Agroekologi, Belajar Dari Kearifan Masa Lalu | Villagerspost.com

Agroekologi, Belajar Dari Kearifan Masa Lalu

Peserta antusian mengikuti seminar agroekologi nusantara di Kampus IPB, Bogor, Selasa (29/11) (dok. villagerspost.com/usi nuraprita)

Peserta antusian mengikuti seminar agroekologi nusantara di Kampus IPB, Bogor, Selasa (29/11) (dok. villagerspost.com/usi nuraprita)

Bogor, Villagerspost.com – Kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun dari masa lalu, sebenarnya bisa menjadi bahan pelajaran bagi para pengambil kebijakan pertanian di era sekarang jika ingin menyelamatkan pertanian dari kehancuran. Salah satunya adalah lewat mempelajari kembali pertanian ramah lingkungan yang menjadi praktik umum bagi petani skala kecil di masa lalu.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Bisri Effendi mengatakan, pertanian tradisional atau pertanian tempo dulu masih relevan diterapkan untuk saat ini. “Petani tradisional mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada orang lain,” kata Bisri dalam diskusi tematik dalam seminar “Agroekologi Nusantara” yang dihelat di kampus IPB, Bogor, Selasa (29/11).

Selain itu, kata Bisri, petani jaman dahulu selalu memiliki lumbung pangan masing-masing di setiap rumah mereka untuk menyimpan hasil panennya. Pada saat masa tanam akan tiba, petani jaman dulu sering mengadakan ritual/selamatan/sedekah kepada alam. Tapi saat ini petani sudah tidak melakukannya lagi karena petani sudah berpikir komersial.

“Pemikiran petani kita saat ini ‘dijajah’ oleh teori-teori, pemikiran dari orang luar. Petani menjadi sangat ketergantungan akan bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah sehingga petani tidak mandiri,” terangnya.

Kebijakan dan program dari pemerintah malah membunuh kreativitas petani. Contohnya program revolusi hijau di era Soeharto yang memaksa petani mengubah cara tanam, mengganti benih/bibit lokal dengan benih unggul yang diproduksi orang luar bahkan pengolahan pasca panen juga berubah. “Padahal petani mampu memproduksi benih atau bibit sendiri,” katanya.

Petani juga “diajari” bergaya hidup konsumtif, yaitu “budaya” menjual hasil panen untuk membeli barang-barang elektronik, motor dan lain lain barang mewah. “Budaya seperti itu sedang marak dilakukan petani saat ini. Tidak adanya gotong royong, kebersamaan, dan saling peduli antar sesama petani, sudah mulai terkikis saat ini,” katanya.

Bisri mengatakan, petani tradisional seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan negeri apabila pemikiran petani kembali ke jaman tempo dulu seperti meneguhkan paguyuban, gotong royong, religius dan saling peduli. “Tapi untuk mengembalikan pemikiran tersebut dibutuhkan usaha yang keras terutama membasmi ‘wereng-wereng’ di pemerintahan,” sindirnya.

Hal senada juga disampaikan budayawan Mohammad Sobary. “Saat ini kita dihadapkan pada ajang hidup tradisional melawan modernisasi. Teori modernisasi mengajarkan kita untuk hidup maju dan berkembang,” katanya.

Akibatnya, banyak anak-anak Indonesia yang belajar ke luar negeri dan kembali ke Indonesia dengan sombongnya dan mengejek anak-anak desa kotor karena bermain dengan kerbau di sawah. Hal tersebut merupakan tradisi yang terbawa dari luar.

“Bangsa dibuatnya kagum terhadap modernisasi. Padahal tradisi adalah urusan bersikap, perilaku tinggi yang hormat kepada lingkungan dan harmoni dengan lingkungan,” kata Sobary.

Ilmu pengetahuan, teknologi dan modernisasi ternyata gagal memenuhi janji-janjinya sendiri. Tiga musuh utama di era modernisasi adalah kapitalis global , global market dan pemerintah atau kebijakan yang berpihak pada pemilik modal. “Kebijakan adalah sumber masalah, membunuh banyak orang terutama petani,” ujar Sobary.

Sobary menegaskan, pemikiran kita boleh tinggi tapi harus tetap berpijak di bumi seperti yang diajarkan dalam sendratari Tundung Kolobendu, yaitu yang mengusir segala macam rintangan, kegelapan. “Karena sesungguhnya tradisi itu adalah suatu wujud kearifan manusia-manusia nusantara yang mengkapitalisasi alam dan alam harus dijaga dibiarkan hidup semestinya,” pungkasnya.

Ikuti informasi terkait agroekologi >> di sini <<

Laporan: Rizkah Camut Sagala, Tim Jurnalis Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *