rujak mengemukakan tema “Kampung Kota Solusi Hak Hunian Layak”.

Hal utama yang menjadi sorotan dalam diskusi kali ini adalah terkait perilaku perencana kota yang melihat kampung kota justru sebagai bagian yang “mengganggu” keindahan kota. Maka dari itu, penggusuran kemudian menjadi solusi mudah yang dilaksanakan pemerintah kota.

Siti Rakhma dari YLBHI mengatakan, kasus penggusuran adalah kasus yang sangat serius. Pasalnya, penggusuran tak meninggalkan solusi bagi warga yang tergusur. “Kemana keluarga yang digusur? Masyarakat yang tergusur pindah ke rumah susun, namun disitu penderitaan dimulai,” ujarnya.

Hidup di rumah susun, warga kemudian dicekik oleh berbagai persoalan mulai dari kehilangan pekerjaan, tagihan sewa yang tinggi, biaya listrik yang mencekik dan lain-lain. “Berdasarkan penelitian LBH Jakarta, rumah susun sangat “mencekik” masyarakat,” ujarnya.

LBH mencatat, yang agak mengherankan orang yang tergusur adalah orang yang telah lama menghuni lahan tersebut, yang umumnya sudah tinggal lebih dari 20 tahun. ”Tinggal lama di sebuah hunian tidak menjamin masyarakat aman,” ujarnya.

Karena itu YLBHI merekomendasikan untuk permasalahan hak hunian, harus dilakukan prinsip keadilan untuk masyarakat. “Mendesain konsolidasi tanah perkotaan dengan cara berdialog dengan masyarakat, dan adanya reforma agraria yang diawali dengan menyelesaikan konflik,” tegasnya.

Sementara itu, Indriana Pratiwi dari Rujak mengatakan, kampung kota justru bisa menjadi solusi penataan kota yang layak. “Selama ini kampung kota adalah suatu entitas yang sangat beragam, namun hal mendasarnya adalah mereka bisa berkolaborasi,” ujarnya.

Marco Kusumawijaya, arsitek yang juga seorang urbanis menilai, pembangunan kota yang baik membawa semangat untuk tidak hanya mempertahankan kampung, tapi juga untuk meningkatkan kualitas kampung itu sendiri. “Kampung adalah perantara menuju komunitas yang lebih besar, dalam hal ini negara,” ujarnya.

Komunitas di kampung adalah komunitas yang nyata dengan segala aspek di dalamnya. Perencanaan kampung sekarang sebaiknya melibatkan penghuni aslinya. “Kampung mempunyai potensi untuk perencanaan masa depan sebagai kritik atas negara, modal, dan nafsu untuk membangun kota yang tidak terencana,” tegas Marco.

Laporan/Video: M. Agung Riyadi/Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *