Pemusnahan Belalang Kembara dengan Pestisida Langkah Bunuh Diri | Villagerspost.com

Pemusnahan Belalang Kembara dengan Pestisida Langkah Bunuh Diri

Dahsyatnya serangan belalang d Waingapu1 YouTube play
Waingapu, Villagerspost.com – Langkah pemerintah kota Waingapu dan kabupaten Sumba Timur menggunakan pestisida untuk memusnahkan serangan belalang kembara dinilai sebagai langkah “bunuh diri”. “Penggunaan pestisida untuk membasmi belalang akan seperti menggali kubur baru dan mendatangkan petaka. Khususnya untuk Sumba Timur dengan savananya plus penggembalaan ternak yang dilepas leluasa,” kata pakar proteksi tanaman dari Fakultas Pertanian IPB Dr.Ir. Hermanu Triwidodo kepada Villagerspost.com, Kamis (15/6)

Petani menggunakan pestisida untuk memusnahkan belalang kembara (dok. gerakan petani nusantara)

Hermanu menegaskan, penggunaan pestisida berbahaya untuk kesehatan ternak dan lingkungan, khususnya bagi satwa liar yaitu burung. Selain itu, penggunaan pestisida juga bisa menimbulkan bahaya di peternakan, karena rumputan yang menjadi pakan ternak teracuni pestisida dan bisa memicu ledakan hama jagung seperti Heliothis dan lain-lain. “Mohon dinas dan pemda diingatkan. Penggunaan racun kimia harus dihindari. Gunakan patogen serangga,” tegas Hermanu.

Hermanu yang juga Ketua Gerakan Petani Nusantara menjelaskan, dia sudah mengeluarkan perintah harian buat para anggota GPN di Sumba Timur dan Komunitas Radio Max untuk mengumpulkan belalang-belalang sakit di lahan-lahan “bekas” serangan alias yang baru “dilalui” massa belalang. “Gerus dan tambahkan air gula dan lain lain untuk disemprotkan ke daerah yang sedang dan akan dihinggapi belalang. Ini sebagai upaya yang lebih rasional dan terukur serta membangkitkan semangat kebersamaan dan gotong royong rakyat dan semua pihak,” kata Hermanu.

Belalang memenuhi jalan dan padang savana di Waingapu (dok. gerakan petani nusantara)

Dia sekali lagi mengingatkan, hama belalang kembara di Sumba Timur makin mengganas dan pengendalian dengan insektisida tidak akan menyelesaikan masalah. “Kerusakan terhadap tanaman malah akan memicu perkembangan populasi sehingga bermigrasi dari satu wilayah ke wilayah lain. Oleh sebab itu sebaiknya cari model pengelolaan hama yang bersifat ramah lingkungan bahkan bisa dimanfaatkan sebagai produk yang mempunyai nilai ekonomis,” ungkapnya.

Video: Novi Kristanti, warga Desa Lepuri, Waingapu, Sumba Timur.

Naskah/Foto: Gerakan Petani Nusantara Sumba Timur

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *