Fakta Seputar Jagung Transgenik NK603 | Villagerspost.com

Fakta Seputar Jagung Transgenik NK603

Ilustrasi peringatan adanya bahaya dalam tanaman hasil rekayasa genetik (dok. fooddemocracynow.org)

Ilustrasi peringatan adanya bahaya dalam tanaman hasil rekayasa genetik (dok. fooddemocracynow.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Langkah pemerintahan Jokowi-JK menyetujui rencana pelepasan jagung transgenik RR NK603 oleh Kementerian Pertanian dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Nawacita terkait mewujudkan kedaulatan pangan.  Aliansi untuk Desa Sejahtera menilai, bibit transgenik tidak akan pernah menyejahterakan petani kecil di Indonesia

Bibit jagung transgenik RR NK603 yang tahan herbisida milik Monsanto itu, dinilai hanya akan membuat petani tergantung karena bibit semacam itu dilindungi hak intelektual. Di sisi lain keamanannya juga belum terjamin.

Berikut beberapa fakta terkait bibit RR NK603:

•    Salah satu varietas jagung Roundup Ready buatan Monsanto yang dipasarkan pada 2001 dengan merek “Roundup Ready 2”.  Produk ini sudah direkayasa untuk bertahan dari semprotan herbisida glyphosate, jenis herbisida roundup milik Monsanto.

•    NK 603 termasuk dalam produk berikut:
– Roundup Ready® Corn 2
– YieldGard® Corn Borer dengan Roundup Ready® Corn 2 (MON 810 dan NK603)
– YieldGard® Rootworm dengan Roundup Ready® Corn 2 (MON 863 dan NK603)
– YieldGard® Plus dengan Roundup Ready® Corn 2 (MON 810, MON 863, dan NK603)
– Genuity™ VT Double PRO™ (Mon89034 dan NK603)

•    Pada 2004, Monsanto menerbitkan hasil studi dari 90 feeding test jagung transgenik NK603 RR yang dipimpin oleh Bruce G. Hammond, Sprague-Dawley dengan kesimpulan aman dan bernutrisi sebagaimana jagung hibrida komersial. Kritik menyatakan bahwa datanya tidak relevan.

•    19  September 2012, tim peneliti dari Universitas Caen dibawah pimpinan Gilles-Eric Séralini mempublikasikan penelitian dengan judul, “Long term toxicity of a Roundup herbicide and a Roundup-tolerant genetically modified maize“.

Penelitian menemukan perubahan fungsi pada ginjal dan hati, yang diduga sebagai gejala awal keracunan kronis, disebabkan oleh sisa-sisa pestisida pada biji tanaman hasil rekayasa genetik pada tikus percobaan (Séralini et al., 2007; Spiroux de Vendômois et al., 2009).

Dalam penelitian yang dilakukan Seralini, tumor yang muncul dari kelompok yang diberi perlakuan tumbuh ‘lebih cepat sekali’ dibanding grup kontrol.

•    Penelitian memicu perdebatan panjang bahkan hingga penarikan penelitian dari jurnal pada 28 November 2013. Tetapi sejumlah lembaga, yaitu French Food Safety Agency (ANSES) dan the European Food Safety Authority (EFSA) setuju dengan Dr. Seralini bahwa penilaian keselamatan jangka panjang harus dilakukan pada makanan hasil Rekayasa Genetik, yang selama ini jarang dilakukan secara independen.

•    ANSES yang mengutip penelitian Seralini merekomendasikan untuk menginisiasi penelitian mengenai dampak jangka panjang produk hasil rekayasa genetik dan dikombinasikan dengan perlindungan produk tanaman. Perlu pendanaan penelitian baik di tingkat tingkat nasional maupun Eropa untuk melakukan penelitian berskala luas dan penelitian yang mengkonsolidasi kekurangan pengetahuan yang terdokumentasi mengenai resiko kesehatan.

•    Pada 2014, jurnal Environmental Sciences Europe kembali menerbitkan riset Seralini “Republished study: long-term toxicity of a Roundup herbicide and a Roundup-tolerant genetically modified maize” yang kesimpulannya adalah: temuan ini menyatakan bahwa uji pemberian makan jangka panjang (2 tahun) harus dilakukan untuk mengevaluasi secara keseluruhan tentang keamanan pangan hasil rekayasa genetik dan pestisida dalam formula yang dikomersialkan.   (Sumber: Aliansi untuk Desa Sejahtera)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *