Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi | Villagerspost.com | Page 2

Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi

Masyarakat memperbaiki lahan mangrove (dok. oxfam/tua hasiholan)

Masyarakat memperbaiki lahan mangrove (dok. oxfam/Tua Hasiholan)

Pantang Menyerah

hasil menjual telur bebek itu, memang belum bisa mencukupi kebutuhan hidup Murniati dan anggota kelompoknya. Namun, Murniati dan anggotanya tidak menyerah. Mereka terus berupaya agar modal yang sudah diberikan Oxfam itu bisa berkembang untuk bisa membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengolah telur bebek menjadi telur asin yang harganya lebih tinggi yaitu Rp2000 sebutir.

Murniati juga terus berupaya menemukan cara agar bebek-bebek peliharaan mereka bisa lebih produktif. Di awal, bebek-bebek itu hanya bisa menghasilkan sebanyak 102 butir telur saja sebulan. Kemudian untuk mengurangi beban, Murniati menyebarkan bebek-bebek itu untuk dipelihara masing-masing anggota.

“Ada yang pelihara lima ekor, ada juga yang berani pelihara 20 ekor, saya sendiri pelihara 6 ekor,” katanya. Berbagai pakan campuran tak hanya dedak mereka upayakan diantaranya memberikan cangkang-cangkang kepiting yang mereka dapatkan dari tempat pengupasan kepiting dimana sebagian perempuan itu bekerja untuk mencari penghasilan tambahan.

Upaya itu tak sia-sia. Pelan-pelan, produktivitas bebek-bebek peliharaan mereka meningkat. “Bulan ini bisa menghasilkan 135 butir,” katanya.

Murniati bertekad, untuk terus mengembangkan usaha itu agar bisa berkembang dan memberikan penghasilan yang cukup seperti yang dilakukan rekan-rekan lainnya dari kelompok-kelompok perempuan di desa lain, seperti kelompok Bunga Mawar yang dipimpin Nurliah (35) dari desa Pajukukkang, Kecamatan Bontoang, Kabupaten Maros.

Sama seperti perempuan di desa Ampekale, perempuan desa Pajukukkang juga sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan dari suami mereka yang bekerja sebagai nelayan. Karena itulah lewat program RCL, mereka berupaya untuk bisa mandiri dan menjalankan usaha alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Apa yang dilakukan Nurliah dan perempuan di desa itu, bahkan lebih keras lagi. Sebelum bisa ikut memetakan potensi ekonomi di desa mereka, para perempuan itu harus terlebih dahulu membebaskan diri mereka dari kungkungan buta huruf. Maklum, tak banyak dari para perempuan desa itu yang bisa mengenyam pendidikan. Yang bisa bersekolah pun kebanyakan tak lebih tinggi dari tingkat seolah dasar.

Maka jadilah pelaksanaan program RCL di Pajukukkang, dimulai dari belajar membaca, menulis, membubuhkan tanda tangan, dan membangkitkan keberanian mereka untuk bisa memberikan pendapat, bercerita dan kemampuan dasar lainnya yang berguna untuk aktualisasi diri. Proses ini berjalan hingga satu tahun lamanya. Mereka belajar satu kali seminggu di hari Sabtu.

Setelah para perempuan itu mampu membebaskan diri dari kungkungan buta huruf, barulah mereka diajak untuk berpartisipasi untuk memahami potensi yang ada di desa itu untuk bisa dikembangkan. Salah satu usaha yang bisa dikembangkan, sama seperti di desa Ampekale adalah pengolahan telur bebek yang banyak diternak penduduk.

Mula-mula, Nurliah dan kelompoknya mengembangkan usaha abon telur. Untuk membuat penganan kecil itu, mereka mengolah 20-30 butir telur dicampur ubi jalar yang mereka beli seharga Rp10.000 per kilogram dan berbagai bumbu seperti merica, bawang putih, gula merah dan penyedap rasa. Setelah itu, bahan-bahan tadi diadon dan kemudian digoreng dalam minyak goreng.

Sehari, mereka biasa menggunakan 1 kilogram minyak goreng yang dibeli seharga Rp12.500 per kilogram. Dari bahan-bahan itu mereka bisa membuat lebih dari 150 bungkus kecil abon telur yang dijual seharga Rp500 sebagai jajanan bagi anak-anak sekolah dasar. Sehari, kelompok ini bisa menghasilkan uang kurang lebih sebesar Rp75.000 dari berjualan abon telur saja.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *