Deklarasi GPN: Komitmen Melahirkan Generasi Muda Petani | Villagerspost.com

Deklarasi GPN: Komitmen Melahirkan Generasi Muda Petani

Pembacaan deklarasi Gerakan Petani Nusantara (GPN). Komitmen memuliakan petani dan mencetak generasi muda petani (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Pembacaan deklarasi Gerakan Petani Nusantara (GPN). Komitmen memuliakan petani dan mencetak generasi muda petani (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Bogor, Villagerspost.com – Sejumlah 200 orang petani perwakilan dari 112 kabupaten se-Indonesia mendeklarasikan terbentuknya Gerakan Petani Nusantara (GPN). Deklarasi GPN dilaksanakan pada hari ini, Kamis (21/1) di Gedung Diklat Pusat Pelatihan Manajemen Dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) di Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Salah satu poin deklarasi GPN yang dinilai sangat penting adalah komitmen para petani untuk melahirkan generasi petani muda. Komitmen ini lahir dari kekhawatiran akan mandegnya regenerasi petani yang dinilai bakal mengancam keberlangsungan pertanian di nusantara.

Data statistik menunjukkan, saat ini 62 persen petani yang ada telah berusia di atas 55 tahun. Sementara petani muda yang berusia di bawah 40 tahun hanya mencapai 12 persen. Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara Hermanu Triwidodo mengatakan, pertanian tidak menarik generasi muda karena sektor pertanian menjadi sektor yang tidak menjanjikan dan tidak menguntungkan.

Lagi-lagi data statistik bulan Maret 2016 mengungkapkan, dari jumlah penduduk miskin yang mencapai 28,59 juta orang, sejumlah 14,21 persen diantaranya ada di pedesaan dan kelompok miskin di desa ini didominasi oleh petani. “Generasi muda sudah enggan bertani karena lebih memilih bekerja di kota atau industri yang menjanjikan. Lama kelamaan sektor pertanian tak ada tenaga kerjanya,” kata Hermanu.

Ali, petani dari Jember turut prihatin dengan kondisi yang dihadapinya di desa. Kemiskinan yang mendera petani pada akhirnya telah menempatkan sektor menjadi sektor yang tak menguntungkan dan tidak menjanjikan. Itu sebanya generasi muda enggan menekuni profesi sebagai petani.

“Mereka lebih memilih hidup dengan bekerja di kota atau industri yang mungkin menjanjikan. Kalau kondisi ini terus dibiarkan maka sektor pertanian di masa depan akan kehilangan tenaga kerja dan sangat berbahaya untuk negeri ini,” kata Ali.

Sebelumnya, Sekretaris Anggota Dewan Pertimbangan Presiden IGK Manila juga mengemukakan, anak muda tidak mau terjun menjadi petani karena dinilai tidak bisa memberikan kesejahteraan. “Image pertanian, sudah kerja susah, hasilnya di bawah UMR (upah minimum regional-red),” ujar Manila.

Alhasil pada tingkat yang ekstrem, banyak pemuda desa yang berpendidikan rendah lebih memilih pergi ke kota besar untuk bekerja apa saja. “Lebih baik ke kota, jadi preman, tidak sekolah, tetapi penghasilan lebih baik dari petani di desa,” kisah Manila.

Ini jelas menunjukkan bahwa profesi petani belum mulia atau belum dimuliakan. Padahal, kata dia, dalam sejarahnya, para pakar militer mulai dari zaman Tsun Zu, Napoleon, hingga Liddel Hart, sangat memandang tinggi peran petani dan pertanian.

Dia mengutip ucapan Napoleon soal peran penting petani: “Prajurit dilengkapi senjata terbaik, pelatihan terbaik, tidak akan bisa perang dengan perut kosong,” kata Manila.

“Siapa yang memberi makan prajurit? Yang bisa hasilkan pangan hanya para petani,” papar Manila soal pentingnya dan mulianya kedudukan para petani dalam sebuah negara.

Karena itulah, melalui GPN, para petani berupaya untuk mengembalikan pertanian ke posisinya sebagai profesi yang mulia dan mampu menyejahterakan para pelakunya. Untuk itu yang diperlukan adalah kerja keras dan kerja cerdas seluruh elemen terutama petani dan pemerintah.

Ketua Pelaksana Rembug Petani Nusantara David Ardhian mengatakan, pembentukan GPN adalah upaya untuk memuliakan petani sekaligus menjadi jalan lurus untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Selain itu, GPN juga menjadi wadah untuk memperkuat kelompok petani dengan mendorong terjadinya pertukaran pengetahuan dan teknologi antar petani.

“Kegiatan ini sekaligus juga untuk menghimpun para petani agar menjadi lebih terorganisir, dengan demikian kerja mewujudkan kedaulatan pangan bisa menjadi lebih mudah dan terorganisir,” kata David.

Hal ini diamini Wardiono, petani asal Klaten, Jawa Tengah. Dia mengatakan, untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani dan pertanian memang perlu ada sinergi dengan semua pihak. “Untuk itulah petani dan pemerintah harus bisa saling mengisi dan memahami kebutuhan masing-masing,” ujarnya penuh harap.

Karena itu dengan lahirnya GPN diharapkan ke depan melalui GPN para petani menjadi lebih mandiri dan solid karena secara nature petani memiliki budaya gotong royong, berbagi dan saling peduli. Semangat inilah yang menjadi kekuatan bagi petani sekaligus negara ini.

Hermanu mengatakan, dalam catatan sejarah, semangat dan nilai-nilai inilah yang turut membangun dan menjaga keutuhan Indonesia. Dengan jalan ini petani menjadi soko guru bangsa yang mulai karena turut menjaga keutuhan nusantara.

“Saat ini ketika alam dan kebijakan pertanian tak lagi sesuai dan mendukung kehidupan petani, barangkali karena kita melupakan kemuliaan petani. GPN berusaha untuk kembali memuliakan petani, memuliakan bangsa,” pungkas Hermanu. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *