IPB: Darurat Wereng Nyata, Pengendalian Wereng dan Hama Terpadu Harus Dilakukan Segera | Villagerspost.com

IPB: Darurat Wereng Nyata, Pengendalian Wereng dan Hama Terpadu Harus Dilakukan Segera

Acara ‘Diskusi Publik: Ekspose Hasil Lapangan dan Solusi’ terkait serangan wereng yang dihelat di Kampus IPB (dok. villagerspost.com)

Bogor, Villagerspost.com – Meningkatnya serangan hama wereng yang diikuti penyakit kerdil hama di sentra-sentra produksi padi nasional nyata terjadi. Di Subang sebagai contoh, sudah tiga musim budidaya padi gagal. Tidak hanya menyebabkan kegagalan produksi, serangan hama wereng yang diikuti virus ini juga menyebabkan petani terjebak dalam kerugian yang sangat besar.

Hal inilah yang ditemukan oleh tim klinik tanaman Departemen Proteksi Tanaman dan LPPM Institut Pertanian Bogor (IPB) yang telah melakukan aksi lapangan dengan memberikan layanan konsultasi dan penyebaran teknologi ramah lingkungan kepada petani di 6 kabupaten, yaitu subang, kebumen, klaten, bojonegoro, banten dan lampung.

Kepala Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Widodo mengatakan, kegiatan merupakan bentuk tridarma perguruan tinggi sekaligus upaya untuk membantu petani yang sedang tertimpa kesusahan. Terkait serangan hama wereng, Widodo menyampaikan bahwa dampaknya sangat besar terutama bagi petani.

“Bisa jadi data yang ada di pemerintah menunjukkan kecilnya serangan. Namun dilapangan kita menemukan hal lain karena dampaknya sangat berat bagi petani. Mereka mengalami kerugian berlipat-lipat dan tidak ada yang membantu,” ujarnya disela-sela kegiatan ‘Diskusi Publik: Ekspose Hasil Lapangan dan Solusi’ yang digelar, di Kampus IPB, Dramaga, Bogor, Senin (14/8).

Widodo mengatakan, seharusnya petani tidak dipandang oleh pemerintah sebagai mesin produksi semata. “Mereka adalah manusia yang punya keluarga yang harus diberi makan, kegagalan panen ini memberikan pukulan berat bagi mereka, apalagi ada yang sampai terjerat rentenir,” tambah Widodo, kepada Villagerpost.com.

Lebih jauh Widodo menyampaikan, penanganan hama ini tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa tetapi harus dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Menurutnya UU 12 Tahun 1992 SBT, PP No 6 tahun 1995 perlindungan tanaman telah dengan jelas mengatur soal implementasi PHT.

Terkait praktik pengendalian HPT yang ada saat ini, Widodo mengungkapkan ledakan hama terjadi karena adanya kesalahan dalam pengelolaan ekosistem pertanian. “Dalam proses peningkatan produksi harusnya memperkuat daya lenting lingkungan bukan justru memperlemah daya lenting lingkungan,” ujarnya.

Senada dengan Widodo, Rektor IPB Prof. Dr. Herry Suhardiyanto juga mengemukakan pentingnya pengendalian hama penyakit dengan pendekatan PHT. Menurutnya Peningkatan produksi harus berdasarkan pengetahuan. Produksi akan meningkat secara kontinu jika didasarkan pada sains. Dalam hal ini pendekatan PHT menjadi salah satu pilihan karena secara saintifik terlah terbukti.

“Tak hanya soal teknis budidaya, peningkatan produksi juga harus di dukung oleh kebijakan yang memungkinkan itu terjadi. Kebijakan harus dilakukan dengan pendekatan Sains Base Policy. Dengan demikian menjadi tepat dan efektif,” ungkapnya.

Sementara itu, Dosen Proteksi Tanaman IPB Dr. Ir. Hermanu Triwidodo mengungkapkan, persoalan mendasar pada pengendalian hama wereng ini bukan lagi pada persoalan teknis dan pengetahuan tetapi political will. Menurutnya ilmu pengetahuan, pengalaman, teknologi terkait wereng sudah komplit.

Hal ini dimungkinkan karena wereng bukan hama baru di Indonesia. “Sudah sangat banyak percobaan, penelitian sampai inovasi yang diciptakan tidak hanya oleh peneliti, pemerintah bahkan oleh petani tetapi tetap saja masalah ini ada,” ujar Hermanu.

“Kalau kita masih saja menghadapi hal yang sama seperti ini berarti kita tidak pernah belajar. Atau bisa jadi memang kita tidak pernah mau berubah dan tidak punya niat baik untuk menyelesaikan persoalan wereng disemua level sehingga petani terbebas dari penderitaan dan permasalahannya yang kemudian memungkinkan produksi ajeg,” pungkasnya.

Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian akhir dari kegiatan aksi lapang pengendalian hama weereng yang digelar IPB sejak dua bulan lalu. “Dengan kegiatan ini kita berharap awareness public meningkat tentang penting persoalan ini. Selain itu kita juga berharap terjadi perubahan terutama pada kebijakan dan implementasi pengendalian hama penyakit yang dilakukan. Yang pada akhirnya mampu menyelamatkan petani dap produksi,” tutup Widodo. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *