Cerdas dan Sehat Lewat Hutan Wisata Sehat Citamiang | Villagerspost.com

Cerdas dan Sehat Lewat Hutan Wisata Sehat Citamiang

Para siswa SMPN I Megamendung, Bogor, tengah mengamati satu jenis tanaman obat di kawasan hutan wisata sehat Citamiang (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Cisarua, Villagerspost.com – Hujan yang mengguyur kawasan Puncak, Bogor, Senin (22/1) lalu, tak membuat semangat 25 orang siswa kelas 7 sampai 9, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Megamendung, Bogor, surut. Teriakan-teriakan penyemangat kerap terdengar dari mulut mereka, sembari mereka mempelajari berbagai jenis tanaman yang mengandung khasiat bagi kesehatan manusia.

Para siswa dan siswi tampak tekun mengamati satu persatu jenis tanaman obat yang sengaja di bawa ke pendapa di kawasan wisata Citamiang, sementara hujan masih saja terus mengguyur kawasan itu dengan lebatnya. Tak hanya diamati, mereka juga diberikan informasi mengenai manfaat-manfaat tanaman tersebut yang dengan tekun segera mereka catat di buku masing-masing. Sebagian juga menggambar tanaman-tanaman tersebut pada selembar kertas.

Usai kegiatan mengamati, satu per satu siswa yang dibagi dalam beberapa kelompok itu kemudian mempresentasikan hasil amatan dan berbagai informasi yang mereka peroleh terkait tanaman yang mereka pelajari kepada sesama siswa. Usai kegiatan tersebut, para siswa juga diberi kesempatan untuk berkeliling kawasan hutan Citamiang, dan mempelajari bagaimana tanaman-tanaman obat itu tumbuh di habitatnya. Mereka juga mengunjungi satu kawasan di mana tanaman-tanaman tersebut dibibit dan dipelihara untuk nantinya ditanam kembali di habitat aslinya.

Kegiatan yang dilakukan para siswa sejak pukul 9 pagi itu bukanlah sebuah acara jalan-jalan biasa. Acara tersebut merupakan bagian dari program “Hutan Wisata Sehat Citamiang” yang digagas oleh Yayasan Tunas Tani Mandiri (Nastari) bekerjasama dengan PT Perhutani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor.

Mencatat berbagai infomasi terkait berbagai jenis tanaman tanaman obat di kawasan pembibitan (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Asisten Perhutani (Asper) dan Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Kabupaten Bogor Yana Yunara mengatakan, kawasan hutan Citamiang tadinya adalah merupakan kawasan hutan produksi yang dikelola Perhutani. Meski merupakan kawasan hutan industri, namun kawasan seluas 2556 hektare itu juga merupakan hutan dengan fungsi hutan lindung.

Karena merupakan kawasan hutan lindung, akses masyarakat untuk ikut memanfaatkan kawasan itu memang menjadi terbatas. Meski begitu, pihak Perhutani memahami masyarakat pun berhak menikmati manfaat ekonomi keberadaan hutan. Agar masyarakat bisa menikmati manfaat hutan tanpa merusak hutan, alias tidak menebang pohon, maka pada tahun 2008 dibentuklah LMDH Desa Tugu Utara, berdasarkan SK Kepala Desa Tugu Utara. “Mula-mula arahnya adalah ke agroforestry kopi masyarakat,” kata Yana kepada Villagerspost.com.

Status LMDH kemudian meningkat pada tahun 2010 menjadi mitra Perhutani dan dikukuhkan melalui akte notaris. Kemudian, diterbitkan izin pengelolaan kepada pihak desa berupa Hutan Pangkuan Desa seluas 600 hektare. Dari jumlah itu, 10 hektare diantaranya kemudian dikelola sebagai kawasan wisata hutan. “Tetapi saat ini baru dikelola seluas 3 hektare,” kata Humas LMDH Tugu Utara Taufiqurrahman.

Kawasan inilah yang kemudian dikelola dengan nama kawasan wisata Citamiang. Nama Citamiang sendiri adalah nama sungai kecil yang membelah kawasan itu yang merupakan salah satu anak sungai yang membentuk aliran sungai Ciliwung yang berhulu di Telaga Warna. Di kawasan inilah, tanaman-tanaman asli kawasan Puncak, seperti damar, rasamala dan puspa serta pinus dikonservasi.

Selain itu ditanam pula tanaman-tanaman lain seperti nangka dan alpukat. “Kawasan ini juga menjadi kawasan lindung bagi spesies elang jawa dan owa jawa,” tambah Taufiq. Tegakan pohon puspa menjadi tempat favorit bagi elang jawa untuk membangun sarang.

Taufiq bercerita, pada bulan-bulan Oktober-November, keanggunan elang jawa bisa dinikmati ketika merek terbang melintasi kawasan Citamiang. “Biasanya pagi pada pukul 8 atau sore pada jam 4,” ujarnya.

Hutan Herbal

Ujang Edy alias Abah Edy, salah satu penggagas berdirinya hutan wisata sehat Citamiang (dok. villagerspost.com)

Belakangan, kawasan Citamiang juga dikembangkan menjadi kawasan hutan herbal atau hutan untuk tanaman obat. Pengembangan ini dilakukan setelah dilakukan kerjasama dengan Yayasan Nastari. Adalah Ujang Edy alias Abah Edy, yang mengilhami lahirnya ide membentuk kawasan itu menjadi kawasan wisata sehat alias wisata herbal.

Pria berusia 58 tahun ini (meski dia mengatakan di akte kelahiran tercantum tahun kelahirannya adalah tahun 1965, bukan 1960 yang merupakan tahun asli kelahiranna), memiliki kemampuan luar biasa dalam mengenali berbagai jenis tanaman herbal. Dan Abah Edy mengetahui, kawasan tersebut termasuk kaya akan tanaman obat seperti cente atau salihara, takokak atau Terung Pipit (Solanum torvum Sw.), ki saat atau seledri gunung (Artemisia vulgaris) atau populer disebut baru cina.

Abah Edy mengatakan, di kawasan Citamiang ini terdapat tidak kurang dari 40 tanaman obat yang sudah diidentifikasi baik itu berupa tanaman bawah (yang tingginya di bawah 1 meter) maupun tanaan atas (yang tingginya di atas 1 meter). Tanaman-tanaman ini, kata dia, sangat penting untuk dijaga kelestariannya, karena beberapa jenis tanaman sudah mulai jarang didapati karena terjadinya kerusakan kawasan hutan maupun tidak lagi dibudidayakan masyarakat.

Misalnya tanaman pongporang (Oroxylum indicum (L.)) yang berkhasiat untuk mengobati lemah syahwat dan juga penyakit lambung. Kemudian tanaman kepuh (Sterculia foetida) yang bermanfaat untuk mengobati patah tulang.

Jika tidak dijaga kelestariannya, Edy khawatir, tanaman-tanaman yang bermanfaat ini akan hilang atau punah. “Orang Indonesia memang hobinya kan tebang, kalau ada pohon maunya ditebang, nggak mikirkan tanamnya,” kata Edy.

Dengan menjadikan kawasan Citamiang menjadi kawasan wisata herbal, Edy berharap, selain dapat menjaga kelestarian tanaman obat, juga bisa menjadi wahana belajar bagi siapapun, khususnya para pelajar. “Seperti saat ini, anak-anak sekolah tadinya tidak tahu jenis-jenis tanaman obat, yang bermanfaat daun atau kayu atau akarnya atau apa, namun setelah datang ke sini, belajar, mereka menjadi tahu,” katanya.

Pria yang sudah dikaruniai 3 anak dan 1 cucu ini berpendapat, mempelajari tanaman-tanaman ini dari alam secara langsung akan melatih kemampuan orang untuk bisa mengenalinya dengan lebih baik ketimbang hanya membaca atau melihat gambarnya dari buku. “Saya juga sering melatih anak-anak di sini untuk bisa mengenali jenis tanaman dan khasiatnya dari jauh,’ kata pria yang belajar mengenal tanaman obat secara otodidak ini.

Banyak Manfaat

Siswi SMPN I Megamendung, mempresentasikan jenis tanaman yang mereka pelajari (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Emi Sartika, guru yang mengampu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP I Megamendung, mengakui banyak manfaat yang bisa didapat dari wisata sehat Citamiang ini. “Saya sebagai guru mata pelajaran IPA, khususnya biologi, juga ikut menambah wawasan untuk menerapkan konsep-konsep yang dipelajari di buku secara langsung di alam, mengenal langsung tanaan obat, anak-anak juga jadi semakin termotivasi,” ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Asep Ahmad Syamsuddin, guru yang mengampu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). “Di mata pelajaran IPS kan juga ada pelajaran mengenai lingkungan, geologi, tentang kondisi geografi, bentang alam, jadi banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan ini,” ujarnya.

Baik Emi dan Asep sangat berharap kegiatan ini juga bisa dilaksanakan oleh siswa dan guru dari sekolah lain. “Saya sendiri sebenarnya mencoba untuk mengajak sekolah lain di sekitar Megamendung untuk mencobanya, namun sayang belum ada tanggapan yang serius,” ujarnya.

“Dengan kegiatan ini baik guru dan siswa juga ikut belajar, ikut melakukan praktik bisa mengenal tanaman herbal dan manfaatnya, jadi belajar tidak jenuh, kita jadi semangat lagi,” kata Emi.

Hal sama juga dirasakan Ananda Febriana, siswi kelas 8, SMP I Megamendung. “Senang bisa mempelajari tanaman herbal dengan melihat secara langsung bentuk dan jenisnya,” ujarnya.

Dia juga mengatakan konsep wisata herbal ini sangat bagus untuk menarik wisatawan untuk datang ke kawasan ini. Dia berharap agar kegiatan ini bisa rutin dilakukan dan bukan hanya dilaksanakan satu kali saja.

“Sangat perlu kegiatan edukasi ini dilakukan secara rutin, ada kelanjutannya, kalau bisa rutin setiap tiga bulan sekali, yang terlibat juga jangan hanya satu sekolah tetapi juga sekolah lainnya,” ujarnya. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *