Mengenal Dusun Gantang, Dusun Berdikari Ekonomi Lewat Arisan (Bagian II-Habis) | Villagerspost.com

Mengenal Dusun Gantang, Dusun Berdikari Ekonomi Lewat Arisan (Bagian II-Habis)

Wakijo, Bendahara Kelompok Tani Lestari, menunjukkan rekap data perguliran Kelompok Tani Lestari (dok. krkp)

Wakijo, Bendahara Kelompok Tani Lestari, menunjukkan rekap data perguliran Kelompok Tani Lestari (dok. krkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Pengalaman Kelompok Tani Lestari memang tak selalu berjalan mulus. Musibah juga pernah dialami oleh mereka pada tahun 2008 dan 2009. Saat itu pedet yang sedang digaduh oleh Sihono, salah satu anggota Kelompok Tani Lestari, hampir mati karena terserang penyakit.

Walau sapi sudah diobatkan ke mantri, namun tidak juga sembuh maka keputusan kelompok adalah sapi dipotong. Lantas daging sapi dibagikan ke seluruh anggota kelompok. “Kami tidak berani menuntut ganti rugi ke penggaduh karena memang bukan salah dia,” tutur Wiyoto kepala dusun Gantang lewat surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Kamis (5/3).

Kematian sapi untuk kali kedua membuat para petani belajar. Mereka jadi paham bahwa perguliran sapi untuk kelompok memang cukup berisiko. Risiko pertama, setiap anggota harus mengembalikan dana pembelian pedet yang berbeda-beda. Kedua, jumlah bagi hasil dari keuntungan antara kelompok dengan penggaduh kurang menguntungkan.

Hal ini mengakibatkan penggaduh, yang merupakan anggota kelompok, kesulitan untuk menambah modal. Atas alasan itulah maka pada tahun 2010 Kelompok Tani Lestari memilih untuk memutarkan undian arisan modal berupa uang. Undian berupa uang ini dilakukan setiap tahun pada bulan Agustus.

Modalnya berasal dari hasil pengembalian dana sapi dan keuntungan bagi hasil dengan penggaduh. Modal untuk perguliran uang pertama dilakukan pada tahun 2010, dengan dana senilai Rp14.850.000. Perguliran pertama diberikan kepada empat orang penerima, tiga diantaranya memperoleh Rp4.000.000. Sementara satunya memperoleh Rp2.850.000.
Disepakati oleh anggota kelompok, bahwa setiap penerima perguliran dana senilai Rp4 juta, maka pada masa pengembalian akan menyerahkan uang Rp4,5 juta. Maka dengan menggunakan uang senilai Rp16.650.000, pada perguliran berikutnya dalam satu kelompok bisa ada empat orang yang menerima.

Tabel 3: Perguliran pinjaman modal Kelompok Tani Lestari 2010

Nama penerima Jumlah yang diterima Jumlah pengembalian
Suwar Rp 4.000.000,- Rp 4.500.000,-
Sihono Rp 4.000.000,- Rp 4.500.000,-
Wiyoto Rp 4.000.000,- Rp 4.500.000,-
Sitras Rp 2.850.000,- Rp 3.150.000,-
Rp 14.850.000,- Rp 16.650.000,-

Kini dengan keberadaan dana bergulir tersebut, para petani Gantang yang tergabung dalam kelompok telah memiliki aset senilai Rp18.700.000. Melalui aset finansial tersebut, para petani bisa mengandalkan dana untuk kebutuhan-kebutuhan khusus seperti hajatan ataupun penambahan aset. Seperti yang telah dilakukan oleh Suwar, dengan menggunakan bantuan senilai empat juta tersebut ia bisa membenahi rumahnya.

Lain Kelompok Tani Lestari lain pula dengan Kelompok Buruh Tani. Kelompok ini lahir empat tahun setelah Kelompok Tani Lestari, yakni tahun 2004. Kelompok yang digawangi oleh para buruh tani juga menggunakan mekanisme arisan tenaga untuk mencarikan modal bagi kelompok.

Namun motivasi kelompok ini sedikit berbeda, karena merasa bahwa biaya untuk buruh semakin meningkat. Maka demi menekan pembiayaan untuk buruh tani, para petani kecil yang sekaligus buruh tani ini memilih untuk berkelompok. Harapannya dengan berkelompok, mereka bisa bergotongroyong mengerjakan ladang setiap anggota.

Jika upah buruh tani setiap hari, pukul 08.00–16.00, sebesar Rp25.000, maka untuk kelompok hanya membayar Rp25.000, untuk tarif anggota kelompok. Sementara tarif saat bekerja untuk orang di luar anggota kelompok dikenai biaya Rp240.000. Biaya tersebut dikenakan untuk 12 orang pekerja.

Tabel 4: Perguliran pinjaman modal Kelompok Tani Lestari 2011

Nama penerima Jumlah yang diterima Jumlah pengembalian
Sihono Rp 4.000.000,- Rp 4.500.000,-
Hadiwiyoto Rp 4.000.000,- Rp 4.500.000,-
Sarno Rp 4.000.000,- Rp 4.500.000,-
Warno Rp     650.000,- Rp       50.000,-
Suwar Rp 4.000.000,- Rp       500.000,-
Rp 16.650.000,- Rp 18.700.000,-

Lantas pendapatan dari buruh tersebut disimpan menjadi kas Kelompok Buruh Tani. Walau hanya bertujuan untuk mengurangi beban biaya buruh menggarap ladang, tetapi sedikit demi sedikit kelompok ini ingin berkembang. Setiap Selasa Pahing kelompok ini akan berkumpul. Layaknya sebuah arisan, saat berkumpul para anggota akan membawa uang Rp1.000 per orang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *