Mengenal Dusun Gantang, Dusun Berdikari Ekonomi Lewat Arisan (Bagian I) | Villagerspost.com

Mengenal Dusun Gantang, Dusun Berdikari Ekonomi Lewat Arisan (Bagian I)

Lahan perladangan kering di Dusun Gantang (dok.krkp)

Lahan perladangan kering di Dusun Gantang (dok.krkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Dusun Gantang, Desa Gantang, Kecamatan Sawangan terletak di lereng Gunung Merbabu, Magelang, Jawa Tengah. Mayoritas masyarakat di sana bermata pencaharian sebagai petani. Pada musim penghujan, mereka akan membudidayakan cabai, bunga kol, mentimun dan jagung secara tumpangsari. Sementara di musim kemarau, budidaya tembakau menjadi pilihan.

Sebagai petani, malangnya, penduduk Gantang tidak bisa mengandalkan sungai yang mengalir terus menerus sepanjang persawahan Kecamatan Sawangan, lantaran posisi geografisnya, meski di sana terdapat sistem irigasi. “Bagaimana tidak, ladang penduduk Gantang tidak dialiri air irigasi karena berada di atas sungai,” ungkap Wiyoto, Kepala Dusun Gantang lewat siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (3/3).

Terlebih di musim kemarau, masyarakat Gantang akan memanfaatkan air rumah tangga yang disalurkan dari mata air Sungai Sarangan, lereng Merbabu untuk mengairi ladang-ladang mereka.

Dari 177 Kepala Keluarga (KK) Dusun Gantang, rata-rata luas kepemilikan tanah setiap KK sekitar 0,1 hektar. Dengan luasan tersebut, petani akan memperoleh uang senilai Rp5 juta dari hasil menjual daun tembakau basah dan Rp3 juta dari hasil menjual cabai dan bunga kol. Sementara jagung tetap disimpan di rumah sebagai persediaan musim paceklik.

Selain bertani, masyarakat Gantang juga memanfaatkan waktu senggang di sela mengolah ladang untuk bekerja sebagai buruh tani. “Dari pada menganggur, lebih baik menjadi buruh setelah ladang sendiri selesai digarap,” ungkap Tuwar, salah seorang warga Dusun Gantang.

Dengan uang dari memburuh inilah para petani memperoleh pendapatan tambahan. Bagi masyarakat petani Gantang, pendapatan dari bertani ataupun buruh tani belum mencukupi kebutuhan harian rumah tangga yang selalu meningkat tiap tahunnya. Kondisi tersebut kian diperparah dengan kerentanan petani Gantang mengalami gagal panen.

Pada akhir tahun 2010 lalu misalnya, para petani tak bisa memanen tanaman cabai yang ada di ladang karena hujan abu dan pasir dari erupsi Merapi. Saat itu tak ada satupun tanaman yang bisa diselamatkan, akhirnya petani Gantang pun merugi hampir seratus persen. “Saat itu kita tanah kita tidak bisa ditanami selama enam bulan,” ungkap Tuwar.

Lebih ironis, karena penduduk Gantang bukan pengungsi maka bantuan pemerintah pun tidak mengakomodir kebutuhan mereka. Korban Merapi non pengungsi sulit dibantu karena terkendala aturan perundang-undangan, demikian alasan Badan Nasional Penangggulangan Bencana ketika itu.

Situasi ini menyadarkan petani Gantang bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan, bahkan pada kondisi terjepit, mereka harus berjuang sendiri. Kesimpulan ini memang tidak dipelajari dari satu kejadian saja. Ada beberapa pengalaman yang membuat penduduk Dusun Gantang merasa tidak percaya terhadap keberpihakan pemerintah.

Pak Suwar, warga Dusun Gantang dan Ketua Kelompok Tani Lestari, menceritakan bahwa pada 2008 lalu ada bantuan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) ke Gabungan Kelompok Tani Desa Gantang, namun dana tersebut tidak pernah sampai ke kelompok. Jauh sebelumnya pada era tahun 1990-an ada dana senilai Rp1,5 juta yang diperuntukkan bagi Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa (Kelompencapir) Desa Gantang, namun dana itu juga raib.

Bagi masyarakat Gantang, pengalaman tersebut memang memberi dampak pada hilangnya rasa percaya terhadap pengampu kebijakan. Merasa tak ada teladan yang baik, beberapa penduduk Gantang berinisiatif untuk membuat kelompok dan mencoba mengolah modal yang dapat diperoleh di lingkungan mereka. “Kita, orang-orang kecil, juga ingin memberi contoh bagi orang-orang besar (pejabat desa),” ungkap Suwar.

Dilandasi semangat tersebut, maka terbentuklah Kelompok Tani Lestari pada November 1999. Tidak seperti kebanyakan kelompok yang lahir karena intervensi program, Kelompok Tani Lestari justru hadir sebagai kebutuhan masyarakat Gantang. Tidak ada serupiah pun bantuan dari ‘luar’ diterima oleh mereka.

Arisan Tenaga Masyarakat Gantang

Pada awal tahun 2000-an, sepuluh orang anggota Kelompok Tani Lestari berkomitmen untuk mengumpulkan modal dengan melakukan arisan tenaga. Untuk meraih tujuan ini, kelompok bersepakat bahwa setiap minggu para anggota wajib mempekerjakan tenaganya agar kas kelompok terisi.

Pada tahun 2000, setiap orang menyisihkan Rp3000 jika anggota bekerja di luar kelompok dan Rp1000 jika anggota bekerja untuk anggota kelompok. Kerja yang dilakukan antara lain mencangkul ladang dan mengangkut pupuk kandang, dari kandang ternak rumah ke ladang. Selain melakukan kerja untuk pengisian kas kelompok, para anggota juga melakukan pertemuan rutin tiap selasa pon dengan membawa uang senilai Rp500.

Semangat anggota kian menggebu-gebu ketika mereka memperoleh bantuan satu kambing dari Romo Wahyo, salah seorang pemuka agama di sana, pada tahun 2001. Sejak saat itu, para anggota kian terpacu untuk mencarikan modal bagi kelompok. “Harapannya kambing satu bisa jadi sapi satu,” ungkap Wiyoto, sang kepala dusun yang juga menjadi anggota Kelompok Tani Lestari.

Tabel 1: Perguliran pertama kambing Kelompok Tani Lestari

Perawat kambing Harga beli kambing Harga jual kambing Modal kelompok Keuntungan bersih
Kelompok Perawat kambing
Sihono 200.000 396.000 200.000 96.000 100.000
Giyono Bantuan 340.000 Bantuan 126.000 214.000

Namun proses kambing menjadi sapi bukanlah sesuatu yang instan. Dalam waktu hampir satu tahun, para anggota Kelompok Tani Lestari mampu mengisikan kas sebesar Rp200.000. “Dana itu tidak berani disimpan dalam bentuk uang, maka kelompok memutuskan untuk membeli anakan kambing,” demikian ungkap Suwar.

Karena pembelian kambing sekaligus hibah Romo Wahyo, maka pada 2001 Kelompok Tani Lestari sudah memiliki dua kambing. Selanjutnya, kelompok akan menggaduhkan (memelihara dengan sistem bagi hasil dari investor) kambing kepada anggota. Kambing pertama, yang diperoleh dari Romo Wahyo, digaduh oleh Pak Giyono, dan kambing kedua digaduh oleh Pak Sihono. Selanjutnya dua kambing tersebut akan dirawat hingga besar dan dijual saat harga kambing naik, biasanya menjelang Idhul Adha atau biasa dikenal sebagai Besaran.

Seperti halnya kelompok arisan, tiap periode tertentu kelompok-kelompok di Dusun Gantang ini akan mengundi nama anggotanya. Demikian pula dengan Kelompok Tani Lestari yang mengundi nama anggota tiap satu tahun sekali. Dari tabel tersebut tampak bahwa dengan undian gaduh putaran pertama, kelompok memperoleh keuntungan bersih Rp222.000 dan modal kelompok yang kembali Rp200.000.

Selama proses menggaduh, para anggota tetap melakukan arisan tenaga setiap minggu. Menurut Suwar, dari kegiatan tersebut kelompok mampu membeli kambing dan menggaduhkan kepada kelompok setiap tahun. “Setiap tahun kelompok mampu membeli satu ekor kambing anakan,” tambahnya.

Tabel 2: Perguliran sapi Kelompok Tani Lestari

Tahun Modal kelompok Perawat sapi Harga beli sapi Harga jual sapi Keuntungan bersih
Kelompok Perawat sapi
2007 5.500.000 Sudadi 5.500.000 7.000.000 750.000 750.000
600.000 Arisan tenaga
2008 7000.0000 Suwoto 3.500.000
Sihono 3.500.000
Arisan tenaga
2009 Sihono
Sarno
Wiyoto

Kemudian saat kambing yang sedang digaduh sudah terkumpul lima ekor, maka kelompok memutuskan menjualnya untuk segera ditukar dengan pedet. Semua bermula dari keinginan petani Gantang untuk membeli sapi. Bagi mereka sapi merupakan satu-satunya aset petani yang dapat berkembang.

Biasanya para petani Gantang akan melakukan penggemukan sapi. Paling tidak jika dalam satu tahun mereka memelihara satu sapi dan menjualnya, maka keuntungan sebesar Rp2 juta ada di tangan. Akan tetapi, sapi pun bisa menjadi barang mewah bagi petani Gantang. Bagi sebagian besar petani yang juga buruh tani, membeli sapi menjadi keniscayaan.

Hal ini dialami juga oleh Pak Suwar, baginya menyisihkan uang senilai RP3,5 juta hingga Rp5 juta untuk membeli anak sapi merupakan hal berat. Beruntung Pak Suwar memperoleh modal dari perguliran sapi yang dikelola secara kelompok itu.

Modal perguliran sapi diperoleh dari penjualan lima kambing, ditambah dana dari arisan tenaga tiap minggu, maka terkumpul lah uang sebesar Rp5,5 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk pembelian pedet mosin atau anak sapi unggulan, sebanyak satu ekor.

Lantas melalui undian sapi pertama, pedet tersebut digaduh oleh Sudadi. Dalam satu tahun pedet menjadi sapi dan dapat dijual dengan harga Rp7 juta. Sembari pedet digemukkan oleh penggaduh, anggota kelompok tetap melakukan arisan tenaga dan mengumpulkan uang. (Bersambung)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *