Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi | Villagerspost.com | Page 5

Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi

Fatmasari Hutagalung, Program Officer RCL (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Fatmasari Hutagalung, Program Officer RCL (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Program RCL Berakhir, Masyarakat Sudah Mandiri

Pada tanggal 31 Agustus mendatang, program Restoring Coastal Livelihood akan berakhir. Program Officer RCL Oxfam Fatmasari Hutagalung mengatakan, bekal yang didapat masyarakat pesisir di empat kabupaten di Sulsel selama program ini berjalan, diharapkan mampu menumbuhkan kemandirian ekonomi sehingga mereka dengan bantuan dukungan pemerintah setempat mampu semakin meningkatkan kapasitas baik kapasitas diri maupun usahanya.

Bibit-bibit kemandirian itu, kata Fatma, sudah tertanam dan sudah muncul dan berjalan selama pelaksanaan program ini. Para penerima manfaat ini sudah memahami lebih jauh rantai ekonomi sehingga mereka tak lagi hanya berpikir ditataran produksi tetapi juga memahami konsep dunia usaha secara utuh yaitu memenuhi kebutuhan pasar seperti menjaga kapasitas produksi, kualitas produksi hingga membuka peluang pasar dan melakukan negosiasi secara mandiri dengan para pelaku pasar.

Harapannya, mereka nantinya mampu berdiri setara dengan pelaku pasar sehingga harga komoditas yang dihasilkan tidak menjadi permainan pelaku pasar. Bahkan ada diantara kelompok-kelompok ekonomi ini yang sudah berkembang hingga ke level pembentukan asosiasi sehingga mereka mampu melakukan negosiasi yang baik dengan pasar.

Salah satu contohnya adalah di Maros dan Pangkep dimana beberapa penerima manfaat program RCL berhasil mengembangkan diri hingga membentuk asosiasi yaitu Daeng Senga dan Daeng Rani di Takalar yang mendirikan asosiasi rumput laut dan Rusman di Maros. Juga ada kelompok Ujung Parappa yang sudah bisa menjalin hubungan dengan pemasar besar untuk usaha daging kepiting. “Kita mengharapkan memang mereka bisa mencapai level itu,” kata Fatma kepada Villagerspost.com.

Dalam posisi seperti itu, kata Fatma, kelompok petani tidak rentan menjadi permainan pasar karena mereka sudah memahami rantai ekonomi secara menyeluruh. “Dalam kasus kelompok Ujung Parappa, mereka bisa mendapatkan harga yang bagus dari PT Nirwana, tertinggi pernah mencapai Rp40.000 per kilogram,” sambung Fatma.

Dengan berakhirnya program RCL ini, Fatma berharap, kelompok-kelompok petani ini bisa menjaga keberlanjutan pasar. Mereka diharapkan tetap mampu menjaga kualitas dan menambah pengetahuan untuk bisa berhubungan denga eksportir, belajar mengenai syarat-syarat dan tata cara bermitra dan mengetahui standar-standar yang harus dipenuhi.

Fatma menyadari, kenyataan di lapangan kemampuan antara masing-masing kelompok memang tidak merata. Namun Fatma optimis kelompok-kelompok ini akan mampu meningkatkan kapasitas diri mereka meski tak lagi dalam dampingan Oxfam. “Mereka sudah punya modal dasar yaitu keyakinan diri dan juga keberanian untuk berusaha dan mencari usaha alternatif dengan memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di desa masing-masing,” pungkasnya. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *