Anak Muda Kota Bogor: Pertanian Itu Penting | Villagerspost.com

Anak Muda Kota Bogor: Pertanian Itu Penting

Panen padi di desa Pamong, Pandeglang (dok. kementerian pertanian)

Bogor, Villagerspost.com – Sebagai negara agraris dimana sebagia besar penduduknya bekerja di sektor pertanian, Indonesia menyimpan sebuah ironi yang menyesakkan. Negara dengan luasan lahan pertanian sebesar 8,19 juta hektare (Data BPS 2016) ini, ternyata masih harus memenuhi kebutuhan pangannya terutama beras melalui impor. Buktinya pemerintah baru-baru ini kembali mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton.

Apa penyebab semua ini? Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, fenomena impor pangan, khusunya beras menunjukkan, produksi padi di Indonesia yang disumbang oleh petani kecil 100 persen, ternyata tidak pula mencukupi produksi pangan di Indonesia. “Itu terjadi justru karena jumlah petani di Indonesia semakin berkurang dan regenerasi petani yang minim,” kata pria yang akrab disapa Ayip ini kepada Villagerspost.com, Jumat (18/5).

Semakin menyusutnya jumlah petani ini, kata dia, tidak lepas dari arah pembangunan pertanian yang berorientasi hasil, tidak pada kesejahteraan petani karena sudah jelas bahwa 100 persen produksi padi disumbang oleh petani kecil. “Jika anggapan pertanian itu penting, selain produksi pangan yang tercukupi, kesejahteraan petani juga harus mendapat perhatian lebih,” tegasnya.

Ayip menjelaskan, penduduk Indonesia sebagian besar bekerja pada sektor pertanian di mana sekitar 75 persen tinggal di pedesaan dan lebih dari 4 persen di antaranya bergantung pada sektor pertanian. Pekerjaan pada bidang pertanian menjadi bagian dari generasi tua yang sejak semula sudah menekuni bidang pertanian, sedangkan tenaga kerja berusia muda lebih memilih bekerja sebagai buruh industri dari pada buruh tani.

“Pemuda di pedesaan menghindari bekerja pada sektor pertanian karena memandangnya sebagai pekerjaan yang kotor, melelahkan, dekat dengan kemiskinan dan menjadi pilihan terakhir, serta orang tua yang belum mempercayakan lahannya atau mewariskan lahan mereka kepada anak muda,” ujarnya.

Masa tunggu warisan lahan rata-rata mencapai 40 tahun. “Berkurangnya regenerasi petani akan mengakibatkan jumlah petani berkurang yang berimplikasi pada penurunan jumlah produksi pangan dalam negeri serta keberlanjutan sektor pertanian,” ujarnya.

Kondisi ini juga diperparah dengan pola konsumsi masyarakat muda di perkotaan lebih memilih mengonsumsi makanan siap saji dan makan impor. Padahal, kehidupan di perkotaan bergantung pada sektor pertanian yang berada di desa, terutama permasalahan pangan.

Karena itu, untuk melihat apakah sektor pertanian masih menjanjikan, KRKP juga merasa perlu melihat persepsi anak muda terhadap sektor tersebut. Dalam rangka itu, pada Februari lalu, KRKP melakukan survei persepsi anak muda perkotaan terhadap pertanian yang difokuskan pada anak-anak muda di Kota Bogor. Kegiatan survei dilaksanakan di lima kecamatan yaitu Kecamatan Bogor Barat, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Tengah, Kecamatan Bogor Selatan, dan Kecamatan Bogor Utara. Seluruh kecamatan tersebut terletak dalam batas administratif Kota Bogor.

Survei dilakukan terhadap 180 responden dengan jumlah responden laki-laki sebanyak 110 orang (61,1%) dan perempuan berjumlah 70 orang (38,9%). Sebaran usia responden bekisar antara usia 15 hingga 26 tahun. Dari 180 responden, persentase responden terbanyak adalah pada usia 21 tahun, yaitu sebesar 17,2 persen dari total responden, diikuti dengan responden usia 17 tahun, yaitu sebesar 16,1 persen. Adapun persentase responden yang paling sedikit adalah pada usia 26 tahun sebesar 0,6 persen. Sebaran responden berdasarkan usia ini merupakan hasil pemilihan responden secara acak.

Sebanyak 43,9 persen responden berpendidikan terakhir SMA, disusul 35,6 persen responden berpendidikan terakhir sarjana. Jika dikaitkan dengan persentase sebaran usia responden, maka sebanyak 64,5 persen responden memang memiliki usia yang sesuai pada jenjang SMA hingga perguruan tinggi. Hasil survei memperlihatkan 66,7 persen responden memiliki rata-rata pengeluaran per bulan di atas Rp600.000, disusul 13,9 persen responden memiliki rata-rata pengeluaran antara kisaran Rp300.000 hingga Rp449.000.

Berdasarkan survei yang dilakukan diketahui anak-anak muda Kota Bogor sepakat bahwa sektor pertanian masih sangat penting untuk pemenuhan pangan. Sebanyak 103 responden (57,2%) menyatakan sangat setuju bahwa pertanian itu penting. Selebihnya, sejumlah 73 responden (40,6%) menyatakan setuju dan hanya 4 responden (2,2%) yang menyatakan sangat tidak setuju jika pertanian itu penting.

“Dari hasil persepsi awal ini, masih cukup mengembirakan bahwa anak-anak muda perkotaan masih menganggap pertanian merupakan sektor yang penting. Kepedulian ini memiliki arti yang sangat besar,” kata Ayip.

Dia mengungkap data FAO dimana kebutuhan pangan terbesar dunia saat ini disumbang oleh petani kecil. “Sebanyak 4,5-5,5 triliun petani kecil menyumbang kebutuhan dunia dengan berbagai jenis pangan,” terangnya.

Lalu sisanya (hanya 30 persen) kebutuhan pangan dunia disumbang oleh pertanian industri. “Artinya dalam hal persediaan produksi pangan, pertanian dengan fokus petani skala kecil dianggap sangat penting oleh para responden. Dalam hal ini kesejahteraan petani harus menjadi tujuan utama dalam proses pembangunan pertanian untuk kaitan produksi pangan yang cukup,” ujarnya.

Kemudian terkait relasi antara pertanian dengan ketersediaan pangan dalam negeri, hasil survei juga menunjukkan, anak-anak muda menilai kedua hal tersebut terkait erat. Survei menunjukkan menyatakan, sebanyak 82 responden (45,6%) menyatakan sangat setuju jika tidak ada pertanian maka produksi dan ketersediaan pangan akan menurun dan berdampak pada bencana kelaparan. Kemudian sejumlah 79 responden lainnya (43,9%) menyatakan setuju. Hanya 10 (5,6%) responden yang menyatakan tidak setuju dan 6 responden (3,3%) menyatakan sangat tidak setuju.

Hal ini, kata Ayip, menunjukkan anak-anak muda perkotaan sangat peduli pada peran penting pertanian dalam mengatasi kelangkaan pangan. Dia mengungkapkan, kasus krisis pangan terparah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi pada tahun 2008. Saat itu, kebutuhan pangan dunia mencapai sebesar 2.103 juta ton atau naik sebesar 2 persen. Sementara itu pada tahun yang sama justru stok pangan dunia hingga akhir musim tanam 2008 menurun sebanyak 420 juta ton atau sebesar 2 persen dari persediaan sebelumnya (FAO, 2011).

“Masalah ketersediaan pangan juga pernah dialami Indonesia,” ujarnya. Produksi beras terganggu karena ledakan hama wereng coklat mencapai 351.748 ha. Serangan ini terluas setelah serangan parah terakhir pada tahun 1980-1990. Hal ini membuat impor beras kembali dilakukan di tahun setelahnya dalam jumlah yang paling besar yaitu 2.750.476 ton dalam kurun waktu 11 tahun (BPS, 2017).

“Impor tetap berlanjut pada tahun selanjutnya akibat dampak gagal panen masih dalam angka yang cukup tinggi yaitu sekitar 1 juta ton,” papar Ayip.

Meski demikian, Ayip mengatakan, ada sedikit kekhawatiran karena masih ada sebagian kecil responden yang menganggap kebutuhan pangan di Indonesia bisa dipenuhi dengan impor atau dalam kata lain tidak perlu harus bergantung pada produksi dalam negeri. Dia menilai persepsi ini berbahaya. “Dengan keadaan demografi Indonesia saat ini dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta, terus-menerus menggantungkan kebutuhan pangan dengan impor adalah masalah besar,” katanya.

Permintaan yang besar atas pangan kepada pasar global akan menimbulkan gejolak harga pada level global. Hal ini akan membuat daya beli masyarakat semakin menurun dan akses pangan semakin susah. Hal yang paling tepat dilakukan ialah mendorong produksi pangan dalam negeri dan memberikan alternatif pangan yang beragam demi tercapainya kemandirian pangan yang tertuang pada UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

Kemudian, terkait lahan pertanian, Ayip mengatakan, anak-anak muda perkotaan di Bogor juga menyadari bahwa lahan pertanian semakin sempit. Sejumlah 94 responden (52,2%) menyatakan setuju bahwa lahan pertanian di Indonesia semakin sempit. Kemudian ada sejumlah 62 responden (34,4%) responden yang menyatakan sangat setuju.

Ayip mengatakan, alih fungsi lahan pertanian dapat berupa peralihan untuk perumahan, pabrik, dan infrastruktur negara. “Konversi lahan untuk pemukiman penduduk adalah sebuah tuntutan dari meningkatnya pertumbuhan penduduk,” ujarnya.

Dalam sensus penduduk, tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta (BPS, 2014). Jumlah penduduk yang terus meningkat, membuat kebutuhan papan juga meningkat. Secara umum, porsi konversi lahan pertanian di Jawa untuk dijadikan pemukiman ialah sebesar 58,7 persen. “Porsi ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan konversi lahan untuk keperluan lain,” papar Ayip.

Terkait dengan kebutuhan pangan, BPS mencatat bahwa laju konversi lahan pertanian sebesar 110.000 ha/tahun. Jika diasumsikan bahwa laju ini konstan, dari analisis KRKP akan terjadi penyempitan lahan pertanian. Misalnya pada tahun 2020 lahan sawah hanya akan tersisa 5.768.840 ha yang jika ditanami, diperkirakan akan menghasilkan beras 18.085.313 ton sedangkan kebutuhan konsumsi beras saat itu adalah 36.101.477 ton.

Menurut peta area sawah pulau Jawa, sawah di area Jawa tersebar lebih banyak di daerah utara. Wilayah ini memang memiliki infrastruktur yang memadai dan akses yang mudah. “Hal itu juga yang menyebabkan tingkat konversi lahan meningkat untuk kepentingan industri karena bisa mengurangi biaya pengeluaran infrastruktur,” ujarnya.

Terancamnya Pulau Jawa yang memiliki tanah subur akan ditambah dengan dibuatnya masterplan 2011-2025 yang justru menjadikan wilayah Pulau Jawa terutama bagian utara menjadi pusat-pusat pengembangan industri dan jasa.

Dalam survei juga terungkap, umumnya anak muda perkotaan di Bogor juga mempersepsi pertanian umumnya masih menerapkan pola pertanian konvensional. Sejumlah 112 responden (62,2%) menyatakan setuju dan hanya sejumlah 1 responden (0,6%) yang menyatakan bahwa petani tidak mempraktikkan teknik budidaya konvensional.

Teknik budidaya konvensional yang dimaksud adalah teknik budidaya yang menggunakan input dari luar lebih banyak dibandingkan mengoptimalkan agroekosistem. “Selain tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan, teknik budidaya konvensional juga akan boros dalam segi biaya karena input dari luar yaitu pestisida, pupuk dalam jumlah besar,” kata Ayip.

Ketergantungan terhadap pupuk yang tinggi dan terus menerus akan berakibat pada menurunnya kualitas tanah, menurunnya kapasitas tanah dalam menahan air, dan pencemaran lingkungan. Berlawanan dengan itu, Teknik budidaya yang ramah lingkungan telah lama dicetuskan di Indonesia sejak tahun 1986 dengan lahirnya Inpres Nomor 3 Tahun 1986 tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Klinik Tanaman IPB telah mengembangkan biointensif padi. Biointensif merupakan suatu integrasi teknik terbaik dalam pengelolaan hama penyakit didasari dengan pengoptimalan pengendali hayati dan alami serta pengelolaan tanaman sehat. “Dengan prinsip biointensif maka ketergantungan terhadap input dari luar akan berkurang yang mendukung terciptanya agroekosistem yang sehat,” ujar Ayip.

Terlepas dari kesadaran responden bahwa lahan pertanian menyusut dan pola pertanian masih menerapkan pola konvensional yang tak ramah lingkungan, namun anak-anak muda di Kota Bogor masih menganggap oertanian merupakan sektor yang menjanjikan.

Hasil survei menunjukkan, sebanyak 91 orang responden (50,6%) menyatakan setuju bahwa sektor pertanian akan menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan. Responden juga mengungkapkan beberapa hal terkait syarat sektor pertanian agar menjanjikan di masa depan misalnya pengembangan teknologi dan lahan yang semakin luas. Responden juga mengungkapkan bahwa pertanian lebih menjanjikan ketika konteksnya perkebunan dan hortikultura. Namun demikian, tetap saja ketertarikan pemuda untuk menjadi petani masih rendah.

Riset (KRKP, 2015) menunjukkan masih kecilnya ketertarikan pemuda untuk menjadi petani. Hasil survei KRKP tahun 2015 ini menyatakan variabel ketertarikan pada pertanian sebelum menjadi petani pada responden yang saat itu berprofesi sebagai petani menunjukkan sebesar 70 persen responden tidak tertarik menjadi petani pangan dan 73,3 persen responden tidak tertarik menjadi petani hortikultura.

Dari hasil survei juga diketahui terdapat 40 persen responden menyatakan setuju jika sektor pertanian lebih menjanjikan daripada sektor lain. Kebutuhan pangan yang tinggi saat ini dapat dilihat sebagai tantangan ataupun justru peluang.

Pada tahun 2018 diperkirakan bahwa kebutuhan beras saja adalah sebanyak 6.101.477 ton. “Kebutuhan yang tinggi ini dapat berbuah manis jika nantinya pertanian dipandang penting bagi semua orang dan menjadi prioritas bagi pemerintah,” kata Ayip.

Namun diungkapkan pada data survei, terdapat 32,2 persen menyatakan ragu-ragu. “Responden mengungkapkan bahwa dalam hal pendapatan, sektor pertanian masih belum pasti dan memiliki banyak risiko,” pungkas Ayip.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *