Kisah Unik nan Mistis di Balik Produk Unggulan Desa Dayak Wehea | Villagerspost.com

Kisah Unik nan Mistis di Balik Produk Unggulan Desa Dayak Wehea

Motif ukiran khas Dayak Wehea “Ding Wang Loh” yang memiliki kisah unik nan mistis (dok. kristian hasmadi/desa nehas liah bing)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Terkisah di masa lalu, ketika leluhur suku Dayak Kayan, datang ke tanah Kalimantan, mereka meminta izin untuk mendiami wilayah yang sudah ditempati oleh suku Dayak Wehea. Maka kedua “He Pue” atau kepala suku pun bertemu untuk mengambil sumpah persaudaraan sebagai tanda diizinkannya suku Dayak Kayan mendiami kawasan yang berdampingan dengan lahan milik Dayak Wehea yang kini menjadi Desa Nehas Liah Bing, di tepian sungai Wehea.

Sebagai pengikat janji, darah kedua He Pue, lalu dituangkan dan dicampurkan ke dalam sebuah gelas. Kemudian diambillah satu taring harimau dan dimasukkan ke dalam gelas tersebut. Selanjutnya, kedua He Pue memasukkan taring harimau ke dalam mulut masing-masing sebagai tanda sumpah persaudaraan telah terikat. Sejak itu sebagai penghuni asli kawasan tersebut, Dayak Wehea menjadi saudara tua Dayak Kayan.

“Kedua suku tidak boleh saling menculasi atau saling mengkhianati, kalau mengkhianati, maka taring harimau itu akan memakan pihak yang culas,” demikian kisah Kristian Hasmadi, Kepala Desa Nehas Liah Bing, saat ditemui Villagerspost.com, di sela-sela acara Lingkar Belajar Masyarakat Kaltim, di aula SMKN 3 Tanjung Batu, Berau, Minggu (29/7).

Kisah inilah kata pria yang akrab disapa Pak Lung itu, yang mendasari terciptanya salah satu motif ukiran unik yang hanya dimiliki suku Wehea yaitu motif “Ding Wang Loh”. Seni ukiran, kata Pak Lung, memang menjadi produk andalan desanya. “Motif kami berbeda dengan suku dayak lainnya karena kalau tidak benar-benar memahami, akan terlihat seperti motif abstrak,” ujarnya.

Padahal, ada motif tertentu yang tersimpan di balik setiap ukiran. Motif “Ding Wang Loh” misalnya, jika dilihat ke arah atas, maka akan memperlihatkan motif wajah manusia. Namun jika dilihat ke bawah maka akan tampak motif harimau yang dalam bahasa Wehea disebut “Le Jie”. Motif harimau ini bukan muncul tanpa sebab. Pak Lung percaya, di kawasan sekitar Wehea, tadinya terdapat satwa langka nan dilindungi tersebut.

“Kalau tidak ada tak mungkin orang-orang tua kita mampu menggambar motif harimau. Lagipula, taring pengikat perjanjian kedua suku itu juga masih kami simpan sebagai bukti adanya hewan tersebut di sini,” kisahnya.

Motif “Ding Wang Loh” ini merupakan motif yang paling umum digambarkan oleh para perajin ukiran di Nehas Liah Bing. Ciri unik lainnya, selain motif kepala manusia dan harimau adalah ukiran lubang-lubang yang jumlahnya antara 3-4 lubang. “Selain di gagang mandau, motif ini juga diukirkan di patung-patung. Ukiran inilah yang banyak menarik minat turis,” kata Pak Lung.

Tak heran jika produksi sedang kurang, maka jika ada motif ukiran ini dimiliki secara pribadi oleh salah satu anggota suku, kerap kali turis berkeras ingin membelinya. Padahal, harganya tak murah juga. “Satu ukiran motif Ding Wang Loh ini, dihargai sampai 3,5 juta rupiah,” kata Pak Lung.

Motif “Ken Hung” yang sakral dan tidak bisa dimiliki sembarang orang (dok. kristian hasmadi/desa nehas liah bing)

Selain menggunakan medium kayu, ukiran umumnya juga dibuat dari tulang tanduk rusa. Selain motif “Ding Wang Loh” ada juga motif ukiran yang sangat mistis dan sakral yang diberi nama “Ken Hung”.

“Ukiran ini sebenarnya lebih sederhana, menggambarkan stupa sebagaimana yang ada di candi-candi, tetapi motif ini tidak bisa dan tidak boleh dimiliki sembarang orang,” ujar Pak Lung.

Motif “Ken Hung” hanya khusus diukirkan pada gagang mandau milik “Lun Pin Emta” atau orang yang mampu menyembuhkan penyakit dan hanya digunakan saat melakukan ritual penyembuhan atau “Enjuk”. Membuat ukiran ini pun tak sembarangan, karena si pengukir harus mendapatkan semacam “wangsit” dari para tetua. Ketika saatnya “wangsit” datang, maka si tetua akan memanggil roh leluhur dan merasukkannya ke tubuh si perajin. “Hanya dalam kondisi seperti itulah motif Ken Hung bisa dibuat,” cerita Pak Lung.

Selain motif-motif tersebut, sebenarnya masih banyak motif lain yang dimiliki oleh suku Wehea, namun dua motif utama tadi memang motif yang memiliki kisah dan sejarah yang unik dan sakral. Sayangnya, saat ini, kata Pak Lung, belum banyak anak-anak muda di desanya yang mau menekuni seni ukir yang bernilai tinggi ini.

Saat ini di Nehas Liah Bing, hanya terdapat tiga orang perajin ukiran yang aktif dan mampu membuat ukiran ini. “Usia mereka rata-rata sudah di 50 tahun ke atas,”ujar Pak Lung.

Karena itu, dia pun kemudian mencanangkan program regenerasi perajin ukiran khas Wehea. Ada 10 orang anak muda berusia 10 tahun sampai 17 tahun yang merupakan anggota “Kelang Tegai” atau pengawal kepala suku, yang diikutkan pelatihan membuat ukiran khas Wehea. “Dari jumah itu ada tiga anak yang sangat berbakat dan sudah mampu mandiri, setelah mendapatkan pelatihan selama 1 tahun,” ujarnya.

Meski begitu, tetap saja para perajin kewalahan menerima pesanan. Karena dalam sehari untuk gagang mandau saja bisa datang 2-3 orde pesanan. Sementara untuk membuat satu kiran motif “Ding Wang Loh” misalnya, memerluka waktu satu tahun. “Terlebih perajin memang mengerjakannya saat tengah rehat berladang,” ujar Pak Lung.

Namun yang menggembirakan, anak-anak muda yang dilatih pihak desa ini, juga mampu memproduksi ukiran yang memadukan motif khas Wehea dengan motif dayak lainnya. “Jadi lebih indah, namun tak meninggalkan ciri khas ukiran Wehea,” paparnya.

Kesulitan lainnya, adalah pada pembuatan alat pahat untuk mengukir. “Kta harus pintar mencari dan mengolah bahan besi agar tak terlalu keras atau terlalu lunak. Untuk mengukir di tulang, jika besi terlalu keras, tulang akan patah, kalau terlalu lunak akan cepat tumpul,” ujar Pak Lung.

Para perajin biasanya membuat alat pahat ini dari besi yang diambil dari jeroan mesin motor tempel. “Itu besi paling bagus kita sebut besi has tempel. Tetapi itu juga tak mudah, karena dari 10 alat ukir yang dibuat, biasanya yang benar-benar bagus hanya tiga,” pungkas Pak Lung.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *