Kendalikan Serangan Wereng Batang Coklat, Ini Rekomendasi IPB | Villagerspost.com

Kendalikan Serangan Wereng Batang Coklat, Ini Rekomendasi IPB

Serangan wereng yang cukup parah di area pesawahan Desa Punggut, Kecamatan Pedas, Ngawi, Jawa Timur (dok. gerakan petani nusantara)

Bogor, Villagerspost.com – Pengamatan secara langsung di lapangan yang dilakukan melalui kegiatan Klinik Tanaman IPB sejak bulan Februari hingga Juli tahun 2017 menghasilkan beberapa temuan lapangan. Pertama, ledakan wereng batang cokelat (WBC) dan penyakit kerdil hampa/kerdil rumput disentra-sentra produksi padi terjadi minimal di 30 kabupaten di Jawa, Bali dan Lampung.

“Pada banyak tempat, serangan WBC dan kejadian penyakit kerdil rumput/kerdil hampa yang disebabkan oleh virus telah berlangsung selama 2-4 musim tanam padi. Cakupan daerah serangan WBC dan penyakit kerdil rumput/kerdil hampa yang ditularkan oleh WBC pada tahun 2017 ini lebih luas dari 2010,” kata Kepala Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Suryo Wiyono, di acara ‘Diskusi Publik: Ekspose Hasil Lapangan dan Solusi’ yang digelar, di Kampus IPB, Dramaga, Bogor, Senin (14/8).

Kedua, serangan yang berat WBC dan virus kerdil berat terjadi pada daerah yang melakukan tiga kali penanaman dalam setahun. Ketiga, berbeda dengan ledakan WBC tahun 2010-2011, yang mana ledakan juga dialami oleh negara lain seperti Thailand dan Vietnam, ledakan WBC tahun 2017 hanya terjadi di Indonesia.

Keempat, pengetahuan petani tentang wereng batang cokelat dan penyakit virus kerdil hampa/kerdil rumput sangat terbatas. “Hampir 100% petani tidak tahu tentang gejala, penularan dan sifat-sifat penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput dan kaitannya dengan WBC,” papar Suryo.

Kelima, permasalahan pestisida berkaitan dengan pertanaman padi sangat memprihatinkan, dimana, sebanyak 70 % petani padi di Pulau Jawa menggunakan beberapa insektisida yang dilarang untuk padi. Kemudian, hampir semua petugas pertanian yang ada tidak tahu tentang insektisida yang dilarang untuk padi. “Lalu ada juga promosi pestisida yang dilarang untuk padi dan banyak petani tidak paham penggunaan pestisida yang baik dan benar,” terang Suryo.

Keenam, sistem pengamatan hama dan penyakit padi tidak mampu mendeteksi potensi ledakan hama/penyakit karena kelemahan metodologi, dan konsistensi penerapannya.

Dari hasil pengamatan itu, kata Suryo, IPB mengidentifikasi, penyebab ledakan wereng batang coklat tahun 2017 ini adalah interaksi dari beberapa faktor. Pertama, faktor iklim yang cukup basah pada tahun 2017 (kemarau basah). Kedua, pola penanaman padi yang terus menerus tanpa jeda. Ketiga, intensitas penggunaan insektisida yang tinggi (8-12 aplikasi per musim) oleh petani, dan beberapa insektisida yang digunakan merupakan golongan insektisida yang dilarang untuk padi.

Berdasarkan permasalahan tersebut, untuk mengendalikan dan mengantisipasi ledakan serangan WBC, IPB merekomendasikan beberapa upaya berikut:

1. Menerapkan secara konsisten Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dalam pengendalian hama penyakit padi sesuai dengan Inpres No. 3/1986, UU No. 12/1992 dan PP No 6/1995.
2. Melakukan jeda penanaman satu musim, sehingga dalam satu hamparan dihindarkan adanya tanaman padi secara terus menerus.
3. Memusnahkan tanaman yang terserang virus kerdil hampa dan kerdil rumput karena berpotensi menjadi sumber penyakit pada musim berikutnya.
4. Memperbarui sistem pengamatan hama dan penyakit padi, sehingga memenuhi prinsip cepat, akurat, obyektif dan efisien, sehingga dapat dijadikan dasar yang tepat untuk mengambil tindakan pengendalian.
5. Meningkatkan kapasitas SDM pertanian, baik petani, POPT, PPL, dan staf Dinas terkait dengan pengetahuan mereka terhadap WBC, virus kerdil hampa/kerdil rumput, pestisida dan penggunaanya pada tanaman padi. Khusus untuk petani, pola SLPHT dapat didorong kembali keberadaanya dan lebih diperkuat
6. Membenahi distribusi, promosi, dan penggunaan dan pengawasan pestisida untuk tanaman padi.
7. Menerapkan teknologi pengendalian yang memperkuat ketahanan agroekosistem, diantaranya pengembalian jerami, penggunaan agens hayati, dan mengurangi penggunaan pestsida. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *