Ahmad Salehuddin: Guru Agama, Mentor Para Peternak Kambing Berau | Villagerspost.com

Ahmad Salehuddin: Guru Agama, Mentor Para Peternak Kambing Berau

Ahmad Salehuddin, sang guru agama yang lebih populer sebagai guru para peternak kambing di Kabupaten Berau (dok. villagerspost.com)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Ahmad Salehuddin barangkali tak pernah menyangka posisinya sebagai seorang guru pendidikan agama Islam, ternyata malah kalah tenar dibandingkan dengan statusnya sebagai guru bagi para peternak kambing di Berau. Tetapi begitulah nasib membawa pria pekerja keras ini. Semua berawal dari kemauan keras untuk belajar dan kemampuan untuk mempelajari situasi lingkungan sekitarnya.

Awal mula Pak Udin–begitu dia biasa disapa– menjalankan usaha ternak kambing sebenarnya cukup sederhana. “Saya mempelajari lingkungan saya dan menyadari mencari pakan kambing tidak susah. Kalau mau cari rumput ke kebun orang, orang akan senang memberi, daun-daun seperti daun laban itu makanan ternak. Maka saya coba beternak kambing satu pasang mulai tahun 2005 lalu,” ujarnya di hadapan para peserta Lingkar Belajar Mandiri masyarakat Kalimantan Timur, di aula SMKN 3 Berau, Minggu (29/7) lalu.

Sejak itu dengan tekun dia merawat ternaknya sambil tetap menjalankan tugas sebagai guru, sehingga dari awalnya hanya memelihara dua ekor, dalam kurun waktu sepuluh tahun kemudian, yaitu di tahun 2015, jumlah kambing peliharaannya sudah berkembang menjadi 100 ekor. Maka, sejak itu, Udin mulai dikenal sebagai peternak yang sukses ketimbang seorang guru.

“Saya pada awalnya tidak dikenal sama sekali, kemudian tekun beternak, membeli buku khusus peternakan kambing, saya pelajari, dan akhirnya saya mulai dilirik dinas peternakan,” kisahnya.

Berkat pengalamannya, Udin pun didapuk menjadi Ketua Kelompok Ternak Berkah Mandiri (KTBM) Kampung Manunggal Jaya, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. Sukses sebagai peternak tak membuat Udin lupa diri. Sebagai guru agama, dia justru ingat bahwa hidup tak hanya untuk dunia tetapi juga akhirat. Maka Udin pun mulai menjalankan program untuk membantu para peternak lainnya di tahun tersebut.

Dari ternak yang sudah berjumlah 100 ekor itu, Udin mencoba membantu masyarakat dengan membagikan sepasang demi sepasang kambing untuk diternakkan oleh pihak lain dengan sistem bagi hasil. “Kalau ada anaknya dua ekor, maka kita bagi satu-satu, begitu terus, itu motivasi akhirat saya,” katanya.

Meski begitu dia juga tak melupakan sukses duniawi. “Saya menjual daging kambing untuk kesejahteraan kita, kebutuhan anak sekolah SD, SMA, perlu biaya besar, bisa terpenuhi,” ujar Udin.

Usaha ternak kambing, meski sifatnya sebagai usaha sampingan, menurut Udin, memiliki prospek yang cerah. “Sudah mulai banyak yang menekuni usaha ini. Karena memang cukup menguntungkan,” ujarnya. Peternakan menjadi usaha sampingan karena pelakunya masih menjalankan profesi utama mereka yaitu ada yang petani, guru, atau pegawai swasta. Udin sendiri masih menjalani profesinya sebagai guru agama di sekolah dasar.

Peternakan kambing mulai menjadi primadona ditopang oleh harga yang relatif tinggi dan permintaan pasar yang cukup besar, terutama saat perayaan hari besar Islam, seperti hari raya kurban atau Idul Adha. “Ketika hari raya kurban, permintaan di pasaran bisa meningkat sampai 70 persen dibanding hari biasanya,” paparnya.

Ada dua jenis kambing yang dikembangbiakannya, yakni kambing lokal dan etawa. Harga kambing di pasaran cukup bervariasi. Kisarannya Rp1 juta hingga Rp8 juta per ekornya. “Tapi, kalau kambing etawa harganya cukup tinggi. Karena ukuran kambingnya lebih besar dari kambing lokal,” terangnya.

Untuk pemasaran, Udin menjual kambingnya hingga ke Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Bahkan, biasanya pembeli dari Bulungan langsung memborong kambing miliknya, juga peternak lainnya. Kini usaha ternak Udin juga semakin berkembang. “Dari yang tadinya ada 100 ekor di tahun 2015, sekarang sudah mencapai 260 ekor,” tegasnya.

Meski begitu, Udin mengakui masih ada kendala yang dihadapi para peternak di Berau. Kendala yang dihadapi adalah belum maksimalnya pengelolaan dan pengembangan, di antaranya pola pengembangbiakannya yang masih memakai metode tradisional. “Untuk saat ini, kami masih menggunakan metode tradisional dengan proses perkawinan alami. Sebab, pengetahuan kami dalam pembiakan masih minim,” papar Udin.

Kini, tak hanya mengembangkan peternakan, Udin juga mulai membantu mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan. Melalui KTBM, Udin membantu petani mengembangkan pertanian dan perkebunan terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas hasil panen.

Salah satunya adalah melalui program pemanfaatan limbah kotoran ternak kambing untuk dijadikan pupuk kandang atau kompos. Pupuk ini diyakininya dapat membantu mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan lada yang saat ini sedang dikembangkan sejumlah petani di Kampung Manunggal Jaya.

Para petani, menurut Udin juga akan diuntungkan. Sebab, petani tidak lagi harus membeli pupuk. Dampaknya, ekonomi masyarakat akan semakin membaik. “Inilah salah satu program kami ke depan. Membantu petani menyediakan pupuk alami. Sehingga, antara peternakan dan pertanian bisa bersinergi dan saling menguntungkan,” paparnya.

Karena bahan pupuk kompos tergolong alami, diharapkan bisa mengurangi pemakaian pupuk kimia. Selain lebih baik dalam meningkatkan kesuburan tanah, pupuk kompos juga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen petani.

Dampak lainnya, mengurangi jumlah limbah kotoran ternak kambing. Terlebih, jumlah kambing ternak miliknya dan peternak lain di Kampung Manunggal Jaya mencapai ratusan ekor. “Saya berharap ke depan, apa yang sedang kami rencanakan ini bisa terwujud sesuai dengan harapan kami. Agar peternak bisa untung, petani juga ikut untung,” ujarnya,

Udin juga menerapkan sistem tumpang sari pada kebun lada, yaitu dengan menanam tanaman gamal di sela-sela pohon lada. Gamal, kata Udin, adalah tanaman yang baik untuk pakan kambing, “Setelah tiga bulan daun gamal bisa dipangkas untuk pakan ternak, kemudian kotoran dari ternak nantinya diolah untuk pupuk bagi tanaman lada, begitu terus siklusnya,” terang Udin.

Program pupuk kandang ini sendiri sudah berjalan cukup baik dan bisa menjangkau wilayah lain di luar kampung Manunggal Jaya. “Alhamdulillah sekarang kita sudah bisa memberikan pupuk sampai wilayah Sembakung, enam bulan sekali kirim 600 karung, satu karung kita hargai 40 ribu rupiah, peternak bisa sejahtera bukan saja dari ternak tetapi juga dari pupuk,” kata Udin.

Keberhasilan Udin mengembangkan peternakan tak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi. Pengakuan dari berbagai pihak pun datang dalam bentuk berbagai penghargaan yang dia terima. Pada tahun 2016, Udin mendapatkan penghargaan sebagai peternak terbaik tingkat Kabupaten Berau. Setahun kemudian, dia kembali menyabet penghargaan peternak terbaik, kali ini di tingkat provinsi.

Seharusnya, Udin tahun ini juga akan berlaga di tingkat nasional. “Tetapi ketika mau dikirim ke level nasional, ada kendala, ada krisis dana anggaran di pusat jadi tidak ada lomba, padahal sampai saat ini berkas kami sudah siap,” terang Udin.

Udin mengaku yakin, peternak dari Berau mampu bicara di level nasional, karena dampak usaha yang dikembangkan tidak hanya bermanfaat bagi pribadi-pribadi peternak tetapi juga masyarakat sekitarnya. “Saya pernah diajak ke Yogyakarta melihat perkembangan peternakan disana, saya perhatikan adalah penjualan mereka meningkat, besar hasilnya untuk perekonomian, tetapi kurang berdampak ke masyarakat,” ujarnya.

“Saya pelajari dan saya bandingkan, perbedannya kalau hasil saya selain untuk kesejahteraan ekonomi pribadi peternak, kelompok, juga memberi dampak ke masyarakat, kami ikut mengembangkan peternakan di lima kecamatan seperti di Biduk-Biduk, Batu Putih, Talisayan, dan tempat tinggal kami sendiri di Biatan,” pungkas Udin.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *