Istri Nelayan Langkat: “Pak Jokowi Bebaskan Suami Kami!” | Villagerspost.com

Istri Nelayan Langkat: “Pak Jokowi Bebaskan Suami Kami!”

Keluarga Nelayan Langkat berharap Presiden Jokowi membebaskan suami mereka yang ditangkap polisi maritim Malaysia (dok kiara)

Keluarga Nelayan Langkat berharap Presiden Jokowi membebaskan suami mereka yang ditangkap polisi maritim Malaysia (dok kiara)

Jakarta, Villagerspost.com – Peringatan hari kemerdekaan Republik ke-70 pada 17 Agustus hari ini, mungkin tak akan dirayakan dengan gegap gempita dan penuh keceriaan oleh beberapa perempuan nelayan di Langkat, Sumatera Utara. Pasalnya, di tengah semarak kemerdekaan, suami-suami mereka justru tengah ditahan oleh aparat keamanan Malaysia yang menangkap mereka dengan tuduhan melanggar wilayah perbatasan.

Karena itulah, para perempuan tersebut kemudian mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo memohon agar pemerintah turun tangan membebaskan suami-suami mereka yang ditangkap pada 21 Juli lalu. Wiliyana (32) misalnya, memohon dengan sangat Sang Presiden membantu memulangkan/membebaskan suaminya.

“Suami kami adalah tulang punggung keluarga untuk menafkahi kami dan anak-anak,” kata Wiliyana dalam suratnya yang diterima redaksi Villagerspost.com, Senin (17/8).

“Bapak Presiden yang kami hormati, hari ini kami merasa putus asa dikarenakan kami mendapat kabar dari Konsulat RI yang berada di Penang Malaysia, yang menurut beliau suami kami akan dihukum enam bulan penjara dikarenakan terbukti bersalah,” keluhnya.

Wiliyana mengatakan, suaminya telah dipaksa menandatangani berkas namun tidak diperbolehkan untuk membaca surat tersebut. “Atas dasar tersebut kami mohon kepada Bapak presiden untuk membantu perlindungan hukum dan memulangkan suami kami,” pintanya.

Permintaan serupa juga dilayangkan Safinah (25) yang suaminya juga ditangkap bersama suami Wiliyana. Suami Safinah ditangkap Polisi Perairan Diraja Malaysia pada pukul 22.45 WIB. Kemudian pada pukul 13.30 kapal nelayan dimana suami Safinah bekerja digandeng kapal patroli Malaysia ke wilayah Penang yang berjarak 9 jam perjalanan.

“Pada saat itu cuaca dalam keadaan berkabut tebal sehingga bot suami kami terpergok polisi maritim Malaysia dan kemudian dipaksa untuk berhenti,” keluhnya.

Dari informasi yang diperoleh, Safinah mendapat kabar kalau suaminya yakin saat itu mereka melaut masih di wilayah RI. “Karena itu kami memohon kepada Bapak Presiden H. Joko Widodo agar mau membantu memulangkan suami kami,” pintanya.

Bersama Wiliyana dan Safinah, masih ada sepuluh perempuan lain yang senasib yang sama-sama memohon Presiden Jokowi mendengarkan suara mereka agar suami mereka yang menjadi tulang punggung keluarga bisa dibebaskan dan dipulangkan.

Seperti diketahui, pada tanggal 21 Juli lalu, terjadi penangkapan terhadap 12 orang nelayan tradisional Indonesia asal Langkat, Sumatera Utara. Mereka ditangkap oleh polisi laut Malaysia di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia. Penangkapan ini merupakan pengulangan terhadap kejadian-kejadian serupa sebelumnya.

Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Perikanan per bulan Juli 2015 mencatat, sedikitnya 63 nelayan tradisional mengalami kejadian tidak manusiawi saat melaut. Mereka mengalami mulai dari penangkapan, intimidasi, pemukulan hingga pemaksaan untuk menandatangani surat pernyataan bersalah telah melanggar batas negara

Karena itulah, KIARA mendesak Presiden Joko Widodo untuk bekerja keras memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok tanah air merasakan kehadiran pemerintahan. “Khususnya nelayan di perairan perbatasan negara,” kata Sekretaris Jenderal KIARA Abdul Halim kepada Villagerspost.com.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *