Mengatasi Kemiskinan Lewat Kolaborasi Antar Kampung | Villagerspost.com

Mengatasi Kemiskinan Lewat Kolaborasi Antar Kampung

Bupati Berau Muharram, S.Pd., MM., menghadiri acara penutupan program Lingkar Belajar Mandiri, Kalimantan Timur, Minggu (29/7) (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Bupati Berau Muharram, S.Pd., MM, mengatakan, kemiskinan masyarakat, khususnya di Kabupaten Berau bisa diatasi dengan baik jika semua pihak mau berkolaborasi, bekerjasama dan bersinergi. “Dulu semangatnya satu kampung satu produk unggulan, itu sekarang saya pikir nggak laku lagi, sekarang jamannya kolaborasi beberapa desa, majukan satu produk unggulan agar produksi maksimal, pembeli menilai layak dan datang, bisa ekspor dan bankable untuk peningkatan produksi,” ujarnya saat menutup kegiatan Lingkar Belajar Mandiri Kalimantan Timur, di aula SMKN 3 Berau, Minggu (29/7).

Muharram mengungkapkan, dalam forum kerjasama antara Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemedesa PDTT) bersama bupati dan walikota se-Indonesia, Kabupaten Berau mengajukan tiga komoditas unggulan yaitu coklat, lada dan jagung. Untuk coklat, bahkan sudah ada kerjasama dengan swasta, dimana nantinya pidah kabupaten akan mendata berapa desa yang memiliki potensi coklat di Berau.

“Kita kumpulkan se-kabupaten Berau ada berapa hektare, misalnya sekian ribu hektare untuk potensi pengembangan coklat, nanti perusahaan akan membina bisa berupa pemberian bantuan bibit, pupuk atau pelatihan sehigga nanti ketika merasa ada potensi besar di Berau, mereka juga yang membeli hasilnya,” ujarnya.

Demikian pula dengan potensi komoditas lada. Dia berharap turunnya harga lada dari skeitar Rp150 ribu per kilogram menjadi sekitar Rp60 ribu, tidak membuat petani meninggalkan komoditas lada. “Meski turun sebenarnya secara keekonomian masih tidak merugikan, tetap untung jadi jangan langsung berhenti, potensi ini kita catat, kepala kampung nanti akan mendata,” paparnya.

Untuk potensi jagung, di Berau juga akan dibangun peternakan ayam skala besar sehingga nantinya produksi jagung di Berau tidak perlu dijual ke luar daerah. “Jika volume produksi mencukupi akan dibangun pabrik pakan ternak,” jelas Muharram.

Karena itu untuk mensukseskan ini, Muharram meminta agar kepala-kepala dinas bisa menggerakkan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan bersinergi dengan program Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan yang diinisasi The Nature Conservancy (TNC). Dia juga meminta agar berkolaborasi dengan 3000-an petani yang telah dibina hingga mahir melakukan budidaya coklat dan lada. “Saya yakin dengan potensi yang dimiliki kita akan bisa menyejahterakan masyarakat, tidak pas kalau masih ada desa tertinggal atau masyarakat yang miskin,” ujarnya.

Muharram mengingatkan, tujuan adanya negara dan pemerintahan dari level negara hingga ke kabupaten, kecamatan, desa dan kampung tidak lain adalah untuk menyejahterakan rakyat. “Kita hadir di sini, di forum LBM dengan bingkai pemikiran yang sama, mencari ide, gagasan, bertukar pikiran agar desa bisa mandiri dan maju,” katanya.

Dari forum Lingkar Belajar Mandiri ini, kata Muharram, dia yakin, para utusan dari 99 desa se-Kaltim yang hadir memiliki ide dan gagasan yang brilian untuk bisa ditindaklanjuti bersama di desa masing-masing. “Ini harus di tindaklanjuti dengan aksi karena tidak ada gunanya pertemuan tiga hari ini, akan sia-sia kalau tidak ditindaklanjuti sesuai kesepakatan, mari kita implementasikan,” ajaknya.

Sebagai pimpinan daerah, kata Muharram, dia mendorong dengan kebijakan seperti misalnya mendorong dana desa dan alokasi dana kampung (ADK) agar turun ke kampung. Jumlahnya pun, kata Muharram tidak dipangkas, dan diberikan penuh. “Ini saya komitmen karena sebaran penduduk kita terbesar ada di desa dan di desa masih banyak ketertinggalan dari sisi infrastruktur, banyak kantong kemiskinan, dan ketertinggalan.

“Maka saya pikir sangat logis kalau saya paksakan dana itu harus utuh dengan catatan kepada pak camat dan kepala kampung, penyalurannya harus tepat sasaran,” tegasnya.

“Saya Bupati saya serius mikirkan desa, saya berharap bapak-bapak kepala kampung harus lebih serius lagi, saya ingin dengan dana-dana ini, setelah 1-2 tahun terlihat perubahannya berupa peningkatan kemandirian masyarakat,” tambah Muharram.

Tahun ini, kata dia, pihak kabupaten akan menganggarkan dari APBD sebesar Rp300 juta untuk pemodalan usaha Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). “Supaya ada ruang bagi masyarakat kreatif di bidang ekonomi, silakan kelola uang itu untuk usaha masyarakat,” ujar Muharram.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Berau Jauhar Effendi mengusulkan agar tahun depan kegiatan LBM ini ditingkatkan lagi dengan menggelar jambore LBM. “Nanti di situ ada berbagai lomba, kompetisi, kalau bisa dimulai di Berau, nanti bergilir pindah ke kabupaten lain, saya kira inspirasinya ini akan luar biasa, barangkali nanti bisa dikolaborasikan dengan PKK, PKK saja punya jambore, masa ini 841 desa dan kampung tidak menyelenggarakan jambore?” ujarnya.

Acara Lingkar Belajar Mandiri itu sendiri ditutup dengan pembacaan komitmen bersama yang dibacakan oleh perwakilan peserta yaitu Siti Salma dari Desa Batu-Batu dan Salim Yusuf dari Desa Biduk-Biduk. Ada tiga poin komitmen para peserta yang dibacakan. Pertama, meletakkan semangat pembangunan hijau dan prinsip-prinsip pembangunan ramah lingkungan sebagai dasar pembangunan kampung demi generasi saat ini dan akan datang.

Kedua, berbagi pengalaman dan saling belajar antar kampung dalam: perbaikan administrasi kampung, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, pengembangan ekonomi melalui BUMDEs. Ketiga, membangun kerjasama antar kampung dalam memajukan usaha-usaha ekonomi kampung untuk peningkatan kesejahteraan bersama.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *