Kekuatan Agama, Adat dan Desa Hapus Kekerasan Terhadap Perempuan | Villagerspost.com

Kekuatan Agama, Adat dan Desa Hapus Kekerasan Terhadap Perempuan

Kanisius Nino, pendeta yang menjadi ketua kelompok paralegal Desa Kuanek, TTU, Nusa Tenggara Timur (dok. villagerspost.com)

Kanisius Nino, pendeta yang menjadi ketua kelompok paralegal Desa Kuanek, TTU, Nusa Tenggara Timur (dok. villagerspost.com)

Timor Tengah Utara, Villagerspost.com – Tangis Kanisius Nino mendadak pecah. Kepalanya menunduk, seraya tangannya menutupi muka menahan tetesan air mata yang pelan-pelan jatuh membasahi pipinya. Kisah kekerasan yang dilakukan Bertus (bukan nama sebenarnya) terhadap sang istri Merry (juga bukan nama sebenarnya) memang benar-benar menggiriskan hati siapapun yang masih punya hati nurani. Dengan sedikit terbata-bata, Kanis–begitu dia biasa disapa–menceritakan peristiwa tragis yang terjadi di tahun 2015 lalu itu.

Terkisah, di suatu malam sekitar pukul 20.30 Waktu Indonesia Tengah, Bertus pulang ke rumah dengan membawa ikan. Malam itu situasi seolah biasa-biasa saja, Merry bergegas menyambut ikan yang dibawa Bertus untuk dibersihkan dan kemudian dimasak. Situasi memanas ketika Bertus kemudian bertanya kepada anaknya, soal kepergian Merry ke kebun dan untuk keperluan apa.

Bertus kemudian menuduh Merry telah membantu seorang tetangga perempuan, sebut saja namanya Bunga di kebun. Bertus marah lantaran menurutnya Bunga adalah seorang pelacur dan dia takut istrinya akan terbawa-bawa perilakunya.

Merry tak bisa menerima tuduhan Bertus yang dinilainya tak masuk akal. Dengan ketus dia berkata kepada Bertus: “Engkau belum mengubah sifatnya, lebih baik keluar,” kata Merry. Bertus pun naik pitam. Entah mengapa dia menjadi gelap mata lalu mengambil parang dan diayunkan ke tubuh Merry hingga empat kali, sekali ke kepala dan tiga kali ke lengan. Akibat kekerasan yang dialaminya, Mery sampai mengalami cacat di tangannya.

(Baca Juga: Kisah Paralegal Perempuan, Meruntuhkan Tembok Kekerasan)

Kasus Merry, sejauh ini memang menjadi kasus yang paling membuat perasaan kemanusiaan Kanisius Nino tersayat. Pria yang juga seorang pemuka agama di Desa Kuanek, Kecamatan Bikomi Tengah, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur ini, mengaku tak habis pikir mengapa seorang lelaki bisa berlaku seperti itu kepada istrinya, yang notabene adalah orang yang dia cintai. “Sungguh kejam,” katanya seraya menghapus sisa-sisa air matanya.

Akhir cerita kasus ini sendiri berakhir di pengadilan. Bertus sang suami yang telah bertindak kejam kepada Merry, akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun 6 bulan. Meski pelaku dipenjara, bagi Kanis, hukuman itu tak akan bisa menghapus dosa kekejaman yang dilakukan pelaku. “Korban cacat seumur hidup,” katanya.

Kanis sendiri aktif terjun sebagai paralegal sejak tahun 2014 lalu. Ketika itu para pengurus Yabiku datang ke desa tersebut untuk merekrut paralegal mendampingi para korban kekerasan. Koordinator Kemitraan untuk Program Keadilan Gender Oxfam Juliana Ndolu mengatakan, Oxfam bekerjasama dengan Yabiku sejak tahun 2012 untuk memperkenalkan sistem paralegal sebagai perpanjangan tangan yayasan dalam menangani kasus-kasus kekerasan di desa-desa di Kabupaten TTU. “Mereka akan turun tangan apabila menerima laporan untuk mendampingi korban dan memediasi korban dengan pelaku,” kata Juliana.

Karena itulah Yabiku dengan dukungan Oxfam kemudian berupaya merekrut kader-kader paralegal baik laki-laki maupun perempuan dari desa-desa di kabupaten tersebut. Para calon paralegal terpilih kemudian diberikan pelatihan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, cara penyelesaian masalah rumah tangga yang baik, serta cara pelaporan kasus kepada polisi. Total ada 25 perempuan dan 18 laki-laki yang direkrut menjadi paralegal di lima desa. Latar belakang mereka bermacam-macam, mulai dari ibu rumah tangga, petani, tokoh agama, hingga tokoh adat.

Untuk desa Kuanek, Kanisius Nino merupakan salah satu dari 11 orang yang di tahun 2014 lalu direkrut dan dilatih untuk menjadi paralegal. “Kami bersebelas namun satu orang tarik diri karena tak didukung suami, jadi tinggal 10 orang,” ujarnya.

Sebagai seorang pendeta, bagi Kanis, memang bukan hal baru menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi desa tersebut. “Kami ini terdiri dari tokoh-tokoh masyakarat, sudah tangani kasus yang terjadi,” katanya.

Seperti umumnya kasus-kasus kekerasan yang terjadi di NTT, kasus kekerasan yang terjadi di des Kuanek, menurut Kanis umumnya juga terjadi karena adanya relasi budaya, ekonomi dan relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Semua itu kemudian diperuncing dengan faktor kebiasaan kaum lelaki meminum minuman keras yang biasa disebut sopi. “Faktor pelaku mabuk seringkali mendorong terjadinya kekerasan,” ujarnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *