Kakao: Buah yang Tingkatkan Kesejahteraan Perempuan Petani dan Petani Skala Kecil Indonesia | Villagerspost.com

Kakao: Buah yang Tingkatkan Kesejahteraan Perempuan Petani dan Petani Skala Kecil Indonesia

Cecilia Keizer-Country Director of Oxfam in Indonesia (Dok. Oxfam)

Cecilia Keizer-Country Director of Oxfam in Indonesia (Dok. Oxfam)

Oleh: Cecilia Keizer, Country Director of Oxfam in Indonesia

Berbicara tentang kakao, setiap orang tahu rasa manisnya coklat: Kita semua mencintainya dan sebuah perubahan besar bahwa kelezatan manis ini telah diproduksi dari kerja keras sejumlah 1,4 juta petani kakao Indonesia. Sektor kakao Indonesia telah mengalami rasio pertumbuhan yang tinggi sepanjang dekade belakangan ini.

Saat ini Indonesia adalah negara terbesar ketiga produsen kakao setelah Pantai Gading dan Ghana dengan besaran ekspor mencapai 15% dari keluruhan produksi biji kakao dunia. Dari sekitar 1,5 juta hektare lebih lahan penanaman kakao–dengan 70% dari produksi nasional ditanam di Sulawesi. Sekitar 1,4 juta petani di seluruh negeri menggantungkan hidupnya dari sektor kakao sebagai pendapatan utamanya. Petani skala kecil memiliki sekitar 95% areal penanaman.

Ketika produktivitas kakao Indonesia per hektare tertinggal dari para produsen kakao lainnya, pemerintah memulai program revitalisasi kakao di tahun 2009 untuk mendongkrak produksi melalui intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan tanaman, atas lahan seluas 450 ribu hektare. Faktor-faktor yang menghambat kemajuan industri kakao Indonesia adalah tanaman-tanaman tua yang ditanam di tahun 1980-an, tidak mencukupinya bibit tanaman yang baik dan sedikitnya pengelolaan lahan. Sektor ini memerlukan investasi lebih untuk mencapai target pemerintah meraih produksi satu juta ton per tahun di 2014.

Dalam konteks ekspor, kakao menempati urutan keempat terbesar penghasil devisa dari sektor agrikultur setelah sawit, karet dan kelapa. Bagaimanapun kebanyakan ekspor Indonesia terdiri dari biji mentah ketimbang kakao yang sudah diproses. Ini artinya Indonesia kehilangan pendapatan dari nilai tambah atas barang.

Sekitar 90 persen produk kakao Indonesia diproduksi oleh petani skala kecil yang kerap kali kekurangan sumberdaya finansial yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi, yang mengakibatkan menurunnya produksi akibat tanaman yang menua, penyakit, banjir dan sebagainya. Kebanyakan petani skala kecil dan pekerja kebun kakao hidup di bawah garis kemiskinan dan hanya memiliki sedikit daya tawar karena tidak efisiennya hubungan antara produsen-pasar dan terbatasnya akses pada layanan finansial dan peningkatan kapasitas.

Perempuan petani dan anak-anak bahkan lebih buruk lagi. Perempuan petani mendapatkan penghasilan lebih rendah dari rekan proa mereka meskipun mereka menyediakan lebih dari setengah jumlah pekerja di kebun kakao. Situasi ini membuat petani kakao skala kecil dan pekerja perkebunan kakao terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan produksi yang tidak berkelanjutan.

Oxfam bersama mitra-mitranya berkomitmen untuk mendukung petani skala kecil dan perempuan petani untuk mengembangkan produksi kakao yang berkelanjutan. Oxfam dan mitra juga berkomitmen untuk meningkatkan hasil panen mereka, meningkatkan kesehatan kebun dan menolong mereka mengorganisir diri agar dapat mengakses pasar, memperoleh harga yang lebih baik, meningkatkan berbagai aspek dalam rantai nilai kakao dan bekerjasama dengan asosiasi petani kakao untuk mengadvokasi terciptanya kondisi yang lebih baik.

Isolasi dan infrastruktur yang buruk seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi petani untuk menjual kakao mereka. Bukannya mampu mengakses harga yang lebih tinggi, kakao mereka umumnya malah dijual di desa terdekat. Jalan yang rusak dan ketidaktersediaan angkutan yang memadai berarti petani seringkali harus menjual dengan harga rendah seperti yang ditawarkan pedagang di tingkat desa.

Investasi lebih lanjut sangat dibutuhkan oleh sektor kakao dari pemerintah, bank dan sektor swasta. Hal yang sama juga dibutuhkan dari institusi teknis atau lembaga swadaya masyarakat dan kita harus membuat upaya bersama untuk membuat sektor kakao menjadi sehat, berkelanjutan dan sektor yang booming di Indonesia.

Menumbuhkan kakao berkualitas tinggi dengan cara berkelanjutan sangat esensial bagi kelanjutan penghidupan dan perekonomian petani kakao skala kecil. Perusahaan pembeli kakao sering kali memiliki kepentingan yang sama dengan para pelanggan mereka dan konsumen menuntut tata niaga coklat yang adil. Mereka menginginkan sumber produksi kakao yang adil dan berkelanjutan.

Karena alasan itulah sangat baik untuk menjalin hubungan dengan sektor swasta seiring keinginan mereka untuk berinvestasi di sektor kakao dan mendukung pembangunan berkelanjutan industri kakao Indonesia. Diharapkan sinergi semacam itu dapat terbentuk dalam kerangka membangun kemitraan strategis antara bisnis dan petani, sebagaimana membangun jaringan yang kuat antar petani kakao di tingkat nasional dan regional untuk memungkinkan sektor ini tumbuh.

Suara dari para petani kakao skala kecil dari berbagai wilayah produksi di Indonesia dan regional Asia dapat didengar oleh seluruh pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan asosiasi perusahaan coklat. Hal ini juga memungkinkan bagai para petani kakao untuk menjalin hubungan dengan pemerintah dan sektor swasta yang mampu menyediakan kesempatan yang cukup untuk saling belajar dan bekerjasama untuk meingkatkan sektor perkebunan dan penanaman kakao.

Juga sangat baik untuk membangun strategi baru kemitraan antara semua pemangku kepentingan kakao dan untuk menciptakan komitmen untuk bekerjasama untuk mempromosikan sektor kakao Indonesia yang sehat, berkelanjutan dan adil. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *