Erupsi Gunung Agung, Petani Karangasem Buntung | Villagerspost.com

Erupsi Gunung Agung, Petani Karangasem Buntung

Gunung Agung di Bali, terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi yang ditandai dengan beberapa kali erupsi (dok. villagerspost.com/nyoman hendra adi wibowo)

Karangasem, Villagerspost.com – Aktivitas vulkanik Gunung Agung, Karangasem, Bali masih tinggi. Dalam minggu ini, tercatat terjadi erupsi sebanyak dua kali hembusan abu vulkanik yang mencapai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan kawah. Akibatnya sejumlah desa di kaki gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut terpapar hujan abu berintensitas sedang.

Akibat hujan abu, para petani di Karangasem, yang memiliki lahan di kaki Gunung Agung pun jadi buntung. Seperti yang dialami oleh Nyoman Widana, petani hortikultura yang memiliki lahan pertanian di kaki Gunung Agung. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung menyebabkan komoditas hortikultura miliknya gagal panen.

Nyoman Widana, petani dari Karangasem, Bali melaporkan, debu vulkanis Gunung Agung membuat petani merugi (dok. villagerspost.com/nyoman hendra adi wibowo)

Kebun seluas dua hektare yang terletak di Dusun Pemutaran, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Bali itu ditanami bermacam komoditas, antara lain sayuran, seperti sawi, kol, dan berbagai komoditas buah, seperti lemon, dan jeruk.

“(Komoditas) yang rusak sayur sawi, kol, (buah) lemon, jeruk. Sejak tanggal 28 Juni (2018) gara-gara hujan (abu vulkanik). Kerugian saya mencapai Rp 10 juta untuk sayuran, dan Rp15 juta untuk buah,” ujar Widana kepada Nyoman Hendra Adi Wibowo, jurnalis warga untuk Villagerspost.com, belum lama ini.

Lahan sayuran di kaki Gunung Agung rusak tertutup debu vulkanik dari Gunung Agung (dok.villagerspost.com/nyoman hendra adi wibowo)

Sementara itu, Widana mengaku tidak mengungsi karena dirinya menganggap status Gunung Agung masih aman. Begitu pula, kata dia, yang dilakukan petani lainnya di Karangasem. Widana mengatakan, sejumlah petani memilih tinggal demi menjaga lahan pertanian masing-masing.

“Jarak pemukiman kami (dari Gunung Agung) 10 kilometer, jadi masih aman. Kalau kami mengungsi kami terpaksa meminjam uang (berutang) karena tidak ada tabungan dan penghasilan (selain dari pertanian). Apalagi hasil pertanian rusak,” ungkap Widana.

Lahan-lahan pertanian di desa-desa di kaki Gunung Agung, di Karangasem, terancam oleh erupsi Gunung Agung (dok. villagerspost.com/nyoman hendra adi wibowo)

Untuk saat ini, lanjutnya, petani di kawasan Gunung Agung, belum berani menanam komoditas pertanian dalam jumlah besar, mengingat status aktivitas vulkanik Gunung Agung yang tidak menentu.
“Tanah harus diolah ulang, kami harus beli pupuk lagi. Karena abu (vulkanik) mengandung belerang, yang menyebabkan tanaman rusak,” urainya.

Sementara itu, ribuan warga masih bertahan di sejumlah posko pertanian yang tersebar di tiga Kecamatan di Karangasem, seperti Kecamatan Rendang, Kecamatan Selat, dan Kecamatan Bebandem. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, jumlah total pengungsi di Karangasem mencapai 351 jiwa yang menempati 51 posko pengungsian.

Foto dan Artikel: Nyoman Hendra Adi Wibowo, Jurnalis Warga Untuk Villagerspost.com.

Editor: Rizaldi Abror

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *