Anak Muda Kota Bogor: Kami Mampu Jadi Petani | Villagerspost.com

Anak Muda Kota Bogor: Kami Mampu Jadi Petani

Petani muda menjadi masa depan pertanian Indonesia (dok. veco.org)

Bogor, Villagerspost.com – Survei yang dilakukan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) juga mengukur sejauh mana anak-anak muda di perkotaan yaitu di kota Bogor, memiliki minat dan merasa mampu untuk menjadi petani. Hasil survei ini memang cukup mengejutkan karena ada sebagian besar anak-anak muda kota Bogor yang menyatakan mereka mampu jadi petani.

Saat ditanyakan terkait persepsi responden terhadap kemampuan menjadi petani, sejumlah 88 responden atau (48,9%) menyatakan setuju. Sedangkan ada 15 (8,3%) responden yang secara tegas menyatakan sangat setuju. Hanya 10 responden (5,6%) yang secara tegas menyatakan sangat tidak setuju.

Kemampuan ini dilandasi pemikiran bahwa sebenarnya anak muda mampu menjadi petani. “Akses informasi dan pengetahuan dari media dan yang didapatkan dari bangku sekolah dirasa responden cukup untuk mempersiapkan dirinya menjadi petani,” kata peneliti KRKP Rizkah Sagala, kepada Villagerspost.com, Minggu (20/5).

Rizkah mengatakan, terbukanya ruang informasi yang luas, serta tersedianya berbagai tulisan yang mampu mengarahkan teknik bercocok tanam membuat banyak responden percaya diri bahwa mereka dapat menjadi petani apabila diinginkan. “Muatan pelajaran di bangku sekolah seperti yang didapatkan dari pelajaran biologi misalnya, dirasa sedikit banyak cukup membuat responden percaya diri mampu melakukan kegiatan bercocok tanam,” tambahnya.

Mayoritas responden hanya mempertimbangkan aspek teknis bercocok tanam pada saat menyatakan diri memiliki kemampuan untuk menjadi petani. Sangat jarang responden yang turut mempertimbangkan sisi manajerial dalam konteks ekonomi dan kemampuan berjejaring sebagai bagian dari kemampuan yang diperlukan untuk menjadi petani.

“Hal ini bisa jadi merupakan indikasi bahwa sejak awal, kegiatan bertani dalam kaca mata anak muda perkotaan adalah profesi individual yang belum mempertimbangkan kekuatan kelembagaan dan jejaring. Tetapi hal ini dapat pula hanya sebatas dugaan semata, karena terbatasnya penggalian ide dari responden,” kata Rizkah.

Beriringan dengan kecenderungan persepsi responden yang menyetujui bahwa pemuda memiliki kemampuan menjadi petani, sebanyak 96 orang responden (53,3%) responden setuju bahwa pemuda merupakan penentu masa depan pertanian. Kemudian sebanyak 63 responden (35%) responden menyatakan mereka sangat setuju bahwa pemuda adalah masa depan pertanian.

Sebagian besar responden menyadari bahwa generasi muda merupakan penerus dari kegiatan pertanian yang saat ini telah dijalankan oleh generasi terdahulu. “Hal ini menunjukkan sesungguhnya, responden menyadari bahwa masa depan pertanian di Indonesia memerlukan intervensi dari generasi muda,” papar Rizkah.

Dia menjelaskan, di era globalisasi sekarang ini, peran pemuda sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan sektor pertanian dan menjadi penerus perjuangan generasi terdahulu untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini. Kondisi sekarang ini menunjukkan minat anak muda untuk bekerja di sektor pertanian yang cenderung menurun, padahal sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat berperan terhadap pembangunan ekonomi karena memiliki potensi pertanian dan sumber daya alam yang berlimpah dengan diversifikasi dan ketersediaannya sepanjang tahun.

“Dengan potensi pertanian yang luar biasa ini sepantasnya bangsa ini menjadi salah satu negara agraris yang maju di bidang pertanian,” ujarnya.

Kecenderungan penurunan minat anak muda dan pekerja di sektor pertanian terbukti dari hasil Sensus Pertanian 2013 yang menunjukkan jumlah rumah tangga usaha pertanian mengalami penurunan sebanyak 5,04 juta rumah tangga. Rumah tangga tani turun dari 31,17 juta rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 26,13 juta rumah tangga pada tahun 2013, yang berarti rata-rata penurunan per tahun sebesar 1,75 persen (BPS 2013).

“Penurunan jumlah petani usia muda tersebut disebabkan oleh keinginan pemuda yang sudah memudar untuk bekerja di sektor pertanian, dan lebih cenderung memilih pekerjaan di sektor luar pertanian, baik di daerah desa tempat tinggalnya maupun di daerah perkotaan” kata Rizkah.

Menurutnya, sebagian besar generasi muda sebelum menentukan dan memilih jenis pekerjaan yang akan ditekuni, mereka terlebih dahulu mempunyai suatu pandangan mengenai jenis pekerjaan tersebut. “Dalam hal ini, anak muda mempunyai persepsi tersendiri mengenai pekerjaan dan memutuskan bekerja di sektor pertanian,” ujar Rizkah.

Proses pembentukan persepsi ini dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri generasi muda tersebut. Penilaian atau persepsi tentang pekerjaan di sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengalaman, dan jenis kelamin.

“Penilaian tersebut juga berdasarkan proses sosialisasi yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya, yaitu teman-teman dan keluarganya, juga berdasarkan status kepemilikan lahan sawah,” tegasnya.

Dalam hal menyatakan mampu, anak-anak muda kota Bogor dalam survei ini juga diminta menilai kepantasa lulusan sekolah menengah sampai perguruan tinggi menjadi petani. Berdasarkan data survei, sebanyak 112 responden (62,2%) responden setuju bahwa anak muda pantas menjadi petani walaupun dari jenjang pendidikan yang berbeda-beda sekalipun.

Terdapat 5 responden (2,8%) yang menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan anak muda yang sudah berpendidikan pantas menjadi petani karena masih menganggap profesi petani tidak menguntungkan dari segi ekonomi kecuali dengan kepemilikan lahan yang luas. Data diatas menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda perkotaan di daerah Bogor setuju jika anak muda yang sudah mengenyam pendidikan pantas menjadi petani.

Beberapa responden menyatakan latar belakang yang melandasi persepsi tersebut adalah dugaan bahwa pendidikan akan membuat pemuda memiliki beberapa karakter yang menguntungkan untuk usaha pertanian seperti: lebih cepat melakukan inovasi, memiliki jaringan dan pengetahuan yang luas untuk mengembangkan pertanian. “Dunia pertanian di masa mendatang membutuhkan petani muda yang memiliki ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi yang memadai. Meskipun kenyataannya pada saat ini banyak lulusan sekolah bahkan perguruan tinggi yang tidak tertarik pada dunia pertanian,” kata Rizkah.

Jika dicermati dari hasil riset KRKP tahun 2015 tentang regenerasi petani, sebagian petani pangan yang pendapatannya rendah, berpikir menjadi petani bukanlah profesi yang tepat. Oleh karena itu petani cenderung mengalihkan mata pencaharian dari kegiatan usaha tani ke usaha non-pertanian. Indikator bahwa petani tidak puas dengan usaha taninya terlihat dari cara pandang dan keinginan para petani tersebut berharap agar anak mereka tidak menjadi petani seperti yang mereka kerjakan saat ini.

Usaha orang tua untuk menyekolahkan anaknya turut dilatarbelakangi harapan agar setelah lulus kelak, anak mereka akan mendapat pekerjaan yang lebih baik di luar sektor pertanian. Dengan adanya persepsi seperti ini terkadang pendidikan malah menjauhkan pemuda desa dari cita-cita menjadi petani. Namun pemaparan ini bukan bermaksud untuk membicarakan pilihan petani sebagai orang tua, tetapi berfokus melihat perlunya lembaga formal dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi untuk menanamkan dan meyakinkan bahwa petani dan pertanian membutuhkan anak muda dalam konteks regenerasi serta menanamkan pemahaman bahwa pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan yang mulia.

“Oleh sebab itu, perhatian dan penghargaan (apresiasi) dari pemerintah dan perguruan tinggi untuk dunia pertanian sangat dibutuhkan, agar wajah pertanian yang identik dengan kotor, kumuh, lusuh dan miskin dapat hilang dan minat anak muda untuk terjun ke bidang pertanian meningkat,” pungkas Rizkah.

Dalam studi yang dilakukan oleh (Studies, 2017) terkait dengan Ada Apa dengan Milenial? Orientasi Sosial, Ekonomi dan Politik terungkap, generasi milenial (usia 17-29 tahun) memiliki rasa optimisme nyaris 94 persen terkait masa depan mereka dalam bidang pekerjaan. Berdasarkan pernyataan HSBC Value of Education (2016) bahwa tuntutan perkembangan zaman ditambah dengan kian ketatnya persaingan di dunia bisnis maupun dunia kerja, mendorong 1 dari 2 orang tua di Indonesia memilih profesi dengan tingkat penghasilan tinggi bagi anak-anaknya kelak.

Nyatanya, sebanyak 91 persen orang tua Indonesia telah memiliki preferensi bidang pekerjaan bagi anak mereka. Preferensi tersebut juga tercermin dari jurusan-jurusan pendidikan yang mereka harapkan akan ditempuh oleh anak-anak mereka, yaitu bidang kedokteran (20 persen), ilmu komputer (12 persen), teknik (11 persen), keuangan (7 persen) dan pendidikan (6 persen). Fakta- fakta ini muncul dari survei tahunan terbaru dari HSBC, yaitu HSBC Value of Education 2016, yang secara rutin menggali pendapat orang tua di berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam merencanakan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka, berikut ekspektasi dan tantangan yang mereka hadapi.

Bagi orang tua di Indonesia, isu ketatnya persaingan di era pasar bebas dan globalisasi tampaknya kian disadari untuk segera diantisipasi. Guna menciptakan anak-anaknya menjadi pemenang, sebagian besar orang tua di Indonesia (52 persen) menjadikan biaya pendidikan sebagai prioritas mengungguli biaya untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Berbagai cara juga mereka tempuh untuk meningkatkan kecakapan dan daya saing anak. Saat menyelesaikan jenjang S1 dipandang sebagai keharusan (100 persen), mayoritas orang tua (94 persen) memandang jenjang S2 pun diperlukan. Mereka juga mendorong anak untuk mendapatkan pengalaman kerja yang sesuai dengan profesi idaman (89 persen), menguasai Bahasa asing (91 persen).

Head of Wealth Management HSBC Indonesia Steven Suryana mengatakan, “Beragam upaya yang ditempuh para orang tua untuk memastikan kesuksesan anak di masa depan ini sangat mengagumkan. Yang perlu juga kita pastikan adalah kesiapan finansial yang mengiringinya. Penting bagi orang tua untuk memahami bagaimana mempersiapkan keuangan secara strategis agar dapat mendukung ambisi anak dan orang tua”.

Pada kasus yang sama mengenai preferensi pekerjaan terutama untuk generasi milenial, (Rembeth & Asnap , 2016) merilis laporan berdasarkan survei pada 10.000 orang di Asia, Eropa, Inggris dan Amerika Serikat tentang perubahan dunia kerja di masa mendatang dan bagaimana perubahan tersebut akan mempengaruhi kehidupan kerja mereka. Masukkan lebih mendalam didapat di survei yang juga dilakukan kepada hampir sebanyak 500 orang pimpinan di bidang sumber daya manusia (SDM) di seluruh dunia, mengenai bagaimana mereka mempersiapkan diri terhadap perubahan yang akan terjadi di dunia kerja masa mendatang.

Hasil survei menemukan bahwa terdapat pergeseran besar yang secara total mengubah cara orang bekerja di masa depan. Terobosan di bidang teknologi, terbatasnya sumber daya dan faktor perubahan iklim, berpindahnya kekuatan ekonomi global, berubahnya struktur demografis, dan pesatnya urbanisasi merupakan penyebab signifikan perubahan cara orang dalam bekerja.

Teknologi baru, analisis data, dan media sosial berdampak sangat besar terhadap cara orang berkomunikasi, berkolaborasi, dan bekerja. Saat ini, dunia kerja berisi orang-orang dari generasi yang berbeda. Tenaga kerja yang tersedia akan semakin beragam dan jam kerja akan semakin panjang. Jenjang karir tradisional akan segera menjadi masa lalu.

Terkait hal ini, survei KRKP juga berupaya menggali persepsi anak muda tentang orang tua dan terhadap pekerjaan anak sebagai petani.Dari hasil survei diketahui, mayoritas anak muda ragu kalau orang tuanya akan setuju jika anaknya menjadi petani. Sejumlah 70 responden (38,9%) menyataan ragu dan sejumlah 35 responden (19,4%) menyatakan tidak setuju serta 9 responden (5%) tegas menyatakan sangat tidak setuju.

Dengan skala likert menunjukkan bahwa persentase yang kedua adalah setuju dengan memperoleh 54 responden (30%). “Berdasarkan mayoritas pernyataan responden terkait dengan pekerjaan petani adalah keraguan mereka secara pribadi yang terproyeksi dari tidak adanya pembahasan dari orang tua mereka mengenai karir sebagai petani adalah karir yang ideal,” kata peneliti KRKP Dea Herwinda.

Selain itu, pernyataan yang mendominasi adalah mengenai preferensi yang tercermin dari lingkungan dan pekerjaan orang tua yang bukan merupakan petani. “Kecenderungan keraguan yang disampaikan oleh para responden adalah mengenai ketersediaan lahan pertanian yang sangat minim di kota dan keterbatasan pengetahuan mengenai lingkup pertanian yang dipahami mereka sebagai pertanian konvensional yang memerlukan sawah sebagai media tanam,” tambahnya.

Persentase tersebar kedua adalah bahwa responden menyatakan bahwa orang tua mereka setuju terkait proyeksi karir mereka ke depan sebagai petani. “Dominasi alasan yang mereka sampaikan adalah bahwa Indonesia adalah negara agraris yang memiliki berbagai potensi pertanian,” papar Dea.

Pada tahap penilaian responden yang menyatakan kesetujuan ini adalah mereka yang sudah memiliki pengetahuan lebih mengenai luasnya bidang pertanian. Dan beberapa orang menyatakan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak memiliki masalah apabila harus bekerja sebagai petani dan bekerja di luar kota.

Penilaian lain yang disampaikan adalah menyatakan ketidaksetujuan terkait dengan karir menjadi petani. Ketidaksetujuan tersebut dilatarbelakangi oleh kekhawatiran para orang tua mengenai karir sebagai petani yang tidak menjanjikan. “Dalam persepsi yang mereka sampaikan juga bahwa orang tua mereka menghendaki pekerjaan di sektor formal yang memiliki pendapatan dan penghasilan tetap,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *