Anak Muda Kota Bogor: Makanan Pokok Bukan Cuma Nasi | Villagerspost.com

Anak Muda Kota Bogor: Makanan Pokok Bukan Cuma Nasi

Pangan lokal pengganti beras. (dok. jabarprov.go.id)

Bogor, Villagerspost.com – Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki berbagai jenis kekayaan hayati, termasuk ragam jenis pangan pokok. Selain beras, Indonesia memiliki pangan pokok lain seperti singkong, jagung dan sagu yang merupakan pangan pokok lokal tradisional namun masih diposisikan sebagai bahan pangan inferior bagi masyarakat.

Dari hasil survei yang dilakukan KRKP terungkap, anak-anak muda kota Bogor cukup menyadari bahwa pangan pokok tidak identik dengan beras, alias bukan cuma nasi. Hasil survei menunjukkan, 87 responden (48,3%) menyatakan tidak setuju bahwa nasi merupakan satu-satunya pangan pokok di Indonesia. Sebanyak 25 responden (13,9%) menyatakan sangat tidak setuju, nasi merupakan satu-satunya pangan pokok.

Indah, salah seorang responden yang memberikan komentarnya menyatakan, Indonesia memiliki berbagai macam umbi yang dapat digunakan sebagai makanan pokok. “Sehingga nasi bukan satu-satunya makanan pokok sumber karbohidrat,” ujarnya.

Beberapa responden juga berpendapat bahwa selain nasi juga terdapat makanan pokok lain sebagai pengganti nasi seperti sagu yang diolah menjadi papeda, jagung, singkong dan ubi-ubian.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Ketahanan Pangan yang disampaikan oleh Drajat Martianto, Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat. Beberapa jenis pangan lokal sumber karbohidrat. Di antaranya adalah jagung seperti tepung jagung dan produk turunannya, ubi kayu dan tepung ubi kayu, ubi jalar dan tepung ubi jalar, sagu dan produk turunannya serta sumber karbohidrat lainnya seperti garut dan sukun.

Persepsi responden bahwa nasi bukan satu-satunya pangan pokok di Indonesia ini juga sejalan dengan persepsi bahwa Indonesia memiliki sumber pangan yang beragam. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 99 responden (55%) menyatakan setuju bahwa Indonesia memiliki pangan yang beragam.

“Ini menunjukkan, secara umum, responden setuju bahwa Indonesia memiliki berbagai jenis makanan pokok yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pemenuhan kebutuhan karbohidrat harian,” kata Gecci, peneliti dari KRKP, kepada Villagerspost.com, Minggu (20/5).

Berbagai jenis makanan pokok tersebut seperti umbi-umbian dan jagung. Beberapa responden memberikan pendapat bahwa sagu juga merupakan jenis makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia bagian Timur. “Hal itu dapat menunjukkan keragaman makanan pokok yang terdapat di Indonesia,” tegas Gecci.

Selain memiliki keragaman pangan pokok berupa karbohidrat, menurut Drajat Martianto Indonesia juga memiliki keragaman sumber pangan lainnya seperti 75 jenis sumber lemak/minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman serta 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan. Namun sebagian besar masih berupa potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan masyarakat.

Pola makan merupakan kebiasaan dalam menentukan makanan yang akan dikonsumsi oleh individu atau kebudayaan tertentu. Pola makan biasanya mengimplikasikan kebutuhan spesifik terhadap nutrisi untuk alasan kesehatan atau mengatur berat badan agar tetap seimbang. Namun demikian, setiap individu dan budaya memiliki beberapa pilihan makanan dan beberapa hal yang tabu dalam mengonsumsi makanan.

Sayangnya meskipun menyadari dan mengakui bahwa nasi bukan merupakan satu-satunya makanan pokok, namun responden secara umum masih menjadikan nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Umumnya responden, yaitu berjumlah 84 orang (46,7%) mengkonsumsi nasi sebanyak 3 kali sehari. Sementara 73 responden (40,6%) mengkonsumsi nasi sebanyak 2 kali sehari.

“Tingginya tingkat konsumsi nasi dikarenakan responden sudah terbiasa mengkonsumsi nasi, jika belum mengkonsumsi nasi maka mereka merasa belum makan,” ungkap Gecci.

Meski demikian, ada juga responden yang terhitung jarang menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Sejumlah 5 responden (2,8%) menyatakan hanya kadang-kadang saja mengkonsumsi nasi. Responden yang jarang mengkonsumsi nasi beranggapan bahwa nasi bukan satu-satunya pangan pokok.

“Mereka memahami bahwa sumber karbohidrat tidak hanya dari nasi tetapi dapat bersumber dari pangan pokok lainnya,” ujar Gecci.

Dia menambahkan, tingginya tingkat konsumsi nasi ini, ditambah dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat berindikasi pada peningkatan kebutuhan konsumsi beras di masa depan. “Preferensi konsumsi beras masyarakat Indonesia begitu tinggi, bahkan semakin banyak masyarakat Indonesia yang beralih mengkonsumsi beras,” ujarnya.

Peningkatan Konsumsi beras masyarakat Indonesia menjadi perhatian khusus pemerintah. Untuk mengimbangi pemenuhan kebutuhan konsumsi beras tersebut, beberapa cara yang ditawarkan oleh pemerintah yaitu mendorong para petani untuk meningkatkan produksi melalui bantuan pupuk bersubsidi dan di samping itu terdapat pula berbagai anjuran diversifikasi pangan.

Pola konsumsi pangan masyarakat umumnya dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, demografi, dan faktor gaya hidup (Park et al. 2005). Kebutuhan konsumsi beras masyarakat Indonesia berkaitan dengan tingkat pendapatan setiap anggota keluarga. Menurut Silalahi et al. (2013), masyarakat yang berpendapatan tinggi cenderung untuk mengonsumsi beras lebih sedikit dibandingkan masyarakat yang berpendapatan rendah.

Hal ini dikarenakan masyarakat yang berpendapatan tinggi cenderung untuk memilih dan meragamkan jenis makanan yang mereka konsumsi. Martianto (2017) menambahkan bahwa konsumsi beras nasional pada tahun 2015 semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan namun kemudian lajunya akan menurun, bahkan pada kelompok yang pendapatan tinggi kuantitasnya menurun.

Tren konsumsi beras di Indonesia cenderung menurun pada tahun 1990-2016 dengan laju penurunan lebih tinggi di desa sebesar -0,32 persen dibandingkan di kota sebesar -0,20 persen (Martianto (2017). Walaupun konsumsi cenderung menurun, namun proporsinya masih terlalu tinggi di beberapa provinsi bahkan konsumsinya sangat tinggi jika dibandingkan dengan persen Angka Kecukupan Gizi (AKG) Pola Pangan Harapan.

Sebagai contoh di Provinsi Maluku, pola konsumsi beras masyarakat kota maupun desa, baik yang berpendapatan tinggi maupun sedang, cenderung untuk mengkonsumsi beras dalam jumlah yang tinggi dibandingkan jenis pangan yang lain, walaupun sejatinya makanan pokok mereka adalah sagu. Pola konsumsi masyarakat yang berpendapatan tinggi maupun sedang mulai berpindah untuk mengkonsumsi beras.

Adapun masyarakat dengan pendapatan rendah cenderung untuk mengkonsumsi beras dalam jumlah sedikit, karena daya beli mereka rendah. Hal yang sama terjadi pula di Provinsi Nusa Tenggara Timur, bahkan masyarakat yang berpendapatan rendah masih memilih untuk mengkonsumsi beras.

Hal ini dikarenakan mereka beranggapan bahwa beras sudah menjadi pangan pokok bagi masyarakat yang sejahtera. Faktor lain disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang ber urbanisasi ke kota menyebabkan pola konsumsi mereka beralih ke beras dan hal tersebut terus berlanjut hingga ke kampung halaman mereka. Berbeda dengan di Provinsi Bali, masyarakat cenderung untuk meragamkan pola konsumsi mereka baik di kota maupun di desa. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya migrasi yang sangat tinggi terjadi yang menyebabkan paradigma terhadap pola konsumsi masyarakat Bali beragam.

Survei ini juga ikut mengukur persepsi pemuda perkotaan tentang pangan lokal dengan bahan baku alami. Apa itu pangan lokal ? Mungkin pada saat ini sebagian besar masyarakat termasuk anak muda akan bertanya-tanya tentang pangan lokal. Pangan lokal adalah pangan yang diproduksi dan diolah di tempat sekitar pangan tersebut tumbuh. Pangan lokal memiliki banyak zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Saat ini konsumsi pangan berbahan baku lokal di Indonesia jumlahnya terus menurun. Sejak tahun 2005, mayoritas masyarakat Indonesia bertumpu pada satu sumber karbohidrat utama yakni beras dan terigu. Pemikiran masyarakat terutama anak muda, yang masih mengkelas-kelaskan jenis pangan jelas menjadi pembentuk perilaku pola konsumsi.

“Saat ini kecenderungan masyarakat terutama anak muda, lebih menganggap bahwa umbi-umbian atau makanan pokok lain hanya merupakan makanan pada saat paceklik. Makanan jenis-jenis tersebut dipandang layak dikonsumsi saat mereka tidak mampu mengonsumsi beras,” kata peneliti KRKP Naimmah.

Menurut Badan Ketahanan Pangan, sejatinya Indonesia memiliki keragaman yang tinggi dalam penyediaan bahan pangan sumber karbohidrat yakni lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat dengan komposisi gizi yang tidak kalah dengan beras dan terigu. Contoh jenis pangan lokal yang potensial dikembangkan oleh petani adalah jagung dan umbi-umbian.

Penggunaan bahan baku alami dalam pengolahan pangan merupakan salah satu variabel yang dapat memengaruhi preferensi dalam konsumsi pangan. Survei yang dilakukan terhadap 180 responden juga memasukkan variabel penggunaan bahan baku alami dalam melihat persepsi responden terkait pengetahuan atas komposisi pangan lokal dibanding pangan lainnya. Sebanyak 119 orang responden (66,1%) menyatakan setuju bahwa pangan lokal cenderung menggunakan bahan alami sehingga lebih bergizi dibandingkan jajanan lainnya. Sebanyak 38 responden (21,1%) menyatakan sangat setuju bahwa pangan lokal lebih bergizi di banding pangan lainnya.

“Jika dikembalikan pada preferensi responden, diluar persepsi atas bahan baku yang dipakai dalam pembuatan pangan lokal, sebanyak 51,1 persen responden menyatakan akan memilih mengonsumsi atas pangan lokal dibanding jajanan lainnya,”ujar Naimmah.

Sebanyak 11,7 persen responden menyatakan sangat setuju lebih memilih pangan lokal dibanding pangan lainnya. Akan tetapi terdapat 43 responden (23,9%) yang menyatakan keraguan akan memilih pangan lokal dibanding pangan lainnya, sebagai proporsi kedua terbanyak setelah persepsi responden yang menyatakan persetujuan atas pemilihan pangan lokal sebagai prioritas. “Hal ini menunjukkan terdapat variabel lainnya yang mendorong responden untuk memilih jenis panganan selain pangan lokal,” kata Naimmah.

Berdasarkan hasil survei, alasan yang melatarbelakangi pemilihan responden untuk mengkonsumsi pangan lokal didominasi yang oleh alasan sesuai dengan persepsi responden tentang kandungan gizi dan kesehatan pangan. Sebesar 77 responden (42,8%) menyatakan bahwa pangan lokal sehat dan bergizi sehingga responden lebih memilih pangan lokal dibanding pangan lainnya.

Alasan lainnya yang merupakan persentase terbesar kedua dalam pemilihan pangan lokal adalah terkait rasa. Sebanyak 64 responden (35,6%) menyatakan pilihan mereka atas pangan lokal dipengaruhi oleh rasa pangan lokal yang unik dan berbeda dengan panganan lainnya. “Alasan selanjutnya adalah karena akses terhadap pangan lokal lebih mudah,” ujar Naimmah.

Sebesar 26 responden (14,4%) menyatakan pangan lokal dapat ditemukan dimana saja, sehingga mereka cenderung memilih mengonsumsi pangan lokal. “Tersedianya pangan lokal di warung-warung pinggir jalan hingga tempat perbelanjaan yang lebih terorganisir seperti mall dan restaurant menjadi latar belakang pemilihan pangan lokal,” jelas Naimmah.

Alasan pemilihan pangan lokal lainnya menurut 5 persen responden dilatarbelakangi harga, dan sebanyak 2,2 persen responden menyatakan pemilihan pangan lokal dilatarbelakangi oleh gengsi.

Peneliti KRKP Rika mengatakan, secara umum, berdasarkan hasil survei, terlihat setiap pertanyaan yang diberikan terkait persepsi responden tentang kondisi petani, mayoritas responden memiliki jawaban yang cenderung bersifat ideal. “Berdasarkan kecenderungan pilihan responden atas urgensi pertanian, tercermin bahwa mayoritas responden menyatakan bahwa aktivitas pertanian itu penting,” ujarnya.

Riset terdahulu yang dilakukan KRKP tahun 2015 di pedesaan, menunjukkan bahwa lebih banyak pemuda pedesaan yang menyatakan mereka tidak tertarik menjadi petani, meskipun dalam riset ini tidak ditanyakan secara langsung bagaimana persepsi mereka terhadap urgensi pertanian. “Pemuda perkotaan yang menjadi responden pada survei kali ini sepertinya sudah memahami urgensi pertanian, terlepas dari ketersediaan mereka untuk menggeluti bidang pertanian tersebut,” kata Rika.

Hasil survei juga mengungkapkan, kebiasaan remaja akhir-akhir ini adalah hunting foto makanan untuk diposting di media sosial sehingga makanan yang berbahan baku lokal secara tidak langsung akan terpublikasi kepada masyarakat luas. “Dengan cara seperti itu, maka akan menumbuhkan minat konsumen terutama anak muda akan konsumsi makanan berbahan baku pangan lokal,” ujar Rika.

Hal tersebut juga dapat mendorong minat petani untuk menanam atau memproduksi produk-produk pangan lokal. Dia menegaskan, sudah saatnya produsen dan konsumen pangan nasional menghidupkan kembali sumber-sumber pangan lokal untuk menghentikan kemerosotan keragaman varietas jenis pangan yang dibudidayakan oleh petani.

“Apabila kondisi ini terus dikembangkan di seluruh wilayah nusantara, maka kemampuan nasional untuk meningkatkan produksi pangan pasti akan meningkat sekaligus menghindarkan ketergantungan terhadap jenis pangan tertentu,” ujarnya.

Membudayakan kembali pangan lokal bukan hanya akan menghilangkan ketergantungan pada salah satu makanan pokok saja, tapi juga menambah asupan gizi yang lebih beragam, meningkatkan kesejahteraan petani, dan membangkitkan perekonomian para pelaku usaha pangan nasional serta menghemat pengeluaran negara untuk impor. “Selain itu, dengan kembali mengkonsumsi pangan lokal, bangsa Indonesia tidak akan kehilangan budayanya,” pungkas Rika.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *