Kebun Konservasi Desa Rakawatu Diduga Dibakar Tangan Jahil | Villagerspost.com

Kebun Konservasi Desa Rakawatu Diduga Dibakar Tangan Jahil

Kondisi lahan sebelum terbakar (dok. yayasan marada)

Maria Anajua, meratapi pohon-pohon milik warga dampingannya yang terbakar (dok. yayasan marada)

Hamparan lahan pertanian konservasi yang hangus, diduga dibakar oleh tangan-tangan jahil (dok. yayasan marada)

Maria Anajua memeriksa sisa pohon yang masih selamat dari amukan api (dok. yayasan marada)

Tanah menghitam akibat panas api yang cukup besar membakar lahan pertanian konservasi (dok. yayasan marada)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Raut kesedihan membayang di wajah Maria Anajua, pendamping petani dari Yayasan Martabat Rakyat Merdeka (Marada) yang selama ini rajin mendampingi para petani dari Desa Rakawatu, Kecamatan Lewa, Sumba Timur. Bagaimana tidak? Lahan pertanin konservasi yang dibangun bersama-sama petani Rakawatu itu mendadak habis terbakar, pada Sabtu (2/9) lalu.

Lahan tersebut merupakan lahan percontohan dari program MCA Indonesia bekerja sama dengan Konsorsium Subur Makmur DAS Kadahang (SMDK) Sumba. Maria menduga, lahan pertanian konservasi itu bukan terbakar melainkan dibakar tangan-tangan jahil.

“Ini sepertinya ada faktor kesengajaan dari orang yang tidak bertanggung jawab, hingga pohon-pohon yang sudah ditanam pun ikut hangus,” kata Maria, kepada Villagerspost.com, Senin (4/9).

“Saya sedih dan marah melihat kejadian ini. Ada pohon salam, mahoni, gamalina, injuwatu yang kami tanam, hangus terbakar,” tambah Ibu dua anak ini.

“Kemarau sudah beberapa bulan dengan disertai angin kencang, jadi api sangat mudah sekali menyebar,” pungkas Maria.

Tay Hunga Meha, ketua kelompok petani Desa Rakawatu juga mengaku kecewa. “Kecewa,sedih dan marah menyaksikan situasi ini. Semuanya habis terbakar, kami tanam sejak bulan Februari lalu, semuanya ada 2.650 pohon. Padahal anggota petani berjuang keras agar pohon yang ditanam bisa bertahan hidup, dengan sistem irigasi tetes menggunakan ruas bambu,” tuturnya.

Sem Anamaari sesama pendamping dari MARADA pun angkat bicara dengan kejadian yang menimpa desa dampingan kawannya ini. “Sangat disayangkan…dan butuh perhatian serta keperdulian semua pihak. Satu orang berbuat, semua orang kena imbasnya sebab ini menyangkut lingkungan,” ujarnya.

Laporan: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com
Foto-Foto: Yayasan Marada

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *