Krisis Air Sawah Indramayu: Ini Hasil Investigasi Tim Kementerian Pertanian | Villagerspost.com

Krisis Air Sawah Indramayu: Ini Hasil Investigasi Tim Kementerian Pertanian

Lahan sawah yang mengalami puso alias gagal panen di Losarang Indramayu akibat krisis air (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Indramayu, Villagerspost.com – Kondisi krisis air sawah di empat kecamatan di Indramayu, membuat Kementerian Pertanian (Kementan) menurunkan timnya untuk menginvestigasi penyebab dan dampak dari peristiwa ini. Kementan menurunkan tim dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian untuk memeriksa kondisi pengairan, terutama di wilayah Kecamatan Losarang dan Kecamatan Kandang Haur. Investigasi ini sendiri sudah dilaksanakan sejak tanggal 9 Juli lalu.

Pihak Kementan dibantu aparat dari dinas pertanian, Kodim 0616/Indramayu dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggrung serta kelompok tani. Dari hasil investigasi itu tim Kementan mengungkap beberapa fakta penting yang diduga menjadi penyebab utama kekeringan.

Pertama, tim investigasi menemukan, adanya pengaruh antara dijadikannya Bendung Rentang sebagai ajang pelaksaaan lomba dayung di Se Games 2018 dengan peristiwa ini. Untuk kepentingan itu, aliran air dari Bendung Rentang memang dihentikan sementara. “Pada tanggal 21-29 Juni 2018 aliran air dari Bendung Rentang diberhentikan sementara dalam rangka membangun infrastruktur yang diperlukan untuk kegiatan Asian Games,” ungkap laporan tersebut seperti tertera dalam dokumen hasil investigasi yang diterima Villagerspost.com, Senin (16/7).

Meski demikian, tulis laporan itu, saat ini air dari Bendung Rentang sudah dialirkan kembali secara normal dengan debit sebesar 66,47m3/detik. Kedua, laporan tersebut mengungkapkan, kekeringan di Indramayu diperparah dengan pengaturan alokasi air yang tidak merata. “Didapati masyarakat/petani yang memompa air dari saluran sekunder secara ilegal, yang mempengaruhi debit air pada Lokasi yang berada di hilir,” ungkap laporan tersebut.

Tim merekomendasikan, perlunya pengawalan pada tiap bangunan bagi, terutama untuk upaya penyelamatan tanaman pada lahan lahan bagian hilir yaitu Kecamatan Losarang dan Kecamatan Kandang Haur. Ketiga, yang juga berkontribusi pada kekeringan di Indramayu adalah, bangunan air pada sebagian titik, kondisinya sudah tidak layak.

“Profil saluran sekunder yang menyempit pada bangunan Siphon dan kondisinya banyak sampah di BT 16a. Aliran air dari Bendung Rentang untuk mencapai Kecamatan Kandang haur akan melewati titik ini,” ungkap laporan tersebut.

Kemudian, ada sedimentasi pada saluran primer dan sekunder mempengaruhi jumlah debit air yang digelontorkan dari Bendung Rentang. “Kegiatan pemeliharaan saluran belum dapat dilaksanakan, karena akan dilaksanakan kegiatan modernisasi saluran irigasi oleh Kementerian PUPR,” tegas laporan tersebut.

Faktor keempat adalah, belum maksimalnya volume air di Bendung Cipanas. Hasil invenstigasi mengungkapkan, kondisi volume air yang tertampung di Bendung Cipanas (suplai dari Bt. 15) untuk pengairan lahan sawah di Kecamatan Losarang kondisinya masih belum maksimal. Kelima, distribusi air dari Bt. 1 tidak sampai ke Bt. 21.

“Kondisi bangunan air Bt. 21 yang merupakan ujung saluran untuk menyuplai air ke Kecamatan Kandang Haur kering. Distribusi air dari Bendung Rentang melalui saluran induk barat Cipelang yang dimulai dari Bt. 1 tidak sampai ke saat ini belum sampai ke Bt. 21. Informasi menyebutkansudah hampir 30 hari tidak ada suplesi air untuk wilayah ini,” tulis laporan tersebut.

Dari hasil investigasi itu juga terungkap dampak dari krisis air sawah di Indramayu yang sudah berlangsung nyaris sebulan ini. Dari pantauan di wilayah Desa Karang Mulya, Kecamatan Kandang Haur, diketahui terdapat 320 hektare lahan sawah yang terancam kekeringan. “Kondisi tanaman yang terancam kekeringan rata rata berumur 60 hari. Kondisi saluran irigasi kering, tidak ada suplai air dari hulu selama 30 hari. Kebutuhan air tanaman hanya dari air hujan, yang saat ini sudah tidak ada hujan,” ungkap laporan tersebut.

Melihat kondisi ini, tim merekomendasikan agar segera dilakukan mengingat tanaman padi akan memasuki fase keluarnya malai. “Kondisi kelompok tani sudah mulai frustasi dengan keadaaan ini, sehingga perlu untuk diprioritaskan penanganan irigasi pada wilayah ini,” tegas laporan itu. Penyelamatan juga penting mengingat produktivitas sawah di wilayah ini cukup tinggi yaitu bisa mencapai 7 ton per hektare.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *