Kasus Pertambangan Pulau Wawonii: Ini Kronologis dan daftar Korban | Villagerspost.com

Kasus Pertambangan Pulau Wawonii: Ini Kronologis dan daftar Korban

Kerusakan akibat pertambangan di Pulau Wawonii (dok. koalisi nasional untuk rakyat Wawonii)

Kerusakan akibat pertambangan di Pulau Wawonii (dok. koalisi nasional untuk rakyat Wawonii)

Jakarta, Villagerspost.com – Kasus pertambangan di Pulau Wawonii dimana masyarakat khususnya petani dan masyarakat adat menjadi korban kekerasan aparat yang lebih cenderung membela perusahaan menunjukkan kepedulian pemerintah pada penyelesaian konflik agraria masih rendah. Padahal tuntutan masyarakat untuk menghentikan pertambangan itu adalah demi kelangsungan hidup mereka yang terancam akibat kerusakan lingkungan yang diakibatkan aktivitas pertambangan.

Berikut adalah kronologis kekerasan yang terjadi dalam konflik agraria terkait pertambangan di Pulai Wawonii:

1. Posisi Kejadian (Pra Kejadian)

Konflik agraria yang terjadi di empat desa yaitu Desa Polara, Desa Tondonggito, Desa Waturai dan Desa Kekea, Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara sudah terjadi sejak 2007. Pada saat itu SK Bupati No.63/2007 yang dikeluarkan oleh Bupati Konawe tidak melibatkan masyarakat yang ada di Wawonii, khususnya di empat desa tersebut. Secara sepihak tanah warga dimasukkan ke kawasan IUP PT Derawan Berjaya Mainning seluas 10.070 hektar.

Warga yang tanahnya dirampas oleh PT Derawan Berjaya Mainning, merespon tindakan tersebut dengan menyerbu dan membakar kamp milik PT Derawan Berjaya Mainning (8/3/2015). Warga marah karena tanah mereka, termasuk tanah leluhur mereka dijadikan wilayah tambang PT DBM. Atas kejadian ini maka pihak Kepolisian melakukan penyerbuan ke empat desa di Wawonii untuk menangkap tokoh-tokoh masayarakat, sekaligus memberikan intimidasi kepada warga agar tidak mengganggu PT DBM.

2. Kronologis Kejadian

Sabtu, 2 Mei 2015 pukul 16.00 Wita Kapolsek Waworete bersama 8 orang personil lainnya, mendatangi Hasim Lasao, Petani Desa Polara dan memberi informasi bahwa besok Kapolres Kendari akan datang. Tujuannya untuk menangkap Hasim Lasoa karena dianggap tokoh penggerak aksi 8 Maret 2015 sehingga terjadi pembakaran basecamp PT Derawan Berjaya Mining (DBM).

Pukul 18.00 Wita 3 pleton Polisi yang terdiri dari gabungan satuan Brimob Sulawesi Tenggara dan Polres Kendari tiba di Desa Batulu dan Desa Tekonea dengan menggunakan transportasi kapal/speet. Minggu 3 Mei 2015 pukul 04.00 Wita Polisi berjumlah 3 pleton dan bersenjata lengkap yang terdiri dari 2 tim masuk ke Desa Batulu dan Tekonea. Tujuan mereka adalah rumah Pak Ismail dan Hasim Lasao untuk menangkap Muamar dan Hasim Lasao.

Muamar yang tidak melakukan perlawanan disiksa dan dianiaya 50 polisi dan ditodongkan senjata tepat di kepalanya. Firman yang menginap di rumah pak Ismail ikut diborgol. Dalam kejadian tersebut ada empat orang yang ditangkap, yaitu Muamar, Hasrudin, Firman dan Ardiansyah. Namun Friman dan Ardiansyah di tengah jalan dilepaskan oleh polisi. Warga yang terbangun dan melihat kejadian tersebut langsung menghadang Brimob yang bersenjata lengkap dan mendesak Brimob untuk membebaskan tahanan tersebut. Desakan ini dibalas Brimob dengan menambak  warga secara brutal dan menganiaya warga yang menghalangi. Dari kajadian tersebut dua orang yang terkena luka tembak Adam (28) dan Malinta (35).

3. Pasca Kejadian

Pasca kejadian, ratusan warga pada hari Senin (4/5) langsung mendatangi pihak kepolisian yang menahan Muamar dan Hasrudin. Mereka mendesak agar kedua pejuang agraria tersebut dibebaskan namun yang dibebaskan hanya Hasrudin. Muamar telah ditetapakan sebagai tersangka karena dianggap sebagai salah satu tokoh gerakan agraria di Wawonii. Kondisi Muaram penuh dengan luka memar ketika ditemui reka-rekannya dari Wawonii. Rencananya warga Wawonii akan melakukan aksi ke kantor Gubernur untuk mendesak Gubernur mencabut SK Bupati No.63/2007. SK yang dikeluarkan oleh Bupati Konawe telah menjadi malapetaka bagi warga Wawonii.

Daftar Korban (Minggu, 03 April 2015 – Pukul : 04.00 Wita)

No. Korban Umur L/P Latar Belakang Kekerasan Fisik yang dialami Keterangan
1. Muamar 29 thn L Aktivis PRD / Warga Polara Ditangkap (dalam kondisi pakai sarung / celana dalam) selain ditangkap mengalami kekerasan fisik (dipukul, di injak2) Ditangkap
2. Hasrudin 24 thn L Mahasiswa Ditangkap dan dipukuli ditangkap
3. Firman 24 Thn L Mahasiswa Ditangkap – dan dipukuli Ditangkap dan dilepas kembali
4. Ardyansyah 25 Thn L Petani Ditangkap – dan di pukuli Ditangkap dan dilepas kembali
5. Adam 28 thn L Petani Kena tembakan – 2 peluru bersarang di punggung/ belakang sedang perawatan intensif di RS. Abunawas Kota Kendari
6. Malinta 35 thn L Petani 1 kali kena tembakan (di telapak tangan) Rawat jalan
7. Johar / La Tata 25 thn L Petani Dipukul
8. Syawal 32 thn L Petani Kena pukulan, luka akibat peluru hampa
9. Sukiman 31 thn L Petani Dipukul (kaki bengka, punggung belakang memar)
10. Tamrin 36 thn L petani Kena tembakan di lengan kanan
11. Hajaria 35 thn P Petani / ibu rumah tangga Korban Pelecehan ( buah dada didorong /dipegang
12. Ibu rusnah 50 th P Petani / ibu rumah tangga Kena pukulan aparat
13. Ibu Hasinah 53 thn P Petani / ibu rumah tangga Ditodong senjata/diancam
14. Ibu   Anita 37 thn p Petani / ibu rumah tangga Kena pukulan Ibu Hamil

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *