Petani Sumba Timur Ubah Keong Mas dari Hama Menjadi Pakan Ternak | Villagerspost.com

Petani Sumba Timur Ubah Keong Mas dari Hama Menjadi Pakan Ternak

Para petani perempuan Sumba Timur siap mengolah keong mas yang baru ditangkap untuk dijadikan pakan ikan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Para petani perempuan Sumba Timur siap mengolah keong mas yang baru ditangkap untuk dijadikan pakan ikan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Membangkar cangkang keong mas untuk dijadikan tepung tulang (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Membangkar cangkang keong mas untuk dijadikan tepung tulang (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Menghaluskan cangkang dan daging keong mas untuk diolah menjadi tepung tulang dan tepung ikan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Menghaluskan cangkang dan daging keong mas untuk diolah menjadi tepung tulang dan tepung ikan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Menumbuk cangkang dan daging keong mas menjadi tepung untuk pakan ternak (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Menumbuk cangkang dan daging keong mas menjadi tepung untuk pakan ternak (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Daging dan cangkang keong mas yang sudah dihaluskan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Daging dan cangkang keong mas yang sudah dihaluskan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Bagi petani padi sawah, keong mas (Pomacea canaliculata) merupakan hama serta musuh yang harus dibasmi kebeÅ•adaanya. Pasalnya, jenis makhluk yang satu ini sering merugikan petani, karena sering merusak tanaman padi yang baru ditanam.

Entah berapa biaya yang sudah dikeluarkan oleh petani untuk menangani hama keong mas ini. Padahal dengan jenis obat apapun keong mas tidak akan bisa dicegah. Buktinya semakin banyak disemprot dengan pestisida, jumlahnya malah makin tambah banyak di sawah hingga saat ini.

Keong mas sulit dibasmi dengan pestisida karena keong mas merupakan mahluk air dan memiliki rumah atau cangkang (tempurung) sebagai tempat berlindung. Jika disemprot pestisida, yang kena semprot hanya satu-dua ekor namun yang lainnya bertelur beribu-ribu ekor.

Petani pun dibuat kelimpungan menghadapinya karena biaya perawatan padi menjadi membengkak. “Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp300.000 setiap kali tanam untuk basmi keong mas dalam satu hektare. Anehnya bukan hilang malahan tambah banyak,” ujar Umbu Erto, petani dari Nggongi Sumba Timur, kepada Villagerspost.com.

Namun kini, para petani di Sumba Timur, punya strategi lain untuk “membasmi” si hama keong mas. Di beberapa tempat daerah Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Timur, petani yang telah menerapkan tanam padi organik dengan pola System of Rice Intensification (SRI) keong mas bukan masalah lagi.

Keong mas alih-alih menjadi musuh, malah jadi sahabat bagi para petani padi organik Sumba. Hama keong mas tidak dibasmi dengan cara disemprot dengan pestisida, tetapi dengan cara ditangkap dan diolah menjadi pakan ternak, khususnya untuk pakan ikan.

Keong mas memang cukup potensial untuk dijadikan sumber protein bagi ternak. Pasalnya, di dalam tubuh sang hama tanaman padi dan sayuran ini, ternyata terkandung kadar gizi yang baik yang terdiri dari kalori dan karbohidrat. Keong mas juga mengandung vitamin dan mineral seperti kalsium, natrium, kalium, fosfor, magnesium, seng dan zat besi.

Karena itu para petani padi organik Sumba Timur pun justru menyediakan “lahan khusus” bagi keong mas untuk berkembang di sawah mereka. Caranya, pada setiap petak sawah dibuatkan parit kecil untuk tempat keong mas berkembang. Setelah terkumpul dalam jumlah banyak, barulah si keong mas diambil untuk kebutuhan pakan ternak.

Cara mengolah keong mas menjadi pakan ternak pun cukup mudah. Caranya, daging keong dipisahkan dari cangkangnya. Kemudian daging keong dikeringkan dan setelah kering ditumbuk untuk dijadikan tepung ikan. Sementara, cangkangnya dibakar hingga kering, kemudian ditumbuk dan dijadikan tepung tulang.

Kedua tepung inilah yang kemudian diolah menjadi pakan ikan. Cara ini jelas lebih bermanfaat bagi petani dan juga petambak ikan. Pasalnya, Indonesia masih mengimpor bahan baku pakan, seperti tepung ikan dan tepung tulang, yang mencapai ratusan ribu ton dalam setahun. (*)

Ikuti informasi terkait pertanian organik Sumba >> di sini <<

Laporan/Foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara Sumba Timur, NTT

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *