Mencari Dalang Pembunuhan Salim Kancil | Villagerspost.com

Mencari Dalang Pembunuhan Salim Kancil

Tambang pasir besi di Lumajang, Jawa Timur. Polisi diminta ungkap dalang pembunuhan Salim Kancil dan penganiaya Tosan terkait konflik tambang ini. (dok. ironsandlumajang.blogspot.com)

Tambang pasir besi di Lumajang, Jawa Timur. Polisi diminta ungkap dalang pembunuhan Salim Kancil dan penganiaya Tosan terkait konflik tambang ini. (dok. ironsandlumajang.blogspot.com)

 

 

Jakarta, Villagerspost.com – Perjuangan Salim Kancil (46) petani asal desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur dalam menentang aktivitas pertambangan pasir besi yang merusak lingkungan desanya harus berakhir tragis. Salim tewas dibunuh secara sadis oleh 30-an orang yang diduga adalah kelompok pro pertambangan di depan umum tanpa bisa dicegah siapapun termasuk aparat kepolisian.

Selain Salim, ada juga rekannya Tosan yang ikut dianiaya sehingga mengalami luka-luka berat dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Peristiwa yang terjadi di pagi hari tanggal 26 September, merupakan peristiwa luka yang mendalam bagi pejuang melawan tambang. Lebih ironis karena pembunuhan Salim dan penganiayaan atas Tosan terjadi tepat dua hari setelah Indonesia merayakan Hari Tani yang jatuh pada tanggal 24 September.

Ketua Bidang Penggalangan dan Partisipasi Publik, DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Misbachul Munir mengatakan, sebelum peristiwa ini terjadi, sudah sejak lama warga diintimidasi oleh Kepala desa serta kroni-kroninya karena melawan tambang.

“Fakta ini menunjukkan betapa petani di pesisir Selok Awar-Awar telah dirampas ruang hidupnya sekaligus dicabut nyawanya secara paksa,” kata Misbachul dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Villagerspost.com, Selasa (29/9).

Dia mengatakan, publik harus tahu, bahwa, kegiatan penambangan pasir besi di pesisir di Lumajang dan Selatan Jawa lainnya merupakan pelanggaran dan perbuatan melawan hukum. Sejak tanggal 16 Juni 2011 silam, melalui Putusan Mahkamah Konstitusi No.3/PUU-VII/2010 tentang uji materi UU No. 27 Tahun 2007, Mahkamah Konstitusi telah membatalkan beleid yang mengatur tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil itu.

Khususnya menyangkut pembatalan pasal-pasal Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) yang melarang praktik pengkaplingan atau pravitisasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Penambangan itu juga merupakan pelanggaran atas Pasal 35 (i) UU tersebut yang didalamnya menyatakan, dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, setiap orang secara langsung atau tidak langsung dilarang melakukan penambangan pasir pada wilayah yang apabila secara teknis, ekologis, sosial, dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan Masyarakat sekitarnya.

“Oleh karenanya, kami Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia turut berbelasungkawa dan duka yang mendalam sekaligus rasa keprihatinan atas terjadinya peristiwa ini. Bagi kami, peristiwa ini menambah daftar panjang kejatahan pertambangan di Indonesia,” tegas Misbachul.

Dia mengatakan, petani menjadi salah satu aktor yang kerap menjadi korban. Oleh karena itu, KNTI mengutuk keras peristiwa ini dan meminta pemerintah untuk segera melakukan beberapa hal. Pertama, meminta kepolisian dan pihak terkait lainnya mengusut secara tuntas pelaku pembunuhan dan penganiayaan sampai ke aktor intelektualnya. Kedua, menghentikan pertambangan pasir besi di Lumajang dan di pesisir selatan jawa, serta tempat lain di pesisir Indonesia yang berpotensi merusak lingkungan dan ruang hidup masyarakat.

Ketiga, meminta pemerintah untuk melindungi saksi dan korban lainnya demi kelancaran penyidikan. Keempat, pemulihan terhadap kerusakan kawasan pesisir sebagaimana fungsinya dan sebagai kawasan produktif bagi masyarakat pesisir

Kelima, kepada pemerintah provinsi Jawa Timur untuk segera mengkaji ulang Perda Jatim No.6/2012 tentang Rencana Kawasan Zonasi dan pulau-pulau kecil “Kami juga menyerukan kepada publik untuk turut mengawal terus kasus ini, agar tidak terjadi hal serupa di daerah lainnya yang masih berjuang melawan pertambangan,” ujarnya.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *