Teknik Tanam Kentang dari Stek Tunas | Villagerspost.com

Teknik Tanam Kentang dari Stek Tunas

Tanam Kentang Dengan Stek Tunasnya YouTube play
Kabupaten Bandung, Villagerspost.com – Beragam teknik budidaya kentang kini mulai dikembangkan oleh petani kentang dari dataran tinggi Pangalengan di Kabupaten Bandung. Selain budidaya secara umum dari umbi, menanam dari biji, para petani juga kini mengembangkan teknik tanam kentang dari stek tunas.

Ai Siti Wasitoh, petani kentang dari Desa Sukamanah mengatakan, stek tunas tersebut diambil dari plantlet (individu baru dan kecil hasil dari teknik perbanyak tumbuhan) kultur jaringan yang sudah di-aklimatisasi. Stek ini kemudian langsung ditanam ke lahan yang luas

“Karena ini langsung tanam di lahan luas dari stek, nantinya jadi ukuran benih G-2. Sedangkan dari stek itu sendiri bila ditanam di dalam screen house jadi ukuran G-0 atau bisa juga G-1,” ujar Siti Wasitoh.

Perlu kehati-hatian dari pembudidaya pada saat melakukan pemotongan stek untuk mencegah penyebaran virus dan penyakit lainnya. Pembudidaya harus mencuci tangan dan pisau pemotong dengan bersih–bisa juga menggunakan deterjen– sebelum melakukan pemotongan. Juga pembudidaya harus menggunakan pakaian yang besih.

Keunggulan teknik ini memang ada pada cara perbanyakan yang cepat sehingga bibit bisa ditanam di lahan yang luas. Dalam waktu 4-6 minggu, tanaman yang berasal dari stek tunas ini akan menghasilkan umbi-umbi kecil yang siap untuk dijadikan benih siap tanam di lahan.

Keunggulan lainnya adalah jikapun petani tidak melakukan stek sendiri, harga tunas hasil stek ini relatif murah ketimbang benih dari umbi. Harga benih kentang G-1 (generasi kesatu) dan G-2 misalnya, berada di kisaran Rp23.000 sampai Rp27.000 per kilogram.

Teknik ini juga memiliki keunggulan benih yang bebas patogen dan berkualitas baik. Namun, kelemahannya adalah umbi yang dihasilkan bentuknya tidak seragam dan tidak beraturan.

Teknik penyiraman pun harus dilakukan dengan hati-hati dengan semprotan yang halus, agar tidak merusak kontak antara daun dengan media. Selain itu juga diperlukan naungan atau screen house untuk melindungi daun dari kelayuan dan menghindarkan penyinaran yang terlalu panas.

Saat ini para petani di Pangalengan sudah mengaplikasikan teknik ini untuk menghasilkan ribuan bibit. “Hari ini (Sabtu 20 Januari-red), baru tanam sekitar 8.000 stekan tunas kentang, harga satu stekan kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500/stek,” ujarnya.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *