Superhero Pembela Lautan “Serbu” Konferensi Perikanan Pasifik Barat dan Tengah | Villagerspost.com

Superhero Pembela Lautan “Serbu” Konferensi Perikanan Pasifik Barat dan Tengah

Para superhero pembela lautan berfoto bersama para peserta konferensi WCPFC ke-14 di Manila (dok. greenpeace/jilson tiu)

Aquaman dan Mera membawa pesan agar peserta konferensi WCPFC menjadi pembela lautan (dok. greenpeace/jilson tiu)

Para peserta konferensi WCPFC ke-14 di Manila (dok. greenpeace/jilson tiu)

berpose bersama Little Mermaid dan kawan-kawan (dok. villagerspost.com/jilson tiu)

Formasi lengkap para superhero laut dengan pesan agar kita bisa menjadi para pahlawan laut (dok. greenpeace/jilson tiu)

Jakarta, Villagerspost.com – Para superhero pembela lautan mendadak menyerbu ke ruang tempat berlangsungnya Konferensi Perikanan Pasifik Barat dan Tengah (Western and Central Pacific Fisheries Conference–WCPFC) ke-14 yang berlangsung hari ini, Minggu (3/12). Para superhero yang terdiri dari Prince Eric, The Little Mermaid, Barnacle Boy, Mermaid Man, Aquaman and Mera, datang membawa pesan kepada para delegasi WCPFC untuk menjadi “Pahlawan Pembela Lautan” seperti mereka.

Tentunya para pahlawan yang muncul ini bukanlah superhero betulan, mereka adalah para aktivis Greenpeace yang sengaja memakai kostum pahlawan laut, agar pesan yang mereka bawa sampai kepada para peserta. Dalam kesempatan itu, Greenpeace mendesak disusunya ukuran yang lebih ketat terkait pengumpulan data dan aturan penangkapan ikan dan pembatasa poin acuan penangkapan ikan.

Dalam pertemuan WCPFC ke 14 di Manila yang berlangsung tanggal 3-7 Desember 2017, Greenpeace berharap WCPFC menyetujui acuan manajemen dan konservasi yang lebih meyakinkan tercapainya pemulihan populasi ikan yang mengalami over eksploitasi seperti tuna dengan cepat.

Terkait hal itu sebelumnya, Greenpeace menyatakan hal-hal yang harus disepakati, antara lain: kapal-kapal jaring (purseiner) harus menyepakati pengurangan besar-besaran jumlah rumpon (Fish Aggregating Devices-FADs), serta aturan ketat untuk pelaporan dan transparansi penggunaan rumpon. Kemudian, pengawasan dan kontrol yang lebih ketat terhadap kapal longliner, serta penerapan target stok, titik batas eksploitasi dan pengelolaan strategis.

“Meski komitmen saat ini sudah tepat arahnya dan beberapa pelaku industri sudah mengambil inisiatif dalam mengatasi penangkapan berlebih, penangkapan ikan ilegal dan perbudakan di laut, WCPFC tetap bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perubahan positif bagi laut bisa terjadi dengan menyepakati aturan-aturan yang lebih kuat,” tegas Arifsyah Nasution, Jurukampanye Laut Greenpeace Indonesia.

“Ini bisa terwujud dengan menyepakati aturan-aturan penting mengenai pengumpulan data, manajemen kapasitas penangkapan ikan termasuk rumpon, stok ikan, metode MCS (Monitoring, Control and Surveillance) termasuk transhipment (alih muat di tengah laut), serta pengendalian panen (eksploitasi),” tambahnya. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *