Blas Mengganas, Swasembada Beras Terancam Bablas | Villagerspost.com

Blas Mengganas, Swasembada Beras Terancam Bablas

Diskusi "Penyelamatan Produksi Beras Nasional dari Ledakan Penyakit Blas" yang digelar Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Diskusi “Penyelamatan Produksi Beras Nasional dari Ledakan Penyakit Blas” yang digelar Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Bogor, Villagerspost.com – Cita-cita swasembada pangan, khususnya beras yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla terancam bablas akibat serangan blas. Penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae itu, di tahun 2016 ini, mendadak menjadi “primadona” baru serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Sepanjang tahun ini saja, hingga bulan September, serangan blas sudah mencakup 74 ribu hektare sawah.

Serangan ini menurut Direktur Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Widodo, termasuk luar biasa. Pasalnya, dibandingkan tahun 2011 misalnya, serangan blas hanya mencakup luas lahan sebesar 28 ribu hektare. Sampai tahun itu, serangan utama yang menggangu tanaman padi didominasi oleh hama penggerek batang seperti wereng. Namun serangan blas di tahun-tahun kemudian meningkat cepat sehingga di tahun 2015, blas sudah “menyaingi” wereng sebagai ancaman utama tanaman padi.

Puncaknya adalah tahun ini dimana serangan blas merebak dimana-mana. “Ini luar biasa karena angkanya (luasan lahan yang terserang-red) sudah tiga kali lipat serangan tahun 2011, itupun data baru sampai bulan September saja,” kata Widodo dalam acara diskusi bertajuk “Penyelamatan Produksi Beras Nasional dari Ledakan Penyakit Blas” yang digelar oleh Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, di Gedung A Fakultas Pertanian, IPB, Bogor, Sabtu (1/10).

Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB memperkirakan kehilangan hasil padi karena penyakit blas secara nasional mencapai 13%. “Jika dikonversi kira-kira, dalam setahun akan ada 38 ribu orang di Indonesia yang kehilangan jatah makan beras akibat serangan blas,” kata┬áKepala Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Suryo Wiyono.

Di seluruh dunia, kata Suryo, serangan blas menghasilkan kehilangan hasil padi hingga 21 persen. “Kira-kira ada sekitar 60 juta orang di dunia kehilangan jatah makan beras untuk perbandingannya,” terang Suryo.

Saking mengagetkannya tingkat keparahan serangan blas ini, kata Suryo, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. “Saya mendengar kabar di Subang, sampai ada petani yang meninggal dunia saking kagetnya, sawahnya rusak terserang blas,” ujarnya.

Suryo menjelaskan, penyakit blas ini memang masih sangat asing dan kurang dikenali oleh para petani dan juga petugas penyuluh tanaman. Dia mengatakan, berdasarkan hasil studi tahun studi 2014-2015 di Pekalongan dan Maros (Sulawesi Selatan) sebagian besar petani yaitu 93,75% tidak tahu tentang apa itu penyakit blas dan penyebabnya.

“Dari laporan yang masuk ke kami, dari petani di Pekalongan, gambaran awal hanya padi terserang bercak-bercak hitam. Pada fase serangan berat malai (tempat bulir padi tumbuh) bisa busuk,” ujarnya.

Parahnya serangan blas tahun ini juga terkonfirmasi dari ekspedisi yang dilakukan oleh Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB yang dilakukan sepanjang bulan Mei hingga awal Juni 2016. “Ekspedisi ini sendiri sebenarnya tidak dikhususkan untuk menemukan blas,” kata Ketua Tim Ekspedisi Bonjok Istiaji, M.Si.

Ekspedisi ini dilakukan di 30 kabupaten dengan 40 titik pengamatan di sepanjang Pantai Utara Jawa hingga Madura dan kemudian di Selatan Jawa. Pengamatan dilakukan pada titik-titik pada setiap jarak 25 kilometer dimulai di Karawang. Meski tak mengkhususkan untuk mencari serangan blas, namun ternyata dari survei itu diketahui, dari 40 titik, ditemukan 26 titik amatan dengan serangan blas mulai dari ringan, sedang hingga berat yang mencakup 20 kabupaten.

Serangan tertinggi dengan angka 28,5 terjadi di Subang. Berikutnya di Kudus yaitu di angka 15. “Kemungkinan jika ekspedisi ini dikhususkan untuk meneliti serangan blas, angka serangan yang ditemukan bisa semakin tinggi,” kata Bonjok.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *