Si Pedas Dari Sang Transmigran | Villagerspost.com

Si Pedas Dari Sang Transmigran

Si Pedas Dari Sang Transmigran YouTube play
Batanghari, Villagerspost.com – Jauhnya sumber air, tak membuat tekad para petani cabai di Tindarkuranji, Kecamatan Muaro Debo Ilir, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, untuk terus membudidayakan tanaman yang terkenal karena rasa pedasnya itu. Untuk menyiasati sulitnya air, para petani yang umumnya adalah transmigran asal Jawa Barat itu, hanya menanamnya pada musim penghujan.

“Tanamnya hanya sekali dalam setahun,” ujar Wawan Kurniawan, petani cabai keriting di Tindarkuranji, kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Wawan, bersama warga lainnya membudidayakan cabai keriting dengan alasan harga yang bagus. “Harga cabai kriting sangat lumayanlah, kadang kita juga mau tanam sering ngintip harga jual di pasaran, seperti empat bulan ke belakang harga cabai turun drastis, namun sekarang harganya di atas Rp25 ribu per kilo-nya,” kata warga transmigran yang berasal dari Bandung Jawa Barat ini.

Wawan masuk ke wilayah Jambi pada tahun 2005 lalu. Dia sebelumnya adalah warga dari Kampung Ranca Gede, Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Karena daerah asalnya adalah kawasan tempat budidaya hortikultura, maka tidak mengherankan begitu ketemu lahan kosong yang bisa ditanami sayuran semisal cabai keriting, langsung tancap gas, selain memelihara kebun sawit pemberian dari pemerintah sebagai peserta transmigrasi di wilayah Batanghari,Jambi.

Wawan mengatakan, selain cuaca, tantangan menjadi petani di kawasan transmigrasi di Jambi adalah mahalnya tenaga kerja. “Untuk mengolah lahan yang bisa ditanami, kendalanya seperti mencangkul biayanya terhitung mahal, sebab masih mengandalkan tenaga manusia. Coba ada mesin hand tractor, bantuan dari pemerintah,mungkin dari sisi pengolahan serta biaya akan lebih cepat dan murah,” harap Wawan.

Saat ini, tanaman cabai kriting yang dibudidayakan Wawan, sudah mencapai sekitar 27.000 pohon, dan baru dipanen 4 kali saja. “Biasanya hingga 26 kali panen, sedangkan untuk pemasaran tidak terlalu sulit, tahu sendiri kan orang sini (Sumatera) paling suka masakan yang pedas-pedas,” tuturnya.

“Setelah panen cabai kriting habis, baru kita pulang kampung bersama keluarga ke Bandung, sedangkan hasil perkebunan sawit ditabung dan bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan yang lain,” pungkasnya.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *