Ismail Mustaming: Menyelamatkan Laut Bermodal Dua Ratus Ribu Rupiah | Villagerspost.com

Ismail Mustaming: Menyelamatkan Laut Bermodal Dua Ratus Ribu Rupiah

Ismail Mustaming, bermodal dua ratus ribu rupiah, jalankan bisnis perikanan ramah lingkungan (villagerspost.com/m. agung riyadi)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Berapa uang yang anda bisa belanjakan untuk bisa menyelamatkan dan melestarikan lautan beserta para penghuninya? Bagi manusia-manusia yang memiliki keteguhan hati, kesungguhan dan keyakinan untuk memegang prinsip pentingnya melestarikan alam, khususnya laut, seperti Ismail Mustaming, tak perlu modal besar untuk melakukannya. “Modal awal saya untuk berbisnis menjadi pengepul dan penjual ikan di awal usaha saya, tahun 2005 lalu, cuma dua ratus ribu rupiah,” kata Ismail.

Dengan uang sejumlah itu, lelaki kelahiran Bone, 20 November 1985, tersebut memulai langkahnya untuk menjadi pengusaha ikan ramah lingkungan. Sejak semula, Ismail memang memegang kuat prinsip hanya akan membeli ikan dan menjual ikan yang ditangkap secara ramah lingkungan. Inilah yang membedakan dia dengan penguasaha lainnya, di sekitaran kawasan Kecamatan Tanjung Batu, Berau, Kalimantan Timur.

“Saya memulainya dari bawah sebagai pengumpul ikan, saya ambil ikan dulu pakai gerobak, tantangannya kami selalu ditawarkan ikan tidak ramah lingkungan, ikan yang ditankap pakai bom, potasium, ikan racun. Itu tidak kami terima, kami patuh dengan hukum, tidak mau melanggar hukum,” kata Ismail, saat berbicara di depan 120-an peserta Lingkar Belajar Masyarakat Kalimantan Timur, di aula SMKN 3 Berau, Minggu (30/7) lalu.

Ismail sendiri bermigrasi dari kampung halamannya di Bone ke Tanjung Batu, pada tahun 2004 lalu. Semula, dia pergi merantau tanpa niat sama sekali untuk membuka bisnis, apalagi berbisnis jual-beli ikan ramah lingkungan. Terlebih, kata Ismail, dia sama sekali tak memiliki latar belakang pengetahuan soal perikanan lantaran sejak SMP dan SMA dia lebih menekuni ilmu elektronika hingga melanjutkan ke jenjang kuliah di STMIK Dipanegara Makassar.

Ismail nekat merantau ke Tanjung Batu lebih karena dorongan tidak ingin menjadi beban orang tua yang harus bekerja keras membiayai kuliahnya. Dari niat awal sekadar berwisata, Ismail akhirnya terjun ke bisnis perikanan ramah lingkungan. Itu pun bukan soal mudah baginya untuk bisa meraih sukses seperti sekarang. Perlu tiga tahun bagi Ismail untuk bisa berhasil menjadi pebisnis ikan ramah lingkungan.

Dia mengaku, mula-mula memang tidak mengerti sama sekali secara teori apa itu perikanan ramah lingkungan. “Kita hanya tahu praktik, kita yakin kita hidup harus bermanfaat untuk semua bukan saja kepada sesama manusia tetapi juga buat lingkungan atau makhluk hidup,” kata Ismail.

Karena itu dia sejak awal tidak membeli ikan yang ditangkap dengan menggunakan bom atau potas. Ismail hanya membeli ikan dari nelayan yang menangkap dengan kail dan jala. Kualitas ikan terjaga. Begitu juga ekosistem laut. Harga ikan pun dibeli lebih mahal daripada harga pasaran. Selain itu, dia berpikir, dari segi keuntungan, memang akan sangat besar jika saja mau membeli segala jenis ikan tanpa memikirkan apakah cara menangkapnya menggunakan cara-cara yang berkelanjutan atau tidak. Namun, jika membeli ikan yang ditangkap dengan bom atau potas, sama saja ikut mendukung kegiatan nelayan yang merusak lingkungan.

“Kami tidak hanya berpikir profit, kalau hanya berpikir profit usaha ika profitnya besar kalau semua ikan tak peduli ikan bom atau ikan racun kita beli, tetapi kalau begitu sama saja saya memfasilitasi nelayan untuk menangkap pakai bom atau racun. Kami bukan tidak mau untung, tetapi kami tidak mau mengorbankan lingkungan, mengorbankan nelayan, bisa saja tak hanya terumbu karang yang rusak tetapi nelayannya pun jadi korba akibat bom atau racun,” ujarnya.

Lagipula, kata Ismail, ikan yang ditangkap secara ramah lingkungan, selain baik bagi terpeliharanya laut, juga sangat baik bagi konsumen. “Makan ikan dari nelayan ramah lingkungan lebih sehat,” tegasnya.

Dia memaparkan, ikan yang ditangkap dengan bom misalnya, biasanya rusak. Tulang ikan remuk. Bagian perut juga tidak kencang lagi karena terkena ledakan. Ciri lain, mata ikan tidak terang lagi dan insangnya tidak merah. Ismail tidak mau membeli ikan seperti itu. Sebab, kualitasnya buruk. Sudah begitu, ikan yang ditangkap dengan cara di bom juga tidak tahan lama disimpan sehingga seringkali diberi zat formalin agar bisa tahan lama. “Ikan pancing rata-rata bisa tahan 10-15 hari, masih bisa layak konsumsi, ikan bom hanya 3 hari saja,” katanya.

Dengan menjadi pengusaha ikan ramah lingkungan, kata Ismail, tak hanya bermanfaat bagi lingkungan semata, tetapi juga bagi konsumen, dan juga bagi negara. Karena itu, Ismail juga membina para nelayan di Tanjung Batu agar menangkap ikan secara ramah lingkungan. “Kami tak hanya membeli ikan mereka, tetapi juga membantu memfasilitasi dengan alat tangkap ramah lingkungan,” ujar Ismail.

Dengan begitu dia berharap, kawasan laut di sekitar Tanjung Batu, khususnya dekat Derawan, akan terjaga, terutama terumbu karangnya yang merupakan tempat ikan mencari makan dan berkembang biak. Dengan menjaga karang, kelestarian ikan juga bisa dijaga sehingga nelayan juga tidak akan kekurangan ikan untuk ditangkap. “Lagipula Derawan ini juga kawasan wisata, kalau terumbu karangnya yang cantik terjaga, untuk pariwisata bisa mendatangkan devisa juga bagi negara,” jelasnya.

Saat ini Ismail membina sekitar seratus nelayan yang menangkap ikan secara ramah lingkungan. Dari jumlah itu, 70 di antaranya sudah diberi kartu anggota kemitraan, sementara 30 nelayan lainnya masih berstatus magang. Kartu anggota ini sendiri selain menjamin nelayan menangkap ikan dengan ramah lingkungan juga memudahkan nelayan membeli alat tangkap ramah lingkungan di toko peralatan tangkap ikan.

Para pemegang kartu anggota akan mendapatkan harga subsidi ketika membeli alat pancing atau jaring ikan ramah lingkungan. Harga subsidi ini juga limayan besar, untuk harga mata pancing misalnya, jika nelayan umum harus mengeluarkan uang sebesar Rp3000 untuk satu mata pancing, maka untuk pemegang kartu kemitraan hanya perlu keluar uang sebesar Rp2500 per mata pancing. Bahkan untuk mesin kapal, perbedaan harga antara untuk nelayan biasa dan anggota Ismail, sangat kentara. Jika nelayan biasa harus merogoh kocek antara Rp8juta sampai Rp9 juta, anggota Ismail cukup membeli dengan harga Rp7,5 juta saja.

Dia memang sengaja memamerkan perbedaan harga itu untuk memancing rasa penasaran nelayan lain. Biasanya mereka akan meminta penjelasan lebih detail mengapa kok beda harga. “Di sana itulah kami sosialisasikan cara dan manfaat besar menangkap ikan dengan ramah lingkungan,” terangnya.

Ismail juga sangat ketat menyeleksi para anggotanya. Begitu ketahuan menyelipkan ikan hasil bom, kartu anggota dicabut dan masuk blacklist. “Pernah ada nelayan yang debat sama saya. Untuk buktikan, kami belah ikannya dan terbukti tulangnya remuk. Nelayan itu malu sendiri, akhirnya saya dengan tegas mencabut kartu anggota meskipun nelayan itu sudah lama menjual ikan kepada saya. Jadi shock therapy untuk yang lain,” tegasnya.

Ismail juga memberikan pinjaman tanpa bunga. Uang yang bergulir sudah Rp425 juta. Nelayan bisa sesuka hati membayar pada saat menjual hasil tangkapan. Mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Meski tak ada paksaan untuk membayar lunas dengan segera, Ismail menerapkan sistem “sanksi sosial” bagi nelayan yang kerap menunggak. Jadi, bila ada nelayan yang butuh uang pinjaman, biasanya ada pula yang akan menyindir nelayan lain untuk segera membayar. “Begitu ada yang membayar, yang mengajukan pinjaman kami hubungi kalau uangnya sudah ada,” kata Ismail.

Meski sudah banyak berbuat untuk nelayan dan pelestarian laut, Ismail tak bisa berpuas diri. Dia bahkan masih punya cita-cita menjadikan nelayan mandiri dan sejahtera. Tahun ini dia akan merealisasikan konsep bank ikan. Nelayan menabung ikan dengan jenis yang sama dalam tempo lama, sekitar setahun. Selama ini nelayan itu kalau disuruh menabung susah. Sebab, uang yang dibawa ke rumah sering kali terpakai belanja istri. “Siapa tahu nanti tabungannya banyak. Lalu bisa berikan kejutan kecil untuk istri,” tuturnya.

Enam tahun usaha perikanan ramah lingkungan yang dirintis Ismail perjalan, pengakuan pun mulai berdatangan dari berbagai pihak. “Apa yang kami lakukan jadi sorotan instansi dan masyarakat serta LSM, ternyata yang kami lakukan adalah tindakan yang baik untuk perikanan berkelanjutan,” ujar Ismail.

Dari situ, Ismail mulai berkenalan dengan The Nature Conservancy (TNC) yang membina Ismail dengan berbagai fasilitas untuk pendidikan, pelatihan dan kampanye terkait alat tangkap dan perikanan ramah lingkungan. “Pernah juga diminta bicara di depan para pengusaha besar di Jakarta soal menjaga lingkungan. Saya gugup juga, yang hadir banyak orang besar,” kenangnya. Acara tersebut salah satunya digagas TNC yang menjadi mitra untuk penguatan komunitas penjaga lingkungan hidup. “Kalau ikut komunitas itu akan lebih didengar. Beda kalau sendirian,” ujar dia.

Tahun 2016 lalu, Ismail juga mendapatkan penghargaan dari Bupati Berau sebagai pengumpul ikan ramah lingkungan. Puncaknya, Ismail mendapatkan penghargaan dari sebuah televisi swasta sebagai “Pahlawan Indonesia untuk Lingkungan”. Dan penghargaan itulah yang mengantarkannya bisa bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2017 lalu.

“Kami secara pribadi diundang Pak JK, bertemu juga dengan Menteri Sosial Ibu Khofifah, kami berdialog dengan wapres tentang perikanan ramah lingkungan bagaimana supaya laut Indonesia, terutama Berau bisa lestari, nelayannya menjadi nelayan ramah lingkungan sehingga laut Berau menjadi lebih baik, wisata bertambah pengunjungnya, nelayan bisa lebih sejahtera, menghasilkan ikan dan pendapatan yang lebih besar dari sebelumnya,” pungkas Ismail.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *