Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi | Villagerspost.com | Page 3

Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi

Ibu Nurliah, salah satu penerima manfaat program RCL mengembangkan usaha kepiting (dok. oxfam/irwan firdaus)

Ibu Nurliah, salah satu penerima manfaat program RCL mengembangkan usaha kepiting (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

 

Kembangkan Usaha Lain

Meski sudah bisa menghasilkan sesuatu dari usaha mereka mengembangkan penganan abon telur, para perempuan desa Pajukukkang pimpinan Nurliah, ternyata tak berpuas diri. Mereka sadar, usaha itu belum cukup meningkatkan kesejahteraan karena keuntungannya relatif kecil. Mereka hanya bisa menghasilkan keuntungan sebesar Rp15.000 sehari karena omset sisanya harus ditabung oleh anggota dan selebihnya digulirkan untuk modal kembali.

Karena itu mereka pun kemudian berupaya mencari potensi ekonomi lain yang bisa dikembangkan. Pilihan pun jatuh pada pemanfaatan buah mangrove yang banyak tumbuh di kawasan itu yang selama ini tak pernah dimanfaatkan. Buah-buah mangrove yang sudah tua, diolah oleh para perempuan di kelompok Bunga Mawar untuk dijadikan selai.

Ternyata penghasilan dari mengolah buah mangrove atau yang disebut pedada ini lebih menguntungkan. Dengan modal sekitar Rp30.000 untuk membeli gula dan bahan-bahan lainnya, kelompok ini bisa menghasilkan 100 toples kecil selai pedada yang dijual seharga Rp5000 per toples berukuran kurang lebih 100 gram.

Sejak tahun 2012, kelompok ini mengembangkan usaha pembuatan selai pedada dan meninggalkan usaha abon telur dan diganti dengan menjual telur asing yang prosesnya lebih sederhana dan harganya lebih baik. Dengan usaha-usaha ini, masing-masing anggota bisa mendapatkan penghasilan tambahan sebesar antara Rp300 ribu hingga Rp600 ribu setiap bulan.

“Penghasilan ini sangat lumayan untuk membantu bayar sekolah anak juga biaya lain-lain,” kata Nurliah kepada Villagerspost.com, Sabtu (21/8).

Nurliah berharap, untuk pengembangan selanjutnya, pemerintah daerah dapat membantu memberikan fasilitas pengolahan selai secara khusus. Dia sendiri berterimakasih karena selama ini pemerintah daerah sudah memberikan bantuan modal berupa alat blender dan kompor. Selain itu, mereka juga berharap bisa mendapat bimbingan untuk pemasaran bagi hasil produk mereka.

“Selama ini kami menjajakannya berdasarkan pesanan dan kami jajakan di kantor-kantor pemerintahan dan di toko penjuakan oleh-oleh,” kata Nurliah.

Usaha serupa juga dikembangkan oleh perempuan dari kelompok Ujung Parappa, dari desa Ampekalle, Maros yang dipimpin oleh Salma (30). Kelompok yang beranggotakan 25 orang perempuan ini mengembangkan usaha pembuatan penganan berbahan baku kepiting seperti stik kepiting, abon kepiting, dan kerupuk kepiting. Mereka juga menjalankan usaha menjual daging kepiting.

Dari usaha ini, para perempuan di kelompok Ujung Parappa bisa menghasilkan uang tambahan sebesar antara Rp400 ribu-Rp700 ribu. Namun menurut Salma, yang paling menjanjikan adalah dari hasil penjualan dagimg kepiting aau yang mereka sebut usaha pengupasan kepiting. Untuk usaha ini, mereka bahkan bisa bekerjasama dengan perusahaan ekspor daging kepiting di wilayah itu diantaranya PT Philips, PT COS dan PT Nirwana.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *