Nelayan Bunaken Lepasliarkan Duyung yang Nyaris Terdampar ke Habitatnya | Villagerspost.com

Nelayan Bunaken Lepasliarkan Duyung yang Nyaris Terdampar ke Habitatnya

DUYUNG (Dugong dugon) DI MANTEHAGE KEMBALI KE HABITATNYA YouTube play
Minahasa Utara, Villagerspost.com – Kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh nelayan-nelayan yang tinggal di kawasan sekitar Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara. Belum lama ini mereka melepasliarkan kembali penyu yang tak sengaja terjerat jaring. Pada Jumat (27/7) kemarin, para nelayan juga melepasliarkan kembali duyung (Dugong dugon) yang nyaris terdampar di kawasan padang lamun Nyare.

Pelepasliaran dilaksanakan di perairan Desa Tinongko, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Duyung yang dilepaslirkan kembali itu adalah seekor anakan duyung betina yang memiliki panjang 135 cm, lebar dada 30 cm dan lebar ekor 26 cm. Acara ini dilakukan pada pukul 14.49 wita dengan disaksikan oleh Hukum Tua Tinongko, Babinkamtibmas, anak-anak sekolah dan Masyarakat Mantehage.

Masyarakat turut menyaksikan anakan duyung yang akan dilepasliarkan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Penemuan satwa tersebut berawal saat keluarga nelayan mencari ikan diseputaran perairan Desa Tinongko Pulau Mantehage, pada hari Kamis 26 Juli 2018. Adalah pasangan nelayan Cornelis Ma’ati dan Manede Ma’apo yang menemukan seekor duyung yang diperkirakan merupakan anakan, di sekitar rataan terumbu yang banyak ditumbuhi lamun.

Binatang ni dia so salalu mancari makang di Nyare, jang kage lupa klo air turung kong mo tadampar (satwa ini sering mencari makan di area Nyare yang ditumbuhi lamun, jangan sampai dia kelupaan bahwa air surut jauh lalu terdampar),” kata Cornelis Ma’ati, kepada Villagerspost.com.

Selanjutnya oleh keluarga nelayan tersebut anakan duyung digiring ke arah laut dalam agar tidak terdampar. Namun, masih di hari yang sama, Kamis (26/7) pada sore harinya warga Desa Tinongko kembali menemukan duyung lagi, yang berlokasi di rataan terumbu (nyare) sekitar penemuan duyung pertama. Saat itu kondisi air laut sudah surut jauh, sehingga pergerakan duyung juga tidak leluasa lagi.

Setelah di cek terdapat kemiripan dengan duyung sebelumnya, sehingga disimpulkan bisa jadi satwa yang ditemukan sore harinya masih satwa yang sama saat keluarga nelayan menggiring ke arah laut. Selanjutnya warga membawa duyung tersebut ke darat, dengan dibopong dan dimasukan dalam box ikan, perlakuan ini diambil oleh warga mengingat air semakin surut dan dikawatirkan justru duyung semakin terluka terkena batu-batu karang.

Anakan duyung yang akan dilepasliarka diadaptasikan terlebih dahulu (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Kemudian warga melaporkan pada pihak Balai Taman Nasional Bunaken dan Pemerintah Desa Tinongko. Balai Taman Nasional Bunaken setelah mendapatkan laporan segera merespons dan akan melepas pada malam harinya saat air pasang, akan tetapi berhubung satwa langka ini jarang ditemui maka inisiatif dari pemerintah setempat, satwa tersebut dilepas pada Jumat (27/7), setelah sebelumnya dilakukan pendataan. Pelepasan disaksikan oleh Bupati Minahasa Utara.

“Kami dari pemerintah desa siap berkoordinasi dengan pihak Balai Taman Nasional Bunaken bila ditemukan kejadian serupa ataupun terkait dengan kawasan Taman Nasional,” kata Hukum Tua Tinongko Steri Adrian.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Arma Janti Massang, M.Si dalam sambutan di acara pelepasan satwa duyung ke habitatnya itu menyampaikan, duyung merupakan satwa yang langka, status perlindungannya sebagaimana tertuang dalam PP 7/99 tentang Pengawetan Jenia dan Satwa Liar.

Satwa ini sering mencari makan pada area yang banyak ditumbuhi lamun, utamanya pada area rataan terumbu yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Sering kemunculannya pada bulan gelap dan bulan terang. “Kebetulan saat ini adalah bulan pernama, sehingga satwa tersebut nampak sekaligus mencari makan diarea sekitar ini,” ujarnya.

Arma menilai, kemunculan duyung di sekitar perairan Desa Tinongko menandakan, wilayah jelajah satwa berada di tempat ini, baik saat bermain ataupun beraktivitas mencari makan, hal ini juga menandakan bahwa lokasi rataan terumbu yang ditumbuhi lamun masih terjaga dengan baik kelestariannya. “Kami mengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan dan satwa duyung apabila menemukan lagi,” tutup Arma.

Laporan/Foto/Video: Eko Wahyu Handoyo, S.Hut, PEH Pada Balai Taman Nasional Bunaken, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *