Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi | Villagerspost.com

Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi

Kegiatan ekonomi masyarakat penerima manfaat program RCL membudidaya rumput laut (dok. villagerspost.com/ M. Agung Riyadi)

Kegiatan ekonomi masyarakat penerima manfaat program RCL membudidaya rumput laut (dok. villagerspost.com/ M. Agung Riyadi)

 

 
Makassar, Villagerspost.com – Murniati (50) bisa menjadi contoh bagaimana perempuan juga bisa bekerja keras dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup yang menerpanya. Perempuan asal desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu, masih terus berjuang agar usaha ternak bebek petelur yang dikelolanya bersama beberapa perempuan lain di desa itu yang tergabung dalam kelompok Nelayan Sejahtera, bisa berjalan baik dan menghasilkan.

Sejak mendapat bantuan usaha ternak bebek dari Oxfam–lembaga bantuan internasional yang bekerja untuk menghapus kemiskinan di dunia– berbagai masalah terus menghantam Murniati dan anggota kelompoknya. Cobaan pertama adalah, dari 250 ekor bebek petelur yang diberikan, 60 ekor diantaranya mati karena salah penanganan dalam proses pengiriman.

Jadilah Murniati dan kelompoknya harus berupaya menjaga 190 ekor sisanya agar bisa tetap hidup dan menghasilkan telur-telur yang bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga mereka yang selama ini hanya mengandalkan kemampuan para suami yang bekerja sebagai nelayan untuk menangkap ikan atau kepiting di laut. Murniati dan para perempuan desa Ampekale memang harus berjuang menambal penghasilan suami-suami mereka yang sangat kurang.

Menjadi nelayan, sangat mengandalkan musim untuk bisa memberikan hasil yang cukup. Jika musim sedang buruk, penghasilan pun otomatis menurun. Terlebih, perubahan iklim yang tengah terjadi kerap membuat cuaca tak menentu sehingga pekerjaan sebagai nelayan semakin berisiko.

Tak heran jika para nelayan di desa itu saban bulannya tak pernah bisa menghasilkan uang lebih dari Rp500 ribu. Jumlah yang tak akan pernah cukup untuk menghidupi anak-istri mereka. Karena itulah Murniati berupaya untuk ikut serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Sejak tahun 2010 lalu, Murniati dan perempuan di desa Ampekale, menjadi salah satu penerima manfaat program Restoring Coastal Livelihoods (RCL) atau program perbaikan penghidupan masyarakat pesisir. Program ini merupakan program inisiatif bersama antara Oxfam GB dan Oxfam Canada, yang didukung oleh pemerintah Kanada.

Program tersebut diluncurkan di empat kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Takalar, Maros, Barru dan Pangkep. Murniati sendiri, bersama beberapa perempuan di desa Ampekale, setelah dilakukan serangkaian penilaian secara partisipatif untuk memetakan potensi ekonomi alternatif di desa itu, dipercaya untuk mengembangkan usaha peternakan bebek petelur.

“Ternak bebek petelur memang sudah lama dilakukan penduduk di sini sebagai usaha sampingan selain menangkap ikan dan kepiting,” katanya, saat ditemui Villagerspost.com di acara Workshop dan Exhibition Exit Strategy and Final Expose RCL, di Hotel Novotel, Makassar, Sabtu (22/8).

Namun, dalam perjalanannya, ternyata berbagai cobaan harus dihadapi Murniati dan kelompoknya. Memelihara bebek petelur di kawasan pesisir yang didominasi kawasan pantai dan pertambakan yang kebanyakan sudah kering memang tidak mudah. Bebek-bebek yang umumnya diternak secara digembala di pesawahan atau petambakan untuk memakan ikan-ikan atau udang-udang kecil terpaksa diternak dengan cara dikandangkan.

Tantangan paling besar yang dihadapi Murniati dan kelompoknya adalah menyediakan pakan bagi ternak-ternaknya itu. Dalam sehari, bebek-bebek milik kelompok perempuan Nelayan Sejahtera bisa menghabiskan 50 kilogram dedak. Untuk itu mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp2500 untuk membeli sekilo dedaknya.

Sayangnya, dengan pengeluaran pakan yang besar itu, hasil yang diharapkan yaitu telur-telur bebek untuk dijual, ternyata tak kunjung datang. “Sudah banyak uang keluar untuk dedak, tetapi tak bertelur,” katanya.

Dari ratusan bebek yang dipelihara, hanya 30-50 ekor saja yang rutin bertelur. Itupun tak banyak, hanya 1-3 butir saja yang bisa ditelurkan oleh setiap bebek. “Kami jual sebutir Rp1500,” katanya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *