Ekspedisi Padi Nusantara: Ketika Petani Merasa tak Dilayani Pemerintah | Villagerspost.com

Ekspedisi Padi Nusantara: Ketika Petani Merasa tak Dilayani Pemerintah

Survei ekspedisi padi nusantara juga mengungkap, masih banyak petani yang merasa tidak dilayani pemerintah (dok. himasita ipb)

Bogor, Villagerspost.com – Ekspedisi Padi Nusantara yang dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) Institut Pertanian Bogor, bukan hanya mengungkap adanya temuan persebaran gejala serangan penyakit tanaman padi. Survei itu juga mengungkap bagaimana persepsi para petani terhadap berbagai bantuan yang diberikan pemerintah terkait target pencapaian swasembada pangan pada tahun ini.

Hasil survei ini sendiri cukup mengejutkan, lantaran sebagian besar petani ternyata merasa tidak ada bedanya antara perlakuan pemerintahan yang lalu dengan pemerintahan saat ini, meski pemerintah selalu menggembar-gemborkan pemberian berbagai bantuan mulai dari benih, alat mesin pertanian, sampai bimbingan teknis. Hasil uji statistik terhadap 206 responden, hampir separuhnya menilai tak ada efek dari program subsidi pertanian pemerintah.

Sejumlah 46% responden menyatakan intervensi pemerintah tidak jauh berbeda dengan intervensi pemerintah sebelumnya. “Banyak petani merasa belum terlayani, belum ada perubahan pelayanan pertanian,” kata Said Abdullah dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), kepada Villagerspost.com, Minggu (16/4)

Terkait bantuan benih, petani pun merasa masih sulit mengakses bantuan benih dari pemerintah. Dari hasil survei diketahui, 41% responden mengatakan lebih banyak menggunakan benih hasil pembiakan sendiri, dan sisanya memilih membeli di toko, karena tak mendapatkan jatah benih bantuan pemerintah. “Ini artinya layanan pemerintah belum merata diterima petani,” ujar Said.

Dan ini jelas menjadi ironi karena di tengah persepsi petani yang merasa tak terlayani pemerintah, anggaran Kementerian Pertanian justru naik. Seperti diketahui, di tahun 2015 anggaran Kementan hanya sebesar Rp15,8 triliun. Namun dalam APBNP 2015, Kementan mengajukan anggaran tamnbahan sebesar Rp16,9 triliun. Dengan tambahan itu, anggaran Kementan dalam APBNP secara total menjadi Rp32,7 triliun. Angka tersebut ternyata dipertahankan dalam APBN 2016 dimana Kementan mendapatkan anggaran sebesar Rp32,85 triliun.

“Anggaran Kementerian Pertanian naik, petani mengeluh, padahal subsisi alsintan digelontorkan, tetapi kenapa masih ada statement petani kurang terlayani pemerintah?” tanya Said.

Berikut adalah suara-suara para petani dari lapangan yang disampaikan melalui para mahasiswa:

Hasil panen tidak pernah saya jual mas, semuanya untuk keperluan sehari-hari dan benih untuk musim depan. Disini sering kekurangan benih, para petani kadang minta sama saya. Yang dapat bantuan pertanian malah yang mampu secara ekonomi, jadi tidak tepat sasaran bantuannya. Jarang sekali mas ada penyuluh atau mahasiswa yang datang kesini untuk memberi penjelasan bahkan tidak pernah malahan. Selain pertanian, sekarang banyak tindakan kriminal yang semakin parah. Hal ini membuat kami khawatir terhadap keluarga dan saya sendiri mas. Semoga pemerintah semakin berpihak kepada rakyat kecil dan bisa memeriksa bantuannya hingga sampai ke tangan yang tepat. Tolong bapak-bapak berantas kriminalitas,” (Pak Suparman, petani asal Malang, Jawa Timur)

Kalo nanam padi ini, benihnya dapat dari kelompok tani, tapi dapatnya sedikit jadi sisanya saya harus beli benih sendiri. Ada gelaja tersebut, tapi paling saya biarkan saja nduk, selama tidak berlebihan dan membuat hasil panen berkurang drastis,” (Ibu Suwati, petani dari Magetan, Jawa Timur)

Pertanian Indonesia harus lebih baik, pemerintah juga lebih mengayomi, memberikan pengarahan terhadap kami tentang pertanian, peran pemerintah harus lebih terlihat,” (Pak Sukardi, petani asal Medan, Sumatera Utara)

Dahulu desa kami dianggap sebagai lumbung padi, tapi sekarang penghasilan dari padi tidak sebagus dulu. Sudah banyak pembukaan lahan untuk sawit. Seharusnya ada kebijakan untuk menetapkan apakah akan dijadikan perkebunan sawit atau daerah pertanian padi. Saya tidak berharap adanya bantuan, paling tidak kami sebagai petani diberikan pinjaman,” (Pak Sukirman, petani dari Langkat, Sumatera Utara)

Umur saya sudah sekitar 60-an nduk tapi saya masih gemar ke sawah. Bukan karena saya yang kurang kerjaan tapi saya memikirkan nasib anak anak saya, orang lain yang masih butuh makan. Jaman sekarang sudah jarang anak muda yang mau main ke sawah. Mungkin mereka sibuk ha ha ha. Lihat saya, buktinya saya masih bisa tersenyum dengan dateng ke sawah. Harapan saya tidak tinggi nduk. Saya ingin mengurus sawah dengan kalian kalian ini para mahasiswa, anak anak muda,” (Pak Miskan, petani dari Malang, Jawa Timur). (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *