Karmin: Dari Kader PKK ke Paralegal Pembela Hak Perempuan | Villagerspost.com

Karmin: Dari Kader PKK ke Paralegal Pembela Hak Perempuan

Karmin saat menceritakan pengalamannya membela hak-hak perempuan (Dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Karmin saat menceritakan pengalamannya membela hak-hak perempuan dan masyarakat (Dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Jakarta, Villagerspost.com – Suatu hari di tahun 2014 silam, seorang perempuan setengah baya dengan penampilan lusuh, tampak kurang terawat, mendatangi Karmin di rumahnya. Perempuan itu, sebut saja namanya Lia, tanpa banyak berbasa-basi langsung bertanya kepada Karmin. “Bisa kau tolong saya?” Sebagai seorang kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga yang aktif sejak tahun 1991, dan kemudian menjadi paralegal pembela hak perempuan dari Lembaga Bantuan Hukum APIK sejak tahun 2010, Karmin paham belaka, Lia–perempuan yang ketika itu sudah berusia 55 tahun– memang tengah menghadapi persoalan berat.

Maka, dengan penuh kesabaran, bertanyalah Karmin kepada Lia. “Ibu memang sedang ada masalah apa?” Maka mengalirlah sebuah cerita pilu dari mulut Lia tentang nasibnya yang malang akibat perilaku suaminya–sebut saja– Bas, yang tak bertanggung jawab. Ternyata, sudah nyaris setahun, Lia ditinggal Bas begitu saja tanpa diberi nafkah.

Seturut cerita Karmin, yang ditemui Villagerspost.com, di sebuah acara yang dihelat Oxfam di Jakarta beberapa waktu lalu, kasus-kasus seperti Lia, dimana suami meninggalkan dan menelantarkan istri dan anak-anaknya, nyaris merupakan sebuah kasus yang biasa di kampungnya di Desa Labuan Panimba, Donggala, Sulawesi Tengah. Umumnya, suami meninggalkan istri lantaran tertarik dengan perempuan lain dan diam-diam menikahinya tanpa sepengetahuan istri pertama yang kemudian ditinggalkan begitu saja.

Kisah seperti itu juga bisa terjadi di segala usia. Dalam kasus Lia, usia Bas juga sudah setengah baya mendekati usia 60-an. Bas, seturut cerita Lia, tertarik pada perempuan lain yang lebih muda. Suatu ketika, Lia mencoba menanyakan hal itu dan meminta ketegasan Bas. Hal itulah yang memicu pertengkaran dan akhirnya menjadi alasan bagi Bas meninggalkan Lia.

Maka, tinggallah Lia harus hidup sendiri sembari merawat anak-anaknya. Meski dua anak Lia suah menikah, namun kondisi ekonomi memaksa mereka untuk tetap tinggal di dekat orangtuanya. Lia diluar kesibukannya mencari nafkah dari berdagang sayuran, masih juga harus membantu mengurus cucunya dan satu anak lagi yang masih sekolah. “Penghasilan dia dari berdagang sayur paling banyak sehari hanya Rp25.0000,” kata Karmin.

Sementara Bas, sang suami, tadinya adalah seorang pembuat mebel yang penghasilannya cukup lumayan untuk menghidupi keluarganya. Alhasil, setelah ditinggal Bas, Lia hanya bisa mengandalkan penghasilannya yang kecil itu untuk menghidupi diri dan sedikit membantu anak-anaknya. Mungkin lantaran terdesak himpitan hidup yang berat, saat mengadukan masalahnya kepada Karmin, Lia ingin agar Karmin membantunya mengadukan kasusnya itu ke polisi.

Hanya saja, Karmin punya strategi lain. Dia lebih memilih menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan terlebih dahulu. “Saya bisa bantu tetapi tidak serta merta, Bu Lia sabar harus mengalah, kita melangkah dari awal, tempuh jalur kekeluargaan karena yang dihadapi adalah suami, ayah dari anak-anak,” kata Karmin menenangkan hati Lia. Maka jalur kekeluargaan pun ditempuhlah.

Mula-mula Karmin mendatangi keluarga Bas. Hanya saja, kenyataan yang dihadapi Karmin untuk menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan ternyata sangat berat. Sebagai pihak lelaki, keluarga Bas, termasuk Bas sendiri–yang terbiasa hidup dalam kungkungan budaya patriarki–cenderung menyalahkan Lia sebagai perempuan. Bagi mereka, jika suami meninggalkan istri, itu hanya dipandang sebagai masalah biasa. “Saat suami pulang justru istri yang disalahkan,” kata Karmin.

Merasa upayanya memberi pemahaman kepada Bas dan keluarganya agar bisa memahami hak-hak Lia sebagai perempuan sia-sia, Karmin pun menempuh jalur lain. Kali ini dia mencoba menempuh jalur adat. Dia meminta tetua adat setempat untuk turun tangan menangani masalah ini. Hanya saja setelah beberapa waktu, tetua adat pun menyerah. “Bas dan keluarganya tak pernah menghormati tetua adat,” kata Karmin.

Pun demikian ketika Karmin meminta bantuan aparat pemerintahan desa untuk menyelesaikan masalah ini. “Kalau di depan kepala desa, Bas kerap mengaku akan memperbaiki perilakunya, tetapi setelahnya, dia berulah lagi. Itu sudah menjadi lagu lama Bas, sulit diubah diperbaiki,” kata Karmin.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *